Banyak orang tentunya senang jika di usia tuanya sudah
dapat menikmati hasil kerja kerasnya di waktu muda. Ketika sudah tua,
keadaannya sangat diberkati, memiliki materi yang cukup dan memiliki kesehatan
yang baik. Hal ini tentu didambakan semua orang, termasuk oleh anak-anak Tuhan.
Dan tentu saja kita sudah sering mendengar banyak hamba-hamba Tuhan yang
menyampaikan khotbahnya bagaimana cara menjadi kaya dengan mengutip banyak
ayat-ayat di Alkitab. Karena itulah pada saat ini kita akan belajar kebenaran
Firman Tuhan dari sudut pandang yang berbeda.

Mari kita lihat di kitab Kejadian 24:1  “Adapun Abraham telah
tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.”
Dikatakan
oleh firman Tuhan bahwa Abraham yang telah tua ini diberkati Tuhan dalam segala
hal, tentu yang dimaksudkan segala hal ini mencakup hal rohani dan jasmani.
Dalam hal rohani, ia begitu dekat dan berkenan kepada Allah, karena itulah
Abraham dikatakan sebagai sahabat Allah seperti yang dituliskan di Yak
2:23 “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu
percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya
sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat
Allah.”
 

Sementara dalam hal jasmani, Abraham memiliki kekayaan yang sangat luar
biasa, dikatakan di Kej 13:2  “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak,
perak dan emasnya.”
Kekayaan Abraham tidak perlu diragukan dan
dipertanyakan, ia adalah orang yang sangat kaya raya dan diberkati oleh Allah.
Kedudukannya sejajar dengan raja-raja pada zaman itu, terbukti ia dapat dengan
mudah bertemu dengan Firaun seperti dituliskan di Kej 2:16  “Firaun
menyambut Abram dengan baik-baik”
.  Abraham juga mengenal dengan baik Abimelekh
yang merupakan Raja Gerar dan mempersilahkannya untuk tinggal di manapun ia
suka.
Kej
20:15  Dan Abimelekh berkata: “Negeriku ini terbuka untuk engkau;
menetaplah, di mana engkau suka.
 

Bahkan ketika Abraham berada di tanah Kanaan yang dijanjikan Allah
kepadanya, penduduk asli yaitu Bani Het menyebutnya sebagai raja agung, mari
kita lihat di Kej 23:5
-6  Bani Het menjawab
Abraham:  “Dengarlah kepada kami, tuanku. Tuