1. Pendahuluan Ucapan Berbahagia

Kali ini saya akan menyampaikan khotbah seri mengenai Ucapan Bahagia yang disampaikan oleh Tuhan Yesus pada Matius 5:1-12. Sebelum saya menyampaikan khobat ucapan bahagia yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, maka saya perlu memberikan gambaran dan latar belakang mengenai khotbah di bukit ini sehingga kita semua dapat mengerti dan memahami situasi dan kondisi pada saat itu.

 

Sedikit flashback, ketika Tuhan Yesus selesai di baptis, penulis kitab ini yaitu Matius menunjukkan kepada pembaca bahwa telah tiba saatnya bagi Tuhan Yesus untuk melakukan pelayanannya termasuk pengajarannya. Cara Tuhan Yesus mengajar tidak seperti ahli-ahli Taurat yang selalu ada di sinagoge dan dengan cara yang membosankan.

 

Perlu kita ketahui bahwa tulisan para Rasul di Alkitab yang kita baca merupakan ringkasan dari apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Sangat mungkin ajaran seperti ucapan bahagia ini merupakan ringkasan yang dituliskan oleh Matius, namun pendengar langsung pada saat itu mendapatkan penjelasan dengan lengkap dari Tuhan Yesus, bahkan para pendengar juga dapat saja bertanya kepada Tuhan Yesus pada saat itu. Firman Tuhan berkata di Yoh 21:25 bahwa kalau semuanya dituliskan satu persatu maka dunia ini tidak akan memuat semua kitab yang harus dituliskan ini.

Maka kita harus mengerti bahwa apa yang tertulis hanyalah ringkasan poin-poin yang dirangkum oleh Penulis Kitab yaitu oleh Rasul Matius. Karena yang tertulis di Alkitab hanya ringkasannya saja, maka para hamba Tuhan harus memohon kepada Roh Kudus agar mendapatkan pencerahan dan mencari data mengenai latar belakang pada saat itu sehingga dapat mengerti mengenai pengajaran Tuhan Yesus secara baik dan benar. Itulah salah satu tugas para hamba Tuhan yang menyampaikan khotbah agar khotbah yang disampaikan dapat mendarat di hati dan pikiran para pendengarnya, sama seperti pengajaran Tuhan Yesus yang mendarat di hati dan pikiran pendengarnya pada saat itu.

Perlu kita ketahui bahwa cerita Ucapan Berbahagia ini di mulai bukan secara tiba-tiba Yesus naik dan kemudian mengajar orang banyak. Perhatikan di Matius 4:23-25, dikatakan demikian, “Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan. 

Jadi, Khotbah di Bukit atau di Gunung dan Ucapan Berbahagia ini terjadi ketika Tuhan Yesus berjalan berkeliling di seluruh Galilea untuk mengajar di dalam rumah ibadat ataupun juga ketika di dalam perjalanan. Luar biasanya Tuhan Yesus tidak hanya mengajar namun juga menyembuhkan orang sakit seperti sakit ayan, orang yang lumpuh bahkan juga mengusir setan. Karena Tuhan Yesus melakukan hal ini, maka ada begitu banyak orang yang mengikuti Tuhan Yesus. Mereka datang dari daerah Galilea, Dekapolis, Yerusalem dan Yudea.

Ketika semakin banyak orang yang mengikuti Tuhan Yesus ketika itu, maka Tuhan Yesus naik ke atas bukit atau bisa juga dikatakan ke atas gunung. Keadaan geografis Israel memang berbukit-bukit dan bergunung-gunung, ada begitu banyak bukit, gunung, lembah dan juga jurang. Gunung atau bukit ini terletak di suatu tempat di sekitar Kapernaum, tetapi di mana tepatnya memang tidak disebutkan, namun menurut tradisi, gunung ini tidak jauh dari sebelah barat laut dari Kapernaum. Bukit ini dikenal dengan nama Kuran Huttin atau Tanduk Huttin. Mengenai bukit ini, Profesor Hackett seorang penulis buku Illustrations of Scripture mengatakan: ” Bukit yang dimaksudkan itu berbatu, dan menjulang curam pada ketinggian di atas dataran. Bukit ini memiliki dua puncak, dengan sedikit cekungan di antara keduanya, dan dari titik-titik yang menonjol ini, atau tanduk, karena itulah bukit ini dinamakan sebagai Kuran Huttin atau Tanduk Huttin. Dari puncaknya, orang-orang dapat melihat pemandangan Laut Tiberias secara penuh.”

