Jimmy Lizardo

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama belajar kebenaran Firman Tuhan yang saya ambil dari Mat 5:17-18, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 
            Kita akan bersama-sama belajar apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus mengenai arti dari ayat tersebut.

Bila kita memperhatikan ayat tersebut, maka agak aneh bila Tuhan Yesus berkata bahwa Tuhan Yesus datang bukan untuk meniadakan melainkan untuk menggenapinya. Di manakah anehnya? Tuhan Yesus tampak dengan jelas menabrak aturan-aturan yang pernah Ia sendiri berikan kepada orang-orang Yahudi, coba perhatikan beberapa ayat-ayat berikut ini;
a.      Mar 2:23-24  Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
b.     Mar 3:1-2  Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.
c.      Mat 8:2-3 diceritakan bahwa Yesus menyentuh orang yang sakit kusta, padahal di dalam Imamat 13 dikatakan bahwa mereka yang menyentuh orang yang kena kusta menjadi najis.
d.     Tuhan Yesus menyentuh anak perempuan Yairus yang telah mati di Markus 5:35. Padahal menyentuh mayat adalah hal yang membuat seseorang menjadi najis, hal ini seperti yang dituliskan di Bil 19:11, “Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya.”
Bila kita melihat ayat-ayat yang telah saya bacakan tadi, maka kita melihat bahwa ternyata Tuhan Yesus sendiri malah melanggar hukum Taurat, hukum-hukum yang pernah diberikan di Perjanjian Lama. Lalu bagaimana Tuhan Yesus berkata bahwa Ia tidak bermaksud untuk meniadakannya melainkan menggenapinya?
Sebelum saya menjelaskannya, perlu saya sampaikan arti dari frasa kata “Hukum Taurat” yang dimaksudkan oleh orang Yahudi. Ada 4 makna dari “Hukum Taurat” bagi mereka, yaitu:
1.     Hukum Taurat bisa bermakna: 10 Hukum Taurat. 10 Hukum Taurat ini diberikan oleh Allah sendiri dalam bentuk 2 loh batu kepada Musa dan orang Israel di G. Sinai. (Kel 20:1-17, Kel 34:27-28)
2.     Hukum Taurat juga bisa diartikan oleh orang Yahudi sebagai 5 kitab Musa yang juga disebut sebagai kitab Pentateukh yang berarti lima (5) gulungan. Kita Pentateukh ini merupakan kitab yang sangat penting bagi orang Yahudi karena mereka merasa bahwa Tuhan berbicara secara langsung kepada Musa dan Musa menuliskannya atas perintah Allah sendiri. Sehingga kitab ini begitu penting dalam masyarakat Yahudi.
3.     Hukum Taurat dan Kitab para Nabi yang dimaksudkan oleh perkataan Tuhan Yesus pada Mat 5:17 adalah seluruh kitab Pentateukh dan juga Kitab-kitab para nabi yang kita kenal dengan nama Perjanjian Lama.
4.     Orang Yahudi juga memberikan nama Hukum Taurat pada peraturan Hukum yang dijabarkan dari Hukum-hukum pada kitab-kitab yang ada. Para ahli Taurat menjabarkan peraturan dan ketentuan semua hukum yang ada dan kemudian dijalankan oleh orang-orang yang disebut sebagai orang Farisi.
Hukum-hukum ini dikenal dengan nama Mishna yang berisi 63 bab, dan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, berjumlah 800 halaman. Orang-orang Yahudi kemudian menyibukkan dengan menafsirkan Mishna tersebut dan kitab tafsiran ini kita kenal dengan nama Talmud.
Demikianlah ada 4 arti dari Hukum Taurat yang dimaksudkan oleh orang Yahudi.
            Bagi orang Yahudi sendiri, mereka menganggap bahwa agama adalah mentaati beribu-ribu peraturan dan ketentuan hukum yang menentukan masalah hidup dan mati mereka kelak. Jadi dengan latar belakang ini, maka kita bisa melihat dengan jelas mengapa Tuhan Yesus seringkali mendapatkan pertentangan dari orang Yahudi, orang Farisi dan ahli Taurat yang begitu jelas melanggar hukum-hukum di Perjanjian Lama dan juga hukum-hukum di kitab Mishna itu.
            Lalu apa makna dari perkataan Tuhan Yesus di ayat Mat 5:17-18 tadi? Saya mengulangi ayat yang tadi saya bacakan agar kita kembali mengingatnya, “Mat 5:17-18, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Mat 5:18  Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 
Tuhan Yesus berkata bahwa Ia sama sekali tidak meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi, maka sekarang kita bisa mengerti bahwa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dengan kata hukum Taurat dan kitab para nabi adalah; 10 hukum Taurat, Kitab Pentateukh dan seluruh kitab para nabi atau Perjanjian Lama, Tuhan Yesus tidak berbicara sama sekali mengenai hukum-hukum tafsiran di kitab orang Yahudi. Karena itulah Tuhan Yesus tampak “menabrak” semua peraturan orang Yahudi yang tafsirannya termuat di kitab Mishna. Lalu apakah Tuhan Yesus juga menabrak dan melanggar peraturan yang ada di kitab Perjanjian Lama? Inilah yang akan saya jelaskan.
Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk melenyapkan Perjanjian Lama, melainkan untuk menggenapinya karena seluruh kitab perjanjian lama digenapi di dalam Tuhan Yesus. Seluruh kitab Perjanjian Lama memberikan begitu banyak nubuatan, memberikan gambaran dan juga memberikan typologi masa depan mengenai kehadiran Tuhan Yesus sebagai Mesias dan juruselamat.
Ketika Tuhan Yesus ini datang menjelma sebagai manusia, dan secara khusus ketika Tuhan Yesus mati, di mana tabir bait suci robek dari atas ke bawah (Mat 27:51), maka Tuhan Yesus menyelesaikan kutuk-kutuk yang ada di Perjanjian Lama. Kutuk-kutuk dan hukuman itu sudah digenapi, sudah diselesaikan dan sudah ditanggung oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib.

