07 Jemaat di Laodikia

Rev 3:14  “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: 

Rev 3:15  Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 

Rev 3:16  Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 

Rev 3:17  Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 

Rev 3:18  maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 

Rev 3:19  Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! 

Rev 3:20  Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 

Rev 3:21  Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 

Rev 3:22  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” 

 

 

Jemaat Home CC di manapun berada, sebelum saya memberikan pembahasan yang lebih mendalam, kita perlu ketahui latar belakang kota Laodikia. Laodikia merupakan kota yang memiliki kandungan emas yang berlimpah, dan kota ini pada zaman Romawi adalah kota terkaya di Phrigia hingga membuatnya menjadi pusat keuangan. Kota Laodikia ini menghasilkan wol yang sangat baik karena tanahnya yang subur membuat rumput tumbuh lebat dan subur sehingga domba-domba di sini hidup dengan sangat baik. Bahkan di Laodikia ini juga terkenal dengan sekolah medis dan banyak ahli-ahli yang menemukan obat-obatan hebat, khususnya saleb obat mata.

Pada tahun 60 M, tercatat ada gempa bumi dahsyat yang menghancurkan kota ini. Laodikia seharusnya mendapatkan bantuan finansial dari pemerintah Romawi. Namun ketika ditawari bantuan finansial, para penatua kota itu menyatakan bahwa mereka memiliki sumber dana lebih dari cukup dan tidak perlu disokong sama sekali. Mereka bahkan ikut menyumbang untuk pembangunan kembali kota-kota di sekitar mereka yang hancur akibat gempa dahsyat itu.

Jemaat Home CC di manapun berada, setelah saya sampaikan latar belakang kota Laodikia ini, saya akan sampaikan penjelasan ayat demi ayat. Why 3:14  “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan AllahKalau kita membaca ayat ini, dan dikatakan inilah firman dari Amin,  maka dengan jelas kita bisa katakan bahwa arti dari Amin ini adalah menunjuk pada pribadi Tuhan Yesus sendiri. Sungguh menarik ketika kita mengetahui bahwa ketika kata “Amin” muncul sebanyak 9x, hanya kata Amin di ayat inilah yang merujuk kepada pribadi Tuhan Yesus saja. Menurut Pulpit commentary, arti dari Amin yang menjadi gelar bagi Kristus adalah Kristus sebagai “The True One” atau Yang Benar atau Yang Sejati.

Lalu kalimat tersebut disambung bahwa Tuhan Yesus adalah “saksi yang setia dan benar”. Kalimat ini tentu untuk mendukung kalimat sebelumnya bahwa Kristus adalah Amin. Kristus adalah Amin, atau “The True One” atau Yang Benar atau Yang Sejati, dan karena itulah Ia setia dan kesaksian-Nya benar adanya. Kalimat ayat yang baru saja saya bacakan tentu dapat kita terima dengan baik, namun kalimat terakhir ini sangat membingungkan kita semua, mengapa dikatakan bahwa Tuhan Yesus adalah “Permulaan dari Ciptaan Allah”? Paham Arianisme mempercayai bahwa Yesus adalah ciptaan pertama dari Allah Bapa dan tentu saja hal ini bertentangan dengan iman kita, karena Tuhan Yesus bukanlah ciptaan, melainkan Allah sendiri, sebagai bagian dari pribadi Tri Tunggal.

Lalu kalau demikian, apa makna dari perktaan bahwa Tuhan Yesus adalah “Permulaan dari Ciptaan Allah”?

Dalam ilmu dasar menafsir atau Hermeneutik, hal yang paling dasar yang perlu kita ketahui adalah; kita tidak bisa, tidak dapat dan tidak boleh menabrakkan ayat satu dengan ayat yang lain, atau mempertentangkan ayat satu dengan ayat yang lain. Cara pandang kitalah yang harus diubah sehingga ayat demi ayat menjadi sinkron dan selaras. Perhatikan beberapa ayat berikut ini;

  1. Yoh 10:30  Aku dan Bapa adalah satu.”
  2. Filipi 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan
  3. 1 Yohanes 5:20 “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.”

Dan tentu saja masih banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus itu bukan ciptaan melainkan Allah yang sesungguhnya. Kalau demikian, apa maksudnya kalimat “Permulaan dari Ciptaan Allah”?

William Barclay sebagai seorang teolog yang sangat baik dalam menerjemahkan Alkitab, mengatakan demikian, “ungkapan ini dalam bahasa Inggris memiliki arti ganda. Ungkapan ini bisa diartikan bahwa Yesus adalah pribadi pertama dari yang diciptakan, atau bahwa Tuhan Yesus memulai proses penciptaan. Adalah arti yang kedua yang dimaksudkan di sini. Kata “permulaan” dalam bahasa Yunani adalah “Arche”. Dan Dalam tulisan-tulisan Kristen awal, didapatkan bahwa setan adalah Arche dari kematian. Artinya kematian memiliki asal mula di salam setan. Dan demikian juga dengan Kristus, bahwa segala sesuatu yang ada ini mendapatkan permulaannya di dalam Kristus. Jadi inilah yang dimaksudkan di wahyu 3:14 bahwa permulaan segala sesuatu dimulai di dalam Kristus, dan hal ini selaras dengan Yoh 1:3  Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 

Di ayat ke 15 dan 16 dikatakan, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!”Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Untuk memahami hal ini, perlu kita ketahui mengenai situasi alam di Laodikia.

Kota Laodikia tidak memiliki sumber airnya sendiri. Dan untuk memenuhi kebutuhan air bagi penduduk di Laodikia, maka mereka sangat bergantung kepada kota di sekitarnya yang memiliki sumber air dengna mengalirkan air melalui terowongan-terowongan. Di antara kota-kota yang ada di sekitarnya, ada kota Hierapolis yang terletak di utara dan kota Kolose di selatan menjadi sumber air bagi penduduk Laodikia. Namun uniknya, Hierapolis memiliki sebuah sumber air panas terkenal bernama Pamukkale, yang mengandung banyak mineral dari dalam bumi dan lebih unik lagi adalah air yang panas ini memiliki kasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Selama berabad-abad orang-orang sakit datang untuk menikmati khasiat menyembuhkan dari air panas itu. Sementara air di Kolose ini dingin dan sangat jernih sehingga baik untuk minum karena sangat menyegarkan.

Ironisnya, pertemuan kedua sumber air ini yang terjadi di daerah Laodikia membuat air berkondisi suam-suam kuku yang tidak lagi baik untuk diminum secara langsung ataupun untuk penyembuhan. Dari hal ini, maka Tuhan Yesus memakainya sebagai gambaran untuk kondisi jemaat di Laodikia bahwa jemaat di Laodikia ini memiliki kerohanian yang suam-suam kuku, yang tidak dingin dan tidak panas.

Jemaat di Laodikia ini tidak memiliki manfaat karena tidak dingin atau tidak panas. Justru karena suam-suam kuku inilah, membuat air di sana tidak layak diminum secara langsung. Seperti inilah kondisi jemaat Laodikia, dan Tuhan menegur dengan sangat keras agar mereka menjadi jemaat yang berguna, entah mereka sebagai air yang panas untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit ataukah sebagai air yang dingin yang dapat memuaskan dahaga banyak orang. Hal yang pasti adalah agar mereka dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Kemudian di ayat berikutnya, Why 3:17-18  Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,  maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 

Selain sikap kompromi jemaat Laodikia dengan kehidupannya yang duniawi, Tuhan Yesus memberikan teguran berikutnya, dengan dikatakan bahwa mereka ini merasa kaya dan merasa tidak kekurangan apapun. Hal ini secara lahiriah memang benar karena kondisi kota Laodikia yang memiliki kandungan emas yang melimpah dan sebagai kota yang sangat kaya membuat mereka merasa tidak kekurangan apa-apa. Namun ternyata di mata Tuhan, jemaat Laodikia ini sangat miskin, bahkan melarat, malang, buta dan telanjang.

Ternyata apa yang dilihat dunia berbanding terbalik 180˚dengan apa yang dilihat oleh Allah. Dunia bisa memuji kekayaan yang dimiliki, namun di mata Tuhan ternyata mereka jemaat yang melarat, malang dan miskin. Sekalipun demikian, Tuhan masih mengasihi jemaat Laodikia dan karena itulah Tuhan Yesus memberikan nasihat agar mereka “membeli” emas dari Tuhan Yesus dan bukan emas dari kota Laodikia.

Arti dari “membeli” ini adalah ada sesuatu yang kita korbankan atau kita bayarkan yaitu waktu kita dengan Tuhan atau pelayanan kita untuk Tuhan dan sesama. Sehingga kehidupan kerohanian kita akan membuat diri kita kaya secara rohani dan tidak telanjang karena dosa kompromi dengan dunia.

