2. Orang Miskin Kok Berbahagia

Firman Tuhan di Matius 5:3 dikatakan sebagai berikut, Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Ketika kita membaca di dalam bahasa Indonesia, tampaknya kita tidak mendapatkan penekanan kata apapun, namun perlu diketahui bahwa pada waktu itu, Tuhan Yesus berbicara dalam bahasa Aram. Bahasa Aram pada saat itu merupakan bahasa yang umum dipakai dan hampir sama dengan bahasa Ibrani.

Menariknya, ketika kita membaca ucapan “Berbahagialah” pada Mat 5:3, kita harus memahaminya bukan dalam pengucapan bahasa Indonesia. Seharusnya kata “Berbahagialah” ini diucapkan dengan suara keras, yang merupakan kalimat seru dan sebaiknya ditambahkan kata “O!” pada awal kata “Berbahagialah”. Maka seharusnya kita membaca demikian “O… Berbahagialah!!!! (Ada penekanan kata dengan kuat dan keras). Ungkapan seperti ini sebenarnya juga sama dengan ungkapan yang ada di Perjanjian Lama seperti misalnya di Maz 1:1, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik” seharusnya dibaca O..!!! Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik..!!!

Pemahaman seperti ini penting karena akan membawa kita kepada pemahaman bahwa ucapan ini bukanlah sebuah ucapan akan harapan apa yang akan terjadi, namun ucapan selamat tentang apa yang telah terjadi. Ini adalah ucapan bahwa seseorang benar-benar berbahagia karena mendapatkan berkat. Maka artinya ketika Tuhan Yesus mengajarkan dan mengucapkan ucapan “O Berbahagialah!!!! Ini merupakan ucapan kegembiraan yang memancar dari kehidupan yang nyata.

            Ketika Tuhan Yesus mengucapkan kata berbahagialah dalam bahasa Aram, dan kemudian ajaran Yesus ini dituliskan dalam bahasa Yunani, maka kata Yunani “Berbahagialah” yang mendekati apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus adalah kata ”Makarios.” Menariknya kata “Makarios” ini adalah kata yang berhubungan dengan dewa. Jadi di dalam kekristenan, kita harus memaknai ini sebagai sukacita yang ilahi.

            Orang-orang Yunani memiliki sebutan pulau Siprus sebagai He Makaria yang artinya adalah Pulau Berbahagia. Orang-orang Yunani mengatakan hal ini karena pulau Siprus ini sangat indah, kaya, subur, iklimnya sangat baik, penuh dengan bunga indah, banyak pohon buah-buahan, banyak bahan mineral dan sumber alam sehingga orang-orang yang tinggal di sana penuh dengan kebahagiaan.

            Namun sulit untuk membayangkan bagaimana kata yang penuh bahagia, sukacita dan berhubungan dengan sesuatu yang ilahi disandingkan dengan kemiskinan? Bagaimana memahami ada sukacita yang luar biasa ketika seseorang dalam keadaan miskin? Kita harus akui bahwa sangatlah sulit ketika seseorang dalam keadaan ekonomi yang miskin dapat berteriak dan bersukacita karena keadaannya yang miskin ini. Lalu bagaimana kita dapat memahami ayat ini?

            Dalam bahasa Yunani, kata “miskin” diungkapkan dengan 2 macam kata; yaitu; “Penes dan Ptokhos” Penes menujuk pada seseorang yang harus bekerja untuk memperoleh nafkah hidupnya, kata ini juga dipakai oleh orang Yunani untuk menyebut orang yang mendapatkan nafkah dari tangannya sendiri, namun ia tidak mampu untuk hidup dengan lebih baik lagi. Intinya, nafkah yang didapatkan di hari itu, habis ia pergunakan untuk makan di hari itu juga.

            Kata yang kedua yang dipakai untuk kata “miskin” adalah Ptokhos yang berarti kemiskinan yang benar-benar mutlak, benar-benar miskin dan melarat. Menariknya, kata ptokhos ini berhubungan dengan kata ptossein yang berarti “membungkuk atau berjongkok” yang menandakan seseorang yang miskin secara mutlak atau sangat miskin.

            Nah, hal yang sangat mengherankan adalah bahwa kata Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Kata miskin ini menggunakan kata “Ptokos” yang menggambarkan kondisi yang sangat miskin dan melarat. Bagaimana memahami bahwa seseorang yang dalam kondisi sangat miskin dan melarat ini bisa amat sangat berbahagia dan bersukacita?

            Seharusnya ketika kita membaca Firman Tuhan, kita membaca dalam kacamata orang Yahudi dan bukan dalam kacamata kita sebagai orang Indonesia, karena akan tampak sangat sulit memahami bahwa seorang yang melarat dan miskin yang mutlak dikatakan untuk berbahagia. Maka kita perlu memahami cara orang Yahudi memakai kata Ptokos ini.

Kata Ptokos ini telah mengalami 4 tahap perkembangan makna;

  1. Kata ini dimulai dengan makna yang sederhana dan biasa dimaknai secara umum, yaitu “miskin” yang berarti tidak memiliki apapun.
  2. Kemudian kata Ptokos ini berkembang bahwa karena ia dalam kondisi miskin, maka ia tidak memiliki pengaruh atau kuasa apapun, ia tidak memiliki martabat bahkan tidak memiliki penolong bagi dirinya.
  3. Selanjutnya kata-kata ini memiliki arti; bahwa karena orang miskin ini tidak memiliki pengaruh apapun, maka ia menjadi nista, merana dan mudah ditindas oleh orang lain.
  4. Karena kondisi yang begitu berat ini, tidak memiliki siapapun dan apapun, maka orang miskin ini meletakkan nasib hidupnya hanya kepada Allah saja. Ia bergantung sepenuhnya kepada Allah atas hidupnya ini.

Maka sekarang kita dapat memahami makna dari ucapan berbahagia ini, bahwa ucapan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Bahwa ucapan tersebut berarti mencerminkan orang yang dengan rendah hati untuk berharap hanya kepada Allah saja. Ia menaruh hidup dan pengharapannya kepada Allah dan bukan kepada orang atau materi.

Kita dapat memahami kata Ptokhos ini menjelaskan bahwa seseorang harus menyadari kenistaan, kemiskinan dan kebutuhannya untuk mendapatkan pertolongan dari Tuhan saja, ia hanya menaruh harapan dan mengandalkan Tuhan saja.

Maka kita akan memahami ayat “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. seperti demikian; Hati orang yang berbahagia ini secara mutlak terpisah dari harta benda, karena ia mengetahui bahwa harta benda itu tidak membawa kebahagiaan dan ketentraman hidup. Artinya orang ini tidak mengandalkan harta benda untuk hidupnya, ia mengandalkan Allah saja.

Tentu saja semua orang harus bekerja dan tidak boleh menjadi beban bagi orang lain. Ayat ini tidak mengajarkan kepada kita bahwa sebaiknya kita menjadi miskin saja, karena kemiskinan tampak lebih suci di hadapan Allah. Sama sekali ayat ini tidak memiliki arti seperti itu. Ayat ini mengajarkan agar semua orang, termasuk orang yang bekerja, orang yang memiliki banyak kekayaan dan berkat, harus menyadari bahwa itu semua karena Allah saja. Ia harus menaruh harapan dalam pekerjaannya di dalam Allah dan mengandalkan Allah dalam setiap pekerjaan dan keberhasilannya.

Contoh yang bisa saya berikan salah satunya adalah Daud, Ketika Daud berhasil di dalam peperangan, ia tidak berkata bahwa hal keberhasilannya adalah karena strategi perangnya, atau kehebatan para tentaranya, ia berkata bahwa Tuhanlah yang memberinya kemenangan (2 Sam 8:6, Maz 20:7). Harusnya sikap kita seperti itu, sehingga seluruh hidup dan keberadaan kita selalu mengandalkan Allah saja.

Alkitab tidak pernah mengajarkan seseorang agar hidupnya menjadi miskin dan meminta orang yang miskin untuk berbahagia di dalam kemiskinannya. Lalu orang-orang yang miskin yang seperti ini akan menganggap bahwa orang yang memiliki kekayaan dianggap sebagai orang yang tidak berkenan di hadapan Allah. Banyak para hamba Tuhan yang… maaf kata, hidupnya mengalami kekurangan, banyak berkhotbah dan menentang segala bentuk kekayaan dan berkat yang dimiliki. Sementara di lain pihak, ada juga banyak pendeta-pendeta yang kaya yang menganggap bahwa kemiskinan itu adalah kutuk dan tidak diberkati oleh Allah.

Hal inilah yang menjadi tugas saya sebagai hamba Tuhan untuk dapat meluruskan ajaran yang benar sesuai dengan Firman Tuhan. Alkitab tidak pernah berkata untuk menjadi orang miskin agar terlihat suci karena ia mengalami banyak penderitaan di dunia ini. Sebaliknya, Alkitab juga tidak pernah mengajarkan bahwa kita harus kaya karena kekayaan itu adalah kehendak Tuhan dan ciri Tuhan memberkati kita. Sama sekali dua ekstrim ini keliru dan tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

Saya mengingatkan kembali kisah perumpamaan orang kaya dan Lazarus yang miskin yang pernah saya sampaikan beberapa bulan yang lalu. Di dalam kisah ini dikisahkan Lazarus yang miskin dan masuk ke surga, sementara orang kaya yang tidak disebutkan namanya masuk neraka. Lalu banyak yang berkesimpulan bahwa kekayaan pasti akan membawa orang Kristen ke neraka, sementara kemiskinan akan membawa orang Kristen ke surga. Perlu kita perhatikan bahwa memang sebuah fakta bahwa Lazarus yang miskin masuk surga, sementara orang yang kaya masuk neraka. Namun perlu kita ketahui bahwa Lazarus di surga berada di pangkuan Abraham yang merupakan seorang konglomerat di masanya itu. Memang fakta bahwa orang kaya itu masuk neraka dan Lazarus yang miskin masuk surga. Namun mengambil kesimpulan bahwa kekayaan membuat orang masuk neraka dan kemiskinan membuat orang masuk surga merupakan kesimpulan yang salah.

Seseorang masuk surga atau neraka bukanlah karena kekayaan atau kemiskinannya. Kekayaan atau kemiskinan tidak membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah. Namun cara berpikir, sikap hati dan tindakannyalah yang mencerminkan apakah dalam kehidupannya berkenan kepada Allah atau tidak.

Pada saat ini, saya kembali mengingatkan seperti kata Firman Tuhan yang kita pelajari  di Mat 5:3  “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Harus kita maknai sebagai sebuah ucapan dengan teriakan yang keras karena sebuah kondisi seseorang yang hidupnya bergantung sepenuhnya kepada Allah, yang mempercayakan hidupnya kepada Allah dan mengandalkan Allah saja, tidak mengandalkan manusia ataupun harta benda. Orang-orang yang seperti inilah yang begitu berbahagia karena kehidupannya berkenan di hadapan Allah dan  memiliki kerajaan surga. Amin

Ps Jimmy Lizardo