Karena itulah Tuhan Yesus naik ke atas bukit, karena akan lebih mudah untuk berbicara kepada orang banyak dari tempat yang lebih tinggi daripada jika Ia berada di tempat yang sama dengan mereka. Mungkin kita sering mendengar orang-orang yang digambarkan sedang memandang ke arah pembicara dari sisi bukit, atau mendengarkannya dari dataran. Hal ini tidak mungkin dilakukan di tempat itu, karena tempat itu terlalu curam dan terlalu tinggi untuk posisi seperti itu. Namun, Tuhan Yesus sangat mungkin duduk di sana di tengah-tengah para pendengar-Nya, karena di sana tersedia tempat yang cukup luas untuk menampung ratusan orang yang mungkin hadir pada saat itu.”

Ketika Yesus akan mengajar, dikatakan di Mat 5:1, Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.” Menurut William Barclay dan Cambridge Bible Commentary, kebiasaan seorang rabi Yahudi ketika secara resmi mengajar, ia akan duduk dan menyampaikan pengajarannya.

Hal ini berbeda dengan budaya para pengkhotbah di Indonesia yang terasa tidak sopan ketika mengajar atau berkhotbah dengan duduk di kursi saat berada di panggung. Ada kesan santai dan tidak serius ketika pengkhotbah duduk di panggung.

Dari hal ini kita perlu belajar bahwa budaya di lingkungan Yahudi tidak selalu dapat diaplikasikan dalam budaya di Indonesia. Jangan meniru budaya masyarakat Yahudi secara mentah-mentah tanpa mempertimbangkan budaya di Indonesia. Maka kita perlu belajar bahwa seorang pengkhotbah harus bisa mengaplikasikan apa yang tertulis di Alkitab dan di dalam kehidupan sehari-hari.

Mat 5:2  “Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka.” Tampaknya frasa kata mulai berbicara terlihat biasa saja dan tanpa makna. Namun ungkapan ini di dalam bahasa Yunani memberikan dua makna;

  1. Di dalam bahasa Yunani, ungkapan mulai berbicara ini menunjukkan ucapan yang penuh wibawa, serius dan khidmat. Ungkapan ini dipakai pada sesuatu yang berkenaan dengan hal yang ilahi. Jadi perkataan Tuhan Yesus pada saat itu penuh kuasa dan kharisma, yang tidak dimiliki oleh para ahli Taurat pada saat itu.
  2. Ungkapan ini juga dipakai oleh seseorang yang hatinya tulus iklas dan sungguh-sungguh ketika berkata-kata, terbuka apa adanya, tanpa ditutupi atau tanpa tedeng aling-aling.

Karena itulah sebagai seorang hamba Tuhan dan seseorang yang sedang berkhotbah, haruslah bersungguh-sungguh untuk memohon kasih karunia Tuhan sehingga ketika berkhotbah ia akan mendapatkan pengurapan dari Roh Kudus dan apa yang disampaikannya mendarat di hati pendengar. Bisa dibayangkan ketika jemaat sudah siap mendengarkan kebenaran Firman Tuhan dan ternyata yang berkhotbah asal-asalan dalam menyampaikan Firman Tuhan, tentu ini sebuah kejahatan di mata Tuhan. Karena itu sebagai pengkhotbah sayapun perlu berdoa dan mempersiapkannya dengan baik agar jemaat diberkati melalui khotbah dan pengajaran ini.

Ketika Tuhan Yesus mulai mengajar, dalam tenses Yunani atau grammar Yunani menggunakan tenses imperfect yang berarti bahwa hal ini terjadi secara berulang-ulang. Dan memang tulisan Alkitab mengenai ajaran khotbah di bukit ini tidak sama dengan kejadian pada saat itu. Seperti yang telah saya katakan di awal bahwa apa yang ditulis di Matius merupakan ringkasan dari pengajaran Tuhan Yesus, yang mungkin saja pada saat itu terjadi tanya jawab yang intens dengan para pendengar. Dan khotbah di bukit ini tentu memerlukan waktu yang panjang dan terjadi berkali-kali. Sementara ketika kita membacanya, hanya dituliskan 1x saja oleh Matius.