Dari hal ini, maka kita bisa memahami 2 hal yang dimaksudkan oleh perkataan Yesus bahwa Ia datang untuk menggenapi seluruh hukum Taurat dan Kitab Para Nabi.

Tuhan Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum-hukum yang pernah Allah berikan, melainkan hukum-hukum dahulu yang ada di Perjanjian Lama telah terpenuhi, tergenapi, dan terselesaikan. Maka tidak ada lagi sekat antara orang yang najis dan orang tahir. Tidak ada lagi seseorang menjadi najis karena memegang orang kusta, bahkan tidak ada lagi kenajisan pada orang kusta, tidak ada lagi kenajisan pada seseorang yang menyentuh mayat dan sebagainya.
Mereka termasuk orang kusta bisa kapanpun datang kepada Allah tanpa perlu menyucikan diri, mentahirkan diri atau mengasingkan diri selama beberapa hari agar kudus dan layak datang ke bait suci untuk mempersembahkan korban seperti di peraturan Perjanjian Lama.
Hal ini dibuktikan dengan robeknya tirai bait suci dari atas ke bawah dan bukan dari bawah ke atas. Robeknya bait suci dari atas ke bawah ini menunjukkan bahwa ada inisiatif dari Allah yang merobek tirai antara ruang kudus dan maha kudus yang tidak dapat dimasuki oleh siapapun juga kecuali oleh Imam Besar.
Dengan robeknya bait suci ini, memberikan makna bahwa semua orang dapat datang kepada Allah. Mereka dapat datang tanpa sekat, tanpa juga membawa korban bakaran.
Korban bakaran dan peraturannya di Perjanjian Lama sama sekali tidak dibatalkan, namun digenapi di dalam Tuhan Yesus sendiri, karena Tuhan Yesus inilah yang kemudian menggenapinya dan menjadi korban itu sendiri.
Saya akan membacakan beberapa ayat di kitab Ibrani agar kita memahami bahwa Tuhan Yesus telah menyelesaikan semua korban bakaran itu, sehingga orang Yahudi tidak lagi perlu mempersembahkan korban bakaran ketika mereka ingin beribadah dan bertemu dengan Allah.
Orang Yahudi juga tidak perlu meminta perantara Imam agar mereka bisa datang kepada Allah, mereka bisa datang kapanpun dan di manapun karena kini mereka memiliki Imam Besar yang tak terbatas oleh ruang dan waktu. Mari lihat ayat-ayat berikut ini;
Ibr 7:26  Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 
Ibr 7:27  yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 
Ayat tersebut berbicara bahwa orang Yahudi telah memiliki Imam Besar yaitu Yesus Kristus yang tidak sama dengan Imam Besar sebelumnya di Perjanjian Lama. Bila Imam Besar di Perjanjian Lama harus mempersembahkan korban untuk dosanya dan dosa umat Israel, maka Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang telah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban yang sempurna, tak bercacat dan tak bercela.
Mari kita perhatikan lagi di:
Ibr 9:12  dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. 
 
Di sini jelas dikatakan bahwa Yesus Kristus sebagai Imam Besar sekaligus juga sebagai korban persembahan itu telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat kudus yang sebelumnya terbatas oleh Imam saja.
 
