Pencobaan Yesus

Mari kita baca di Mat 4:1, Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Peristiwa ini terjadi ketika Yesus selesai dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Perlu diketahui bahwa ketika Tuhan Yesus dibaptis, orang-orang pada saat itu belum mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia karena memang Tuhan Yesus belum menyatakan diri-Nya secara terbuka kepada orang banyak.

            Jadi setelah Tuhan Yesus dibaptis, Ia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai iblis. Di sini dapat kita pelajari bahwa terkadang Roh Kudus membawa anak-anak-Nya ke padang gurun ataupun ke lembah kekelaman agar iman kita dapat teruji dan semakin kuat di dalam Tuhan. Kita belajar bahwa sekalipun Yesus adalah Tuhan, Ia sendiri mengalami pencobaan di padang gurun. Hal ini menunjukkan bahwa kita sebagai manusia, sekalipun kita saleh dan takut Tuhan, namun pencobaan di dalam hidup tidak akan pernah dapat terhindarkan.

            Mengenai pencobaan di padang gurun ini kita melihat ada dua pribadi yang terlibat secara langsung, pertama adalah Roh Kudus sendiri yang membawa Yesus ke padang gurun dan kedua adalah iblis yang mencobai Yesus. Sebelumnya perlu saya ingatkan kembali bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:14) dan karena itulah Yesus harus mengalami semua yang dialami oleh manusia, salah satunya adalah dicobai oleh iblis. Jadi Roh Kudus membawa Yesus agar Ia dicobai sama seperti manusia dicobai dan memperlihatkan bahwa Yesus akan menang melawan pencobaan iblis.

            Sementara dari pihak iblis, ada hal yang cukup aneh dan menggelitik untuk kita pertanyakan, yaitu, “Mengapa iblis yang tahu bahwa Yesus adalah Allah namun tetap mencobai-Nya? Apakah iblis yakin bahwa ia akan mampu menjatuhkan Yesus di dalam dosa sama seperti Adam dan Hawa?”

            Untuk menjawab hal ini, kita perlu melihat ayat lain di kitab Roma 8:3, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,” Ayat ini mengatakan bahwa ketika Yesus datang ke dunia menjadi manusia, tubuh yang Yesus diami adalah daging yang serupa dengan daging yang dikuasai oleh dosa. Bagi iblis, dosa adalah sesuatu yang sangat ia sukai karena iblis dan dosa adalah identik, satu frekuensi dan memiliki keterikatan yang kuat satu sama lain. Jadi ketika iblis melihat Yesus mendiami tubuh yang serupa dengan tubuh yang dikuasai oleh dosa, iblis tidak tahan untuk mencobai Yesus agar Ia jatuh ke dalam dosa. Karena itulah sekalipun iblis tahu bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, ia tetap mencobainya. Dan akhirnya dapat kita tahu bersama bahwa pencobaan yang iblis lakukan terhadap Yesus sama sekali tidak membuahkan hasil karena Yesus mampu mengatasi setiap pencobaan yang iblis lancarkan terhadap dirinya.

            Di sini kita belajar bahwa bila Yesus yang mengenakan tubuh daging serupa dengan tubuh daging yang dikuasai oleh dosa dan menang ketika dicobai oleh iblis, maka kitapun sebagai anak-anak Tuhan juga pasti mampu mengalami kemenangan dari pencobaan iblis di dalam hidup kita. Tuhan Yesus telah memberikan contoh kepada anak-anak-Nya bahwa sekalipun Yesus adalah Allah, namun Yesus juga sama dengan manusia bahwa Ia mengenakan tubuh sama seperti kita, Ia mengalami pencobaan dan menang. Ibrani 4:15, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

            Kita mempuyai Tuhan Yesus yang tidak sekedar duduk di surga dan melihat anak-anak-Nya bergumul dalam kehidupannya. Namun kita memiliki Tuhan Yesus yang pernah menjadi manusia dan mengalami semua yang dialami oleh manusia, termasuk pergumulan dan pencobaan. Karena itulah dikatakan di Ibrani 4:15 tadi bahwa Imam Besar yang kita punya adalah Imam Besar yang juga merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. Dan Imam Besar atau Tuhan Yesus itu telah menang dalam menghadapi pergumulan dan dosa, karena itulah kita harus juga menang dalam menghadapi pencobaan hidup.