Pertanyaannya, Mengapa Tuhan Yesus perlu mengajar berkali-kali kepada para pendengarnya? Karena pada dasarnya manusia harus menerima ajaran berkali-kali dan dalam waktu yang sangat panjang sampai benar-benar mengerti akan perkataan Firman Tuhan. Bukankah ketika kita masih kecil kita selalu diajar puluhan bahkan ratusan kali oleh orang tua kita sampai diri kita dewasa dan bisa melakukan sesuatu tanpa diperintahkan?

(ilustras) Misalnya ketika saya masih kecil, orang tua saya selalu mengatakan untuk meletakkan sandal secara rapi ketika akan masuk rumah. Dan hal ini tidak disampaikannya hanya satu kali, namun mulai dari kecil sampai saya remaja terus disampaikan. Karena saya seringkali malas merapikan, karena toh nanti akan dipakai lagi, itu pikir saya. Namun karena ajaran yang tak lelah dari orang tua saya, membuat diri saya akhirnya terbiasa merapikan sandal atau sepatu sebelum masuk rumah dan ternyata ini membuat rumah menjadi rapi dan tidak berantakan.

Seperti itulah Tuhan Yesus ketika mengajar orang banyak, Tuhan Yesus mengajar berkali-kali, tidak hanya pada kesempatan itu, namun pengajaran yang Tuhan Yesus sampaikan disampaikan terus menerus dan berulang-ulang pada hari-hari berikutnya. Memang Matius menuliskannya hanya satu kali saja agar pembaca tidak perlu membaca berulang-ulang, namun ketika pengkhotbah mengajarkan Firman Tuhan, perlu mengajarkannya berulang-ulang. Karena itulah saya tidak bosan-bosan untuk terus memberikan pengajaran yang sehat dan mungkin sekali-kali ada teguran atau koreksi agar jemaat yang mendengarkannya dapat bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Sebagai jemaat Tuhan yang mendengarkan berulang-ulang kebenaran Firman Tuhan juga tidak boleh bosan. Sikap jemaat ketika mendengarkan kebenaran Firman Tuhan haruslah seperti anak kecil yang mendengarkan ajaran orang tuanya, yang terus menerus mendengarkan ajaran dan teguran hingga kita benar-benar melakukan kebenaran Firman Tuhan tersebut.

Sama seperti para pendengar yang mendengarkan khotbah Yesus di bukit ini, mereka juga mendengarkannya berulang-ulang pengajaran yang disampaikan. Coba saudara bayangkan betapa pengorbanan orang-orang yang mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus, bahwa mereka meninggalkan rumahnya, meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan segala macam urusan dan semua itu dilakukan untuk mendengarkan ajaran Tuhan Yesus.

Maka bila saudara pada saat ini mendengarkan khotbah ini di mana saja dan dalam waktu kapanpun, sebenarnya pengorbanan kita tidaklah seberapa dibandingkan dengan orang-orang yang mengikuti Yesus pada waktu itu. Maksud saya adalah; kalau saudara dapat mendengarkan khotbah ini dengan waktu dan tempat yang jauh lebih baik dan lebih mudah, maka haruslah bersyukur kepada Tuhan. Saya juga mengajak agar jemaat yang mendengarkan khotbah ini untuk sungguh-sungguh memperhatikan ajaran-ajaran yang saya sampaikan agar kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan dapat masuk ke dalam hati dan pikiran kita serta melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Setelah saya menyampaikan latar belakang Khotbah di Bukit ini, maka minggu depan kita akan belajar bersama-sama mengenai Bagian Pertama Ucapan Bahagia, yaitu Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Minggu depan kita akan belajar mengapa orang miskin dikatakan berbahagia? Bukankah tidak ada seorangpun yang mau menjadi miskin? Bahkan orang miskinpun ingin menjadi kaya dan diberkati hidupnya. Lalu mengapa Tuhan Yesus mengatakan demikian? Karena itu, tunggulah minggu depan dan saya akan menyampaikannya dengan pemahaman yang benar. Amin

Oleh Ps Jimmy Lizardo