Ibr 10:19  Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus
Ibr 10:20  karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri
Ibr 10:21  dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. 
 
Dan dari ayat-ayat tersebut, maka kita mendapatkan arti bahwa karena darah Yesus dan korban dari Yesus Kristus inilah semua orang yang percaya kepada-Nya dapat masuk juga ke dalam tempat kudus, karena Yesus Kristus telah membuka jalan yang baru yang tidak lagi perlu melalui korban-korban binatang, melainkan dengan jalan diri-Nya sendiri yang dipersembahkan kepada Allah. Jalan yang baru ini membuat tabir bait suci terbelah dari atas ke bawah dan digantikan dengan diri Yesus Kristus sebagai tabir yang baru.
Karena itulah maka seluruh hukum, peraturan dan tata cara ibadah di Perjanjian Lama telah digenapi di dalam Kristus sehingga kita tidak perlu melakukan tata cara seperti di Perjanjian Lama.
Jadi kedatangan Yesus Kristus merupakan puncak penggenapan dan penyelesaian masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama sama sekali tidak dihapuskan dan dibatalkan, karena Perjanjian Lama adalah sebuah perjalanan orang Yahudi dalam mencari Allah di masa itu. Dan Perjanjian Lama juga membuat kita mengerti bahwa Tuhan Yesus pada akhirnya sebagai penggenapannya. Tanpa Perjanjian Lama kita tidak mengerti mengapa Yesus harus mati dan menanggung kutuk hukum Taurat.
Inilah arti dari Firman yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus di Matius 5:17-18, bahwa Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Jadi semua hukum yang ada di Perjanjian Lama tidak ada yang hilang satu hurufpun atau satu iotapun, melainkan semuanya digenapi di dalam diri Tuhan Yesus saja.

Dari perkataan Tuhan Yesus bahwa Ia adalah penggenapan hukum Taurat dan kitab para Nabi, maka kita bisa ketahui bahwa semua hukum Taurat dan Kitab Para Nabi berbicara mengenai Yesus Kristus yang akan datang.
Dan ketika Tuhan Yesus datang sebagai wujud manusia dan sebagai korban, maka seluruh hukum Taurat dan Kitab Para Nabi telah tergenapi.
Dari hal ini sebenarnya kita bisa ketahui bahwa ternyata ada beberapa hal yang salah dalam menafsirkan beberapa bagian dari Perjanjian Lama, seperti misalnya adalah kitab Daniel. Banyak yang menafsirkan bahwa kitab Daniel adalah kitab yang berbicara mengenai akhir zaman kelak. Bila benar bahwa kitab Daniel berbicara mengenai akhir zaman, maka ini artinya kitab Perjanjian Lama belum tergenapi seluruhnya, padahal Tuhan Yesus berkata bahwa dengan kedatangan-Nya, maka Ia menggenapi hukum Taurat dan semua kitab di Perjanjian Lama.
Maka dari itulah kita harus lebih jeli dan teliti dalam mempelajari Firman Tuhan agar mendapatkan gambaran yang utuh dan juga benar.

Jadi kini kita telah mengerti bahwa maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dunia sekitar 2000 tahun yang lalu adalah untuk menyelesaikan semua hukum-hukum Perjanjian Lama yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna oleh orang-orang Yahudi. Dengan pengorbanan Yesus sebagai anak domba Allah yang sempurna itu membuat kita dapat datang kepada Allah tanpa perlu perantara Imam Besar lagi, karena kita telah memiliki Imam Besar yang sempurna.

            Kita juga perlu ketahui bahwa Perjanjian Lama tetap kita perlukan dan pelajari karena dengan mengetahui Perjanjian Lama, maka kita mengerti betapa seluruh peraturan, hukum dan kutuk-kutuk itu telah digenapi dan ditanggung oleh Yesus di atas kayu salib. Kita tidak perlu lagi terbelenggu oleh hukum dan peraturan di Perjanjian Lama, karena perjanjian kita sekarang ada di dalam Kristus Yesus sebagai perantara sempurna antara kita dengan Allah. Tuhan Yesus tidak menabrak dan melanggar aturan yang ada di Perjanjian Lama, karena Tuhan Yesus menggenapi dan menyempurnakannya. Orang yang dulunya najis dan tidak bisa mendekat kepada Allah, kini tidak ada stigma sebagai orang najis, mereka bisa datang kapanpun kepada Allah yang hidup, yang tidak terbatas ruang dan waktu.
            Maka kita patut untuk terus mengucap syukur dan mengingat akan pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib yang telah menggenapi seluruh hukum dan menanggung kutukan. Karena itu, mari kita terus hidup untuk memberi yang terbaik buat Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Ps Jimmy Lizardo