            Kita kembali ke peristiwa di padang gurun. Setelah Yesus berada di padang gurun, Ia berpuasa selama 40 hari 40 malam. Perlu diketahui bahwa ini adalah puasa tanpa makan saja, bukan puasa tanpa makan dan tanpa minum. Manusia tidak mampu hidup tanpa air sama sekali selama 40 hari, namun masih bisa hidup tanpa makan selama 40 hari. Jadi di sini kita perlu ketahui bahwa Yesus berpuasa tanpa makan selama 40 hari.

            Mat 4:2  Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.  Bukanlah hal yang mudah bagi siapapun juga untuk berpuasa selama empat puluh hari lamanya tanpa makan sama sekali. Tubuh yang lemah, kurus, tak berdaya, kelaparan, hingga mungkin saja nyaris pingsan merupakan pengalaman yang dirasakan oleh Tuhan Yesus. Bahkan dikatakan di Markus 1:13 kalau Yesus berada di padang gurun bersama binatang-binatang liar yang berbahaya. Di Kitab Markus ini digambarkan betapa berbahayanya Yesus berada di padang gurun  karena situasi yang mencekam bersama binatang buas dan dalam kondisi fisik yang sangat lemah.

            Ketika Yesus telah selesai 40 hari berpuasa dan kemudian merasakan lapar yang amat sangat, kemudian muncullah iblis di padang gurun. Kitab Matius menuliskan iblis sebagai “si pencoba” karena memang pribadi iblis ini senantiasa mencobai seseorang untuk jatuh ke dalam dosa. Bagi iblis, dosa adalah karakter dan nature-nya, dosa adalah kehidupan iblis itu sendiri sementara bagi orang Kristen, doa adalah nafas kehidupannya.

Mat 4:3  Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Bila kita melihat ayat ini, tampaknya si pencoba atau iblis ini memprovokasi Yesus dengan 2 hal, yaitu;

    1. “Jika Engkau Anak Allah” kalimat ini merupakan kalimat provokasi yang diucapkan untuk menaikkan harga diri dan juga pembuktian. Kita bisa melihat bahwa kalimat provokasi ini diucapkan bukan ketika keadaan Yesus sedang dalam keadaan yang baik, melainkan menderita kelaparan yang amat sangat. Seseorang yang lapar amat sangat, maka akan melakukan apapun untuk menghilangkan laparnya. Berapa banyak kita mendengar berita di media sosial bahwa karena masalah lapar, seseorang bisa menjadi gelap mata dan beringas, bahkan bisa membunuh seseorang. Di sini Yesus memberi contoh kepada kita bahwa sekalipun kita mungkin secara jasmani menderita kelaparan yang amat sangat hingga berdampak pada emosi dan psikologi kita, namun jangan pernah terprovokasi oleh ucapan orang yang tidak memberikan solusi yang benar. Jangan sampai seseorang yang lapar pada akhirnya mencuri atau meminjam uang di pinjol yang pada akhirnya justru menyengsarakan diri sendiri.

Perkataan “Jika Engkau Anak Allah” menunjukkan bahwa iblis meminta pembuktian kepada Yesus bahwa Yesus benar-benar Anak Allah. Di sini kita melihat bahwa di kondisi yang sangat mendesak, sangat darurat dan sangat terjepit, Yesus diberikan sebuah tantangan pembuktian “Jika Engkau Anak Allah”! Perkataan ini langsung menuju pada tusukan di hati yang paling dalam karena menyangkut sebuah identitas. Identitas Yesus dipertanyakan dan diprovokasi untuk dibuktikan di depan iblis yang notabene merupakan malaikat jatuh yang Yesus ciptakan sendiri. Bila kita menjadi Yesus, mungkin kita akan langsung menghukum iblis seketika itu juga, namun lagi-lagi Yesus mengajarkan agar emosi bisa dikendalikan sekalipun sedang lapar yang amat sangat.

