05 Jemaat di Sardis 01

Wahyu 3:1  “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! 

Wahyu 3:2  Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. 

Wahyu 3:3  Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. 

Wahyu 3:4  Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. 

Wahyu 3:5  Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. 

Wahyu 3:6  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

 

Jemaat Home CC di manapun berada, khusus untuk khotbah saya mengenai Jemaat di Sardis ini akan saya bagi menjadi 2 bagian, karena pada khotbah pagi ini saya akan khusus menjelaskan hanya pada Wahyu 3:1 saja, mengingat bahwa ayat ini seringkali disalahpahami dan dimaknai secara sembarangan, maka saya akan berusaha menjelaskan kepada jemaat Home CC agar dapat memahami dengan benar dan baik arti dari Wahyu 3:1 ini dan minggu depan akan saya sampaikan ayat ke 2 sampai 6.

Jemaat Home CC di manapun berada, pada masa lalu Sardis adalah ibukota dari kerajaan kuno Lydia, salah satu propinsi di Asia Kecil, dan terletak di kaki Gunung Tmolus, di dataran yang indah yang diairi oleh sungai Pactolus, yang terkenal dengan pasir emasnya. Sardis adalah ibukota di mana Raja Croesus yang terkenal karena kekayaannya, memerintah di sana. Kota Sardis saat ini ada di Provinsi Manisa di Turki.

Kota Sardis dulunya adalah kota perdagangan yang aktif dan sangat kaya. Karena kemudahan mendapatkan kekayaan dari kota ini, akhirnya membuat mereka terlena dan malas. Pada tahun 549 SM, kota ini direbut oleh raja Koresy dari Persia, dan oleh Antiochus pada tahun 218 SM. Sebenarnya merebut kota Sardis ini sangatlah sulit karena kota Sardis ini dibangun di atas sebuah bukit yang terjal dan sebenarnya hal ini membuat kota Sardis aman dari para musuh. Namun karena penduduk dan penjaga malas menjaga kota Sardis, maka pada suatu malam hari para musuh dan penyusup mendaki bukit terjal ini dan mengambil alih kota. Ini terjadi karena para penjaga yang malas menjaga kota dan terlalu percaya diri untuk tidak perlu menjaga kota mereka yang  ada di atas bukit terjal.

Itu adalah sekilas mengenai sejarah kota Sardis dan kita kita akan melihat ayat di Wahyu 3:1  “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!

Tidak mudah menerjemahkan arti dari ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang, namun saya akan mencoba untuk memberikan penjelasan akan hal ini. Di dalam kitab Wahyu ada banyak bilangan atau simbol angka 7 yang digunakan misalnya;

  1. 7 jemaat
  2. 7 roh Allah
  3. 7 bintang
  4. 7 kaki dian
  5. 7 meterai
  6. 7 sangkakala
  7. 7 guruh
  8. 7 cawan
  9. 7 kepala
  10. 7 ucapan berkat, dll

Ingat bahwa tidak semua angka-angka atau simbol-simbol dalam kitab Wahyu dapat diterjemahkan secara hurufiah. Kita juga harus mengerti bahwa Roh Allah tidak menduplikasi dirinya menjadi banyak allah atau banyak pribadi. Alkitab secara jelas mengatakan bahwa Allah itu Esa dalam 3 pribadi, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kalau demikian, sangat jelas bahwa ketujuh Roh Allah ini bukan berarti ada 7 Roh Allah dalam makna hurufiah.

Sebelum saya menjelaskan arti 7 Roh Allah di kitab Wahyu, ada baiknya kita melihat juga arti angka 7 di Matius 18:22  Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Bagi orang Yahudi, seringkali angka-angka tertentu memiliki makna khusus, seperti misalnya bagi orang Tionghoa, mereka tidak menggunakan angka 4 pada lift atau lantai pada bangunan, mereka juga tidak mau angka 13 pada nomor rumah, sebaliknya mereka sangat suka angka 8 karena diyakini dapat mendatangkan rejeki.

Demikian juga dengan orang Yahudi, angka 7 memiliki makna seperti 7 hari dalam 1 minggu, Allah berhenti pada penciptaan di hari yang ke-7, ada pula 7 perkataan di atas kayu salib, dan banyak lagi di kitab Wahyu seperti yang telah saya sebutkan di awal. Dan karena di Mat 18:22 Tuhan Yesus berkata kepada Petrus “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kalimaka sebenarnya Yesus ingin berkata kepada Petrus bahwa pengampunan itu harus total dan sempurna. Bila kita mengartikan 7 kali yang dimaksudkan adalah 7 hari dalam 1 Minggu, dan 70 kali yang dimaksudkan adalah 70 kali dalam 1 hari, maka Tuhan Yesus hendak mengatakan agar seseorang harus mampu mengampuni 70 kali dalam 1 hari. Kalau di breakdown dalam hitungan jam, maka setiap jam harus mengampuni sebanyak 70/24=2.9166 dan dibulatkan 3 kali. Artinya setiap jam harus dapat mengampuni sebanyak 3 kali kesalahan pada orang yang bersalah pada kita.

Tetapi apakah ada orang yang sama yang melakukan kesalahan yang sama kepada kita terus menerus setiap jam sebanyak 3 kali selama 24 jam dalam 1 hari dan 7 hari dalam 1 minggu? Pastilah tidak, namun seandainyapun ada yang demikian, maka kita harus mengampuninya. Hal ini membawa kita pada kesimpulan bahwa sebenarnya Yesus ingin berkata bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita seandainya ada yang melakukan kesalahan yang begitu banyak. Maka kita bisa mengartikan bahwa perkataan mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali adalah pengampunan yang tak terbatas atau pengampunan yang sempurna.

Demikian juga dengan arti ketujuh Roh Allah ini, tidak dapat diartikan secara hurufiah karena akan menabrak kebenaran yang lainnya mengenai kosep Tri Tunggal, bahwa Allah kita Esa dengan 3 pribadi. Maka setelah saya sampaikan dasar-dasar di atas, saya mengambil kesimpulan bahwa arti dari ketujuh Roh Allah ini bermakna kesempurnaan dari Roh Allah.

Jadi di Wahyu 3:1 kita dapat membacanya seperti ini; “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah atau Kesempurnaan.

Artinya adalah Allah yang sempurna ini ingin kita juga sempurna sekalipun tentu kita menjalani dan mengalami proses setiap hari dan pergumulan yang tidak mudah.

Kalau ketujuh Roh Allah adalah kesempurnaan, bagaimana dengan makna dari ketujuh bintang? Untuk hal ini kita bisa melihat di Wahyu 1:20  yang berbunyi demikian, “Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”

Kalau kita melihat di Wahyu 1:20, ternyata ketujuh bintang itu sudah dijelaskan dalam tulisan Yohanes sebagai penulis kitab Wahyu bahwa arti dari ketujuh bintang ini adalah malaikat pada 7 jemaat yang ada di kitab Wahyu ini. Sementara 4 minggu sebelumnya, yaitu di awal pembahasan ketujuh jemaat yang saya mulai dari jemaat di Efesus telah saya bahas bahwa arti dari malaikat yang dimaksudkan bukanlah malaikat sebagai makhluk surgawi, melainkan para pelayan Tuhan, atau penatua pada zaman itu.

Dasarnya adalah bahwa Yohanes diminta untuk menuliskan dalam sebuah kitab dan dikirimkan kepada tujuh jemaat, seperti dituliskan di Wahyu 1:10-11, Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, katanya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.” 

Bila kita membayangkan bahwa surat ini atau kitab ini benar-benar ditujukan kepada malaikat sebagai makhluk rohani, maka seharusnya Tuhan Yesus tidak perlu menyuruh Yohanes menuliskannya, namun Tuhan Yesus langsung saja mengatakan kepada para malaikatnya. Dan karena Tuhan Yesus menyuruh Rasul Yohanes untuk menuliskan dalam sebuah tulisan dan mengirimkannya, maka sudah pasti yang dimaksudkan bukanlah benar-benar malaikat sebagai makhluk rohani seperti yang kita pahami. Kata Yunani untuk malaikat memang dituliskan sebagai aggelos (ἄγγελος) atau dalam bahasa Inggris adalah angle, namun perlu kita ketahui bahwa aggelos dalam bahasa Yunani artinya adalah utusan Allah. Dan salah satu utusan Allah ini adalah malaikat yang adalah makhluk rohani. Selain malaikat sebagai makhluk rohani, para pemberita Injil juga disebut sebagai aggelos.

Misalnya di Mat 11:10  “Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku (yaitu Yohanes Pembaptis) mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.” Kata utusan-Ku tersebut, dalam bahasa Yunaninya adalah aggelos (ἄγγελος) atau dalam bahasa Inggris adalah angle. Jadi kita perlu pahami bahwa tidak selamanya kata malaikat diartikan benar-benar sebagai malaikat sebagai makhluk rohani atau surgawi.

Maka pada Wahyu 3:1 ini kita sebenarnya dapat membacanya seperti ini, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat (utusan / penatua )di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki “ketujuh Roh Allah” atau Kesempurnaan dan ketujuh bintang itu atau utusan / penatua dari ketujuh jemaat yaitu Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia.

Kalimat tersebut kemudian dilanjutkan dengan perkataan yang sangat keras dari Allah sendiri, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!.“ Tampaknya ini adalah peringatan yang sangat keras kepada jemaat di Sardis. Allah tahu semua apa yang dikerjakan oleh jemaat di Sardis. Allah mengatakan “Aku tahu segala pekerjaanmu”, ini menyiratkan bahwa Allah tahu semua apa yang sedang kita kerjakan, tahu bahwa kita sedang bergumul di dalam pekerjaan kita dan juga tahu akan ketahanan atau endurance kita terhadap masalah atau Allah juga tahu bagaimana jemaat hanya menjalankan rutinitas dalam ibadah atau hanya sekedar menjalankan kegiatan agamawi saja, tanpa ada rasa cinta lagi kepada Tuhan. Kita bisa mengatakannya dalam bahasa sekarang ini bahwa ini adalah Kriten KTP atau Kristen tanpa pertobatan.