“Minyak untuk melumas mata” merupakan salah satu kelebihan dari kota Laodikia yang memiliki obat salep mata yang terbukti manjur untuk mengobati sakit mata. Dengan memakai kondisi ini, maka Tuhan Yesus berkata dengan memakai kata-kata “minyak untuk melumas mata” supaya mereka dapat melihat kebenaran. Artinya jemaat Laodikia harus meminta kepada Tuhan agar mata hati mereka terbuka akan kesalahan mereka dan mau bertobat berbalik lagi kepada Tuhan.

Di ayat  berikutnya, Why 3:19  “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” Tuhan Yesus memang menegor dengan sangat keras jemaat di Laodikia, namun ini semata-mata karena Tuhan Yesus mengasihi jemaat Laodikia, karena itulah ketika kita mendapatkan teguran dari Tuhan kita harus bersyukur karena artinya bahwa Tuhan Yesus masih mengasihi kita dan ingin agar kita bertobat dan kembali kepada-Nya.

Di Why 3:20-21 dikatakan, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

Tentulah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus bukanlah pintu rumah kita, namun pintu hati atau pikiran kita. Dan dikatakan bahwa Tuhan Yesus terus mengetuk pintu hati kita sampai kita “mendengar” bahwa Tuhan Yesus mengetuk dan kemudian kita membukakan pintu hati pikiran kita.

Menariknya, Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai “Tamu” karena mengetuk pintu terus menerus sampai dibukakan oleh tuan rumah yaitu diri kita. Dan ketika kita sebagai tuan rumah telah membukakan hati pikiran kita untuk Tuhan Yesus yang saat itu adalah “Tamu” kita dan kemudian mempersilahkan-Nya masuk, yang terjadi kemudian adalah sebaliknya.

Bahwa dikatakan oleh Firman Tuhan Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia. Hal ini sangat unik karena kalimat “Aku makan bersama-sama dengan dia Menunjukkan bahwa Tuhan Yesuslah yang mengajak kita makan, bahwa Tuhan Yesuslah yang berinisiatif untuk makan. Kalau Tuhan Yesus yang mengajak kita makan, artinya Tuhan Yesuslah yang menjadi tuan rumah di hati kita. Dengan demikian, ketika Tuhan Yesus yang menjadi tuan rumah di hati kita, maka Tuhan Yesus yang akan mengendalikan hidup kita dan Tuhan Yesus yang akan menuntun hidup kita menuju kemenangan demi kemenangan.

1Kor 3:16  Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?  Ayat ini berbicara hal yang sama dengan Wahyu 3:20 yang kita baca tadi. Perhatikan bahwa tubuh kita ini bait Allah atau rumah Allah. Kalau tubuh kita ini rumahnya Allah dan bukan rumahnya kita, artinya siapakah yang menjadi tuan rumah atas tubuh kita ini? Jelas sekali bahwa Allah yang menjadi tuan rumah atas tubuh kita, atas hati dan pikiran kita serta tuan rumah atas kehidupan kita.

Dan karena Allah yang menjadi tuan rumah maka kita “hanya” mengikuti rencana-rencana Allah dalam hidup kita dan pastilah kita akan menjadi orang-orang yang menang di dalam iman. Karena itulah ayat selanjutnya mengatakan Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Karena ketika Allah menjadi tuan rumah atas hidup kita, maka kita akan menjadi orang-orang yang menang di dalam iman.

Di ayat terakhir Wahyu 3:22  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Seperti 6 jemaat sebelumya yang telah saya sampaikan, bahwa karena kita memiliki telinga, maka kita harus mendengarkan apa yang dikatakan Roh Allah kepada kita.

Khususnya pada saat ini ketika saudara mendengar kebenaran Firman Tuhan ini dan Allah berbicara di dalam hati saudara, janganlah keraskan hati karena Tuhan Yesus sedang mengetuk pintu hati saudara dan Ia rindu untuk makan bersama kita dan menjadi tuan rumah atas hidup kita. Ketika Allah menjadi tuan atas hidup kita, maka kita akan hidup dari kemenangan iman satu kepada kemenangan iman yang lain.

Bukalah hati kita dan biarkan Tuhan Yesus menjadi tuan atas hidup kita. Amin.

Ps Jimmy Lizardo