Sebuah media The Huffington Post, Paul Currie, seorang pakar perilaku nafsu makan sekaligus profesor psikologi di Reed College, mengungkapkan bahwa rasa lapar dapat mengubah seseorang menjadi sangat emosional, yang seringnya timbul sebagai stres, kecemasan, hingga kegelisahan.Itu sebabnya, Anda mungkin mengenal beberapa orang yang menjadi marah saat ia merasa lapar atau belum makan. hal ini disebabkan karena makanan adalah sumber energi utama bagi tubuh. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh akan dicerna dan diubah menjadi glukosa yang kemudian mengalir ke dalam aliran darah beserta nutrisi lainnya untuk menyuplai energi bagi setiap sel dan jaringan tubuh. Glukosa adalah makanan utama bagi otak.[1]

Dari apa yang dilansir dari media tadi, maka di sini kita diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk mampu mengendalikan emosi sekalipun sedang dalam kondisi yang sangat lapar dan mengganggu emosi psikologi kita.

    • “perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Kalimat ini merupakan kalimat lanjutan dari provokasi yang saya sampaikan sebelumnya. Karena kita dapat membayangkan bahwa rasa lapar yang sangat menyakitkan dan mungkin dapat mematikan metabolisme tubuh karena tidak mendapatkan asupan gizi sama sekali selama 40 hari 40 malam, kemudian diprovokasi dengan mengatakan “Jika Engkau Anak Allah, maka Engkau dapat dengan mudah mengubah batu ini menjadi roti”. Ini sama sekali bukanlah solusi yang benar dan tepat. Ingat bahwa solusi dari iblis sekalipun tampaknya baik namun tidak pernah benar. Iblis bisa memberikan solusi kepada manusia, namun berhati-hatilah bahwa solusi iblis tampaknya baik namun sebenarnya adalah jerat bagi manusia. Waspadalah agar kita tidak menerima tawaran solusi dari iblis yang akhirnya menjerat diri kita.

Maka di sini kita benar-benar belajar bahwa sekalipun kondisi hidup kita terjepit, bahkan terjepit seperti akan mati, jangan pernah melakukan kesalahan dan kebodohan dengan membiarkan emosi kita meledak hingga melukai diri sendiri dan orang lain. Kita juga belajar bahwa tidak semua solusi yang baik itu adalah solusi yang benar. Jangan pernah mengambil solusi yang ditawarkan oleh siapapun juga bila solusi itu tidak benar bila dipandang dari Firman Tuhan.

Saya ingin menekankan untuk terus hidup benar sekalipun terdesak, terjepit dan terprovokasi. Karena pada akhirnya orang yang berharap pada Tuhan sampai pada kesudahannya akan mendapatkan yang terbaik dari Tuhan.

Sebelumnya mari kita menyimak pembacaan Firman Tuhan berikut ini; Mat 4:3  Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Mat 4:4  Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” 

Saya telah membahas mengenai pernyataan iblis yang begitu memprovokasi Yesus di saat Yesus begitu lemah dan tak berdaya secara fisik dan kini kita melihat bagaimana Tuhan Yesus menjawab provokasi iblis itu dengan perkataan Firman. Tuhan Yesus berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Apa arti dari perkataan Tuhan Yesus ini? Apakah firman Tuhan itu bisa membuat perut menjadi kenyang? Bukankah perkataan itu hanyalah perkataan dan tidak membuat perut menjadi kenyang? Apakah ini mengajarkan bahwa kita manusia tidak perlu bekerja, namun cukup mendengarkan perkataan Tuhan atau mendengarkan Firman Tuhan saja dan tiba-tiba kita bisa kenyang?

Ibu Bapak, tentu jawaban dari Yesus ini sama sekali tidak mengajarkan kepada kita untuk tidak perlu mencari makan dan bekerja, karena di bagian lainnya Firman Tuhan berkata di 2 Tes 3:10, “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Maka jawaban Yesus di sini sama sekali tidak dimaksudkan agar kita cukup hanya berdoa dan membaca Alkitab saja dan tidak perlu bekerja. Kita harus tetap bekerja untuk bisa mencukupkan diri dalam kebutuhan kita. Kalau begitu, apakah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus?

Tuhan Yesus berkata bahwa manusia hidup tidak hanya dari roti saja, namun dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Menariknya, bahwa kata “hidup” di sini memiliki makna ganda yang bisa berarti hidup di dunia ini, namun juga bisa berarti hidup yang kekal di surga. Maka di sini sebenarnya Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kita hidup kita ini bukan dari roti saja namun juga dari firman Tuhan, yang berarti bahwa memang benar roti itu penting untuk hidup di dunia ini, namun firman Tuhan itu jauh lebih penting karena firman Tuhan itu bekal bagi kita untuk hidup kekal di surga selama-lamanya.

Di sini Tuhan Yesus sebenarnya memperlihatkan bahwa selain roti yang penting bagi tubuh, perkataan Allah juga penting untuk keselamatan jiwa dan roh, bahkan perkataan Allah jauh lebih penting daripada sekedar roti untuk tubuh jasmani. Di sini Tuhan Yesus menegaskan kepada iblis bahwa Yesus tidak takut kalau karena kelaparan yang dideritanya sekalipun sampai membuat-Nya mati, karena roti itu bukanlah yang utama, namun firman Tuhanlah yang lebih utama dari apapun juga.

Namun perlu kita ketahui bahwa Tuhan Yesus sudah dapat dipastikan bahwa Ia tidak mungkin mati karena kelaparan akibat puasa yang dideritanya, karena Ia tahu bahwa tujuannya datang ke dunia adalah untuk mati menebus dosa anak-anak Tuhan. Gal 1:4  yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. Lalu kita baca juga di Ibrani 9:14  betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. 

Jadi kini kita tahu bahwa Tuhan Yesus ingin mengatakan kepada kita bahwa sekalipun Ia menderita karena kelaparan, namun roti yang akan membuatnya kenyang dan memiliki tenaga kembali, bukanlah segala-galanya bagi Yesus. Maka di sini kita juga harus belajar bahwa kalau kita diperhadapkan pada kenyataan sebuah kondisi ekstrem yang membuat kita kelaparan atau menderita begitu hebat maka kita tidak boleh meninggalkan Tuhan, kita tidak boleh melakukan kejahatan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Sekalipun tubuh jasmani kita menderita karena kelaparan, namun tubuh rohani kita harus terus makan makanan rohani yaitu firman Tuhan sendiri.

Lalu kita lihat berikutnya di Mat 4:5-6, Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,  lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” 

Ketika iblis gagal dalam mencobai Yesus perihal kebutuhan jasmani-Nya, kini iblis mencoba dengan membawa Yesus ke atas bubungan Bait Allah. Perlu diketahui bahwa bubungan bait Allah di zaman Yesus adalah bait Allah yang dibangun oleh Zerubabel dan kemudian direnovasi atau diperluas oleh raja Herodes dan tinggi bubungan bait Allah ini sekitar 700 kaki atau 213 meter.[1]

Di sini iblis mengatakan kepada Yesus untuk menjatuhkan dirinya ke bawah karena nanti malaikat-malaikat Allah akan menatangnya sehingga tidak terantuk kepada batu. Perkataan iblis ini memakai kutipan dari mazmur 91:11-12 demikian, “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. Ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas berkaitan dengan hal ini;

1.     Di sini kita tahu bahwa iblis tidak takut dengan firman Tuhan, bahkan ia hafal dengan isi firman Tuhan. Bayangkan saja kalau iblis begitu mudah dan hafal mengutip ayat di Maz 91”11-12 tanpa membuka kitab Mazmur sama sekali. Dari hal ini kita bisa belajar bahwa jangan pernah memakai ayat-ayat Alkitab sebagai mantera untuk pengelaris, untuk mengusir setan, atau untuk jimat-jimat tertentu. Iblis sama sekali tidak takut dengan firman Tuhan, melainkan takut dengan nama Tuhan Yesus saja.

Namun hal ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu membaca, merenungkan dan belajar Firman Tuhan. Kita harus merenungkan dan membaca Firman Tuhan agar kita menjadi orang yang bijak, semakin mengenal isi hati Tuhan dan Firman Tuhan menjadi panduan selama kita hidup di dunia ini.

Di sini kita juga belajar bahwa firman Tuhan ternyata dapat dipakai oleh iblis untuk kepentingan yang salah dan mencoba untuk menjatuhkan Tuhan Yesus. Cobaan ini, ternyata banyak iblis lakukan di masa sekarang ini. Ironis sekali karena ternyata firman Tuhan yang dipakai oleh para “hamba Tuhan” banyak dipelintir kepentingannya sendiri.

Di masa sekarang ini banyak hamba Tuhan yang memotivasi jemaat untuk menabur, namun hasil taburan itu digunakan untuk kepentingan dari hamba Tuhan tersebut. Dari kisah pencobaan Yesus ini kita bisa belajar bahwa iblispun memakai firman Tuhan untuk kepentingannya menjatuhkan Yesus dan di masa sekarang kekuatan firman Tuhan dapat dipakai untuk kepentingan pribadi para hamba Tuhan. Karena itulah saya mengajak para hamba Tuhan untuk berhati-hati ketika menyampaikan Firman Tuhan. Kita perlu mengecek motivasi diri kita, apakah kita sedang memakai firman Tuhan untuk kepentingan diri kita ataukah untuk Tuhan?

2.     Yesus dibawa ke bubungan Bait Allah yang tingginya sekitar 200 meter dan berkata untuk menjatuhkan diri karena nanti malaikat-malaikat akan menopangnya. Apakah tujuan dari iblis ini? Coba kita bayangkan bahwa Bait Allah yang tidak pernah sepi pengunjung karena setiap hari selalu ada ratusan hingga ribuan orang yang datang ke sana untuk sembahyang dan mempersembahkan korban, lalu tiba-tiba melihat ada seorang yang dari atas terjatuh dan kemudian ditopang oleh malaikat Allah. Tentu peristiwa ini akan membuat decak kagum orang-orang yang melihat dan membuat Yesus langsung populer dan orang-orang akan meninggikan Yesus karena Ia menjadi seorang yang begitu istimewa. Namun pertanyaannya adalah, apakah ini kehendak Allah ataukah tidak?

Kita ketahui bersama bahwa cara seperti ini bukanlah kehendak Allah. Iblis hendak membuat Yesus populer dengan cara mengangkat tinggi lalu menjatuhkan diri ke bawah. Yesus tidak boleh populer dengan cara ini, karena ini adalah cara yang salah. Yesus bisa populer karena Ia melakukan kehendak Allah dan berjalan di dalam kebenaran sekalipun kepopulerannya Yesus ini membuat begitu banyak orang pada akhirnya benci dan berusaha membunuh Yesus.

Demikian juga dengan hidup kita, kita boleh saja populer, namun bukan itu yang kita kejar, bukan juga dengan jalan yang salah. Kalau kita melihat di zaman ini di mana media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan seseorang, ternyata tidak sedikit mereka yang adalah pelayan Tuhan, hamba Tuhan, pendeta atau pastur, memanfaatkan media sosial untuk menaikkan diri mereka agar populer atau sering disebut sebagai “Pansos” atau “Panjat Sosial”. Populer tidak salah, namun godaan menjadi populer dan kemudian mengusahakan diri kita untuk populer adalah cara iblis untuk menjatuhkan hamba-hamba Tuhan di masa sekarang. Berapa banyak kita lihat para hamba Tuhan yang berusaha menaikkan citra dirinya agar tampak luar biasa melalui medsos?

Pertanyaan yang perlu kita kemukakan di hati kita adalah, apakah kita ingin mempopulerkan Allah ataukah diri kita? Apakah kita ingin memuliakan Allah ataukah diri kita? Mengapa hamba Tuhan yang mengaku hamba tetapi meninggikan diri sendiri dengan memanfaatkan nama Tuhan? Mengenai pencobaan yang demikian, begitu banyak hamba Tuhan yang jatuh kerena berusaha meninggikan diri dan bukan meninggikan Tuhan.

Maka pada saat ini kita harus belajar bahwa bila kita ditinggikan oleh iblis, berhati-hatilah karena pada akhirnya iblis ingin kita jatuh. Jangan pernah menerima tawaran iblis yang berusaha meninggikan diri kita agar tampak populer namun dengan cara memanfaatkan nama Tuhan Yesus. Jadilah hamba yang mendapat jempol atau like di hadapan Tuhan kita dan bukan berusaha mendapatkan ratusan hingga ribuan jempol atau like di hadapan manusia. Karena semua popularitas itu akhrinya sia-sia di hadapan Allah. Amin


[