Bila kita memahami dalam 1 kalimat di Wahyu 3:1 ini, maka sebenarnya Allah ingin berkata bahwa tulisan ini ditujukan kepada para penatua atau utusan Allah di Sardis, dan mereka ini diutus oleh Allah yang Sempurna. Allah yang sempurna ini memberikan pesan kepada utusan-Nya yaitu para penatua di 7 jemaat di Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia. Namun khusus kepada jemaat di Sardis ini, Allah berkata bahwa Ia tahu semua pekerjaan dari jemaat di Sardis bahwa mereka adalah jemaat yang tidak sungguh-sungguh di dalam Tuhan, mereka mati rohaninya dan sama sekali jauh dari sempurna, tidak seperti Allah yang sempurna.

Dalam pandangan Tuhan, dengan jelas terlihat bahwa sekalipun jemaat di Sardis ini hidup secara fisik, melakukan semua aktifitas kerohanian, melakukan pekerjaan sehari-hari bahkan mungkin juga pelayanan di jemaat, namun ternyata ketika Tuhan melihat sampai pada kedalaman hati mereka, ternyata kerohanian mereka tertidur atau mati sama sekali. Hal ini sama persis seperti para penduduk di Sardis yang karena kekayaannya mereka, membuat mereka lengah dan merasa tidak perlu menjaga kota Sardis dengan baik, sehingga hal ini membuat musuh dapat memasuki kota Sardis dan mengalahkan penduduk Sardis.

Jemaat di Sardis tidak memiliki rasa cinta kepada Allah lagi, mereka tidak memiliki gairah dalam beribadah, iman mereka telah mati karena tawaran dunia di sekitar mereka begitu kuat dan menggiurkan untuk memuaskan keinginan daging mereka.

Karena itulah Allah memberikan peringatan agar jemaat Sardis tidak mengalami seperti para penduduk lain yang karena kekayaannya, mereka terlena, mereka tidak menjaga kota, mereka merasa hebat, merasa aman, dsb. Allah ingin agar jemaat di Sardis terus menjaga kerohanian mereka dan terus mengasihi Allah.

            Jemaat Home CC di manapun berada, dari Wahyu 3:1 ini kita ada hal-hal yang dapat saya simpulkan;

  1. Setelah panjang lebar saya menjelaskan mengenai arti dari ketujuh Roh Allah, maka sekali lagi saya sampaikan bahwa arti dari ketujuh Roh Allah adalah kesempurnaan dari Allah, dan karena Allah adalah Allah yang sempurna maka kita juga diminta untuk menjadi sama seperti Allah yang sempurna. Mat 5:48  mengatakan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Kesempurnaan tentu melalui proses jatuh bangun dalam kehidupan yang tidak mudah, namun kita memiliki Roh Allah yang sempurna di dalam diri kita yang pasti akan membantu menolong kita dalam setiap kesulitan yang kita hadapi setiap harinya.

  1. Tulisan yang diberikan kepada para penatua atau para utusan Allah untuk jemaat di Sardis memperlihatkan bahwa Allah tahu semua persoalan dan permasalahan atau pergumulan jemaat di Sardis. Bagaimana mereka menghadapi tawaran dunia yang luar biasa hebat pada masa itu. Namun sayang sekali bahwa banyak di antara jemaat di Sardis yang lebih memilih untuk menikmati kenikmatan duniawi dan akhirnya membuat kerohanian mereka mati.

Tentu ini peringatan bagi kita semua agar kita tidak menjadi sama seperti jemaat di Sardis, kita harus terus melekat kepada Allah dan mengasihi-Nya dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam kehidupan pelayanan.

  1. Kita melihat ada kasih Allah kepada jemaat di Sardis, bahwa sekalipun jemaat ini hanya melakukan kegiatan jasmani saja dalam peribadahan, tidak ada cinta dalam ibadah dan kepada Tuhan, namun Allah masih memberikan peringatan kepada jemaat di Sardis ini.

Demikian juga dengan diri kita, ketika kita mendengar hal ini, dan mungkin salah satu dari jemaat Home CC yang telah kehilangan cinta kepada Tuhan, seperti tulisan yang ditujukan kepada jemaat di Sardis, maka khotbah ini ditujukan kepada saudara agar bisa kembali lagi kepada Allah yang mengasihi saudara. Bertobatlah selagi ada waktu dan berbaliklah kembali kepada Allah! Amin.

Ps Jimmy Lizardo