Lazarus, Kematian dan Kebangkitannya

Ketika Lazarus sedang sakit, maka Marta dan Maria mengirim kabar kepada Yesus, karena keluarga ini memang dekat dengan Tuhan Yesus. Yoh 11:3  “Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”

            Perhatikan bahwa Marta dan Maria mengirim kabar kepada Yesus ketika mereka mendapatkan masalah. Dan demikianlah diri kita ketika kita menghadapi masalah, kita haruslah datang kepada Tuhan Yesus. Carilah Tuhan Yesus senantiasa, karena jalan keluar yang Tuhan Yesus berikan tentu yang terbaik untuk anak-anak-Nya.

            Ayat yang kita baca juga mengatakan “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit”. Di sini kita belajar bahwa sekalipun kita sebagai anak-anak Tuhan, kita juga dapat mengalami sakit. Bahkan sakit yang dialami oleh Lazarus ini adalah sakit yang sangat berat karena pada akhirnya mengakibatkan kematian. Sekalipun kita orang Kristen, pelayan Tuhan dan hamba Tuhan, kita tidak pernah kebal dengan sakit penyakit, penderitaan dan bahkan kematian.

            Perlu kita ketahui bahwa sekalipun kita pernah mengalami mujizat dari Tuhan Yesus, sekalipun kita pernah selamat dari kecelakaan parah, sekalipun kita pernah sembuh dari sakit yang parah, dan kita merasa dikasihi dan disayang oleh Tuhan karena mengalami berbagai macam berkat dan karunia, ketahuilah bahwa kita tetap bisa mengalami masalah kembali. Kita dapat juga mengalami sakit kembali dan mungkin saja sakit ini bertambah parah bahkan kemudian mengalami kematian. Jangan kita merasa bahwa kalau kita sudah disayang oleh Tuhan, kita tidak mungkin mengalami kesukaran, kesakitan, masalah bahkan kematian.

            Kita adalah manusia biasa, yang memiliki tubuh yang sudah tercemar oleh dosa dan tubuh ini harus mati, kembali ke tanah dan kita akan mendapatkan tubuh kemuliaan yang baru yang disediakan oleh Tuhan.

            Mari kita lanjutkan di Yoh 11:4  Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”  Bapak Ibu, memang penyakit ini pada akhirnya tidak membawa kematian, karena Lazarus dibangkitkan. Namun point terpenting dari apa yang dikatakan pada ayat tadi adalah, “oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” 

            Relakah kita kalau Anak Allah itu, yaitu Tuhan Yesus dimuliakan melalui penderitaan kita? Relakah kita kalau Anak Allah dimuliakan melalui penyakit ganas yang kita alami, melalui kebangkrutan ekonomi kita, melalui kecelakaan yang kita alami? Tentu tidak mudah bukan? Karena itulah pada saat ini kita belajar bahwa Allah bisa saja memakai penderitaan kita untuk kemuliaan-Nya. Yang perlu kita siapkan adalah hati dan hidup kita untuk rela dipakai bagi kemuliaan Allah.

Mari kita lanjutkan pembacaan di: Yoh 11:6-7

Yoh 11:6  Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 

Yoh 11:7  tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” 

 

            Dari ayat ini kita melihat bahwa Tuhan Yesus justru dengan sengaja malah “menunda” untuk datang kepada Lazarus, padahal Marta dan Maria telah mengirim kabar kepada Yesus dengan tujuan agar Yesus segera datang menolong mereka. Namun tindakan Tuhan Yesus pada waktu itu tentu tidak dimengerti oleh Maria dan Marta.

            Bukankah kita juga kadang tidak mengerti akan tindakan Tuhan dalam kehidupan kita? Mengapa kadang Tuhan tidak segera menolong kita? Kadang waktunya Tuhan tampak begitu lambat bagi kita? Tetapi percayalah bahwa dalam sudut pandang Allah, waktunya Allah adalah yang terbaik, sekalipun tampaknya lambat. Ingat bahwa Allah tidak pernah terlambat, kitalah yang sering kali tidak sabar dan ingin segera menyelesaikan semua masalah yang kita alami. Sebenarnya Tuhan ingin memproses hati kita agar hidup kita semakin bersinar untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Ingatlah kisah Yusuf bahwa Allah mengangkatnya setelah 13 tahun lamanya Yusuf dalam penderitaan. Bukan berarti Allah tidak bisa mengangkatnya dalam waktu 1 hari, karena masalahanya bukan di Allah, tetapi masalahnya adalah di dalam diri Yusuf. Karena setelah melalui 13 tahun proses yang begitu menyakitkan, akhirnya Yusuf memiliki kapasitas menjadi mangkubumi di Mesir dengan kehidupan yang menjadi berkat bagi Mesir dan dunia pada waktu itu.

Mari kita lanjutkan di Joh 11:14  Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; Joh 11:15  tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu. Memang agak sulit dicerna dengan logika apabila Lazarus akhirnya mati dan Yesus bersyukur karena tidak hadir pada waktu itu. Di sini kita belajar bahwa seringkali kita menilai situasi dan kondisi menurut logika kita manusia yang sangat terbatas, sementara rencana dan rancangan Allah adalah yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya.

Memang ketika kita membaca sampai selesai kisah ini, kita tahu bahwa maksud Yesus sengaja datang terlambat adalah karena Ia akan membangkitkan Lazarus dari kematian. Namun ketika kita berada dalam situasi saat itu, dan tidak tahu akan seperti apa nanti cerita Lazarus ini, maka mungkin kita akan menilai tindakan Yesus sebagai tindakan yang tidak peduli kepada Lazarus.

Jadi di sini kita harus belajar bahwa kita adalah manusia yang tidak mampu menilai tindakan Allah dalam hidup kita dengan pengetahuan kita yang sangat terbatas. Sebaliknya, kita harus tetap percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang baik dalam hidup kita, sekalipun kita melewati lembah kekelaman dan bayang-bayang maut.

Joh 11:20  Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Kita melihat bahwa Marta langsung pergi menyongsong Yesus ketika ia mendengar kedatangan-Nya. Kita harus memiliki hati seperti ini, yaitu hati yang ingin menyambut kedatangan-Nya. Kita harus nantikan Allah dalam hidup kita senantiasa, karena pengharapan kepada Allah tidak akan mengecewakan anak-anak-Nya.

Kita lanjutkan bacaan kita di Joh 11:32-35  Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Joh 11:33  Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: Joh 11:34  “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Joh 11:35  Maka menangislah Yesus. 

            Perhatikan bahwa Yesus menangis ketika ia melihat kuburan Lazarus dan merasakan penderitaan Marta dan Maria. Sekalipun kita tahu di ayat-ayat sebelumnya yang telah saya bahas bahwa Yesus sengaja untuk tidak langsung pergi menyembuhkan Lazarus dan bahkan Yesus sengaja membiarkan Lazarus mati karena ada rencana Allah yang sedang Yesus lakukan, toh Yesus tetap memiliki belas kasihan ketika melihat Lazarus di dalam kubur dan melihat Maria dan Marta dalam kesedihan dan ratapan mereka.

            Artinya di sini kita belajar bahwa sekalipun kita sedang diproses oleh Tuhan melalui keadaan sulit yang sedang kita hadapi, Tuhan Yesus bukanlah Tuhan yang tertawa melihat penderitaan kita, Tidak! Ia Tuhan yang juga bersedih melihat kita sedang berjuang dalam proses kehidupan yang tidak mudah ini. Proses ini harus kita jalani sekalipun dengan air mata, karena dalam pandangan Allah proses ini memurnikan dan mendewasakan anak-anak-Nya.

Joh 11:44  Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”  Kita melihat bahwa mujizat yang Tuhan Yesus kerjakan ini adalah mujizat yang begitu fenomenal sekali. Kalau kita sedang melewati penderitaan yang tampaknya sanagt sulit dan tampaknya jalan kita buntu, maka mujizat yang fenomenal akan terjadi dalam hidup kita. Karena itu nantikanlah Tuhan dengan tetap berharap kepada-Nya.

            Nah Bapak Ibu, kita melihat bahwa sekalipun Lazarus tidak mampu berbuat apapun, ia berada di dalam gua, telah mati, tangan dan kaki terikat oleh kain kapan, namun Tuhan Yesus mampu mengerjakan sesuatu yang fenomenal. Di sini kita juga belajar bahwa sekalipun kita mungkin sudah berada di titik nol dalam hidup kita, mungkin kita sudah berada di titik terendah dalam hidup ini, ketahuilah bahwa Tuhan Yesus sanggup mengangkat kita sekalipun kita berada di dalam jurang yang begitu dalam.

            Ingat kisah mengenai Iman seorang Janda Miskin yang harus membela haknya di hadapan hakim yang lalim yang pernah saya khotbahkan? Di akhir dari perikop ini di Luk 18:8 dikatakan Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Permasalahannya adalah ketika kita berada di dalam tekanan terus menerus, ketika kita berada di lorong gelap kehidupan begitu lama, kita bahkan tidak melihat sinar dalam gelapnya jalan kita, apakah kita tetap percaya dan mengharapkan Tuhan? Banyak orang Kristen di masa-masa seperti itu akan berguguran iman mereka, mereka akan kecewa terhadap Tuhan karena merasa bahwa Tuhan tidak peduli dengan hidup mereka. Mereka akan marah dengan keadaan, marah dengan saudara seiman yang tidak memperhatikan mereka, bahkan mungkin juga mereka akan marah dengan gembala dan pendeta di gereja karena tidak memperhatikan dan mendoakan mereka.

            Karena itulah, kita harus tetap memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yesus sekalipun kita begitu lama menghadapi masalah, sekalipun kita berada di jalan yang buntu. Sama seperti kisah orang lumpuh yang 38 tahun yang beberapa waktu lalu telah saya khotbahkan, bahwa hal yang luar biasa adalah ia tetap memiliki iman percaya bahwa ia akan sembuh sekalipun ia berada di tilamnya, tidak mampu ke mana-mana dan tidak ada orang yang peduli.

            Di sini kita melihat bahwa sekalipun kita terbatas, sumber daya kita, sumber dana kita juga terbatas, percayalah kalau Tuhan Yesus mendatangi Lazarus di dalam gua kematian, Tuhan Yesus yang sama juga akan mendatangi hidup kita yang gelap untuk di bawa ke dalam kehidupan yang terang benderang. Kalau Lazarus di dalam gua tertutup dan telah mati, perkataan Yesus membuatnya mendengar dan hidup kembali.

            Maka sebagai anak-anak Tuhan kita perlu mendengar terus perkataan Yesus melalui khotbah-khotbah dan membaca merenungkan Firman Tuhan agar manusia roh kita bisa dipertajam, agar manusia psikis kita juga kuat menghadapi kesulitan hidup.

            Di akhir khotbah saya, saya mau sampaikan bahwa kita harus beriman kepada Tuhan Yesus, SEKALI YESUS, TETAP YESUS SAMPAI SELAMA-LAMANYA. Tidak peduli apapun keadaan hidup kita, tidak peduli kesulitan yang kita hadapi, janganlah putus asa, karena sebenarnya Tuhan Yesus juga menangis melihat kehidupan yang sedang kita hadapi. Karena itu, tunggulah waktunya Tuhan karena waktunya Tuhan adalah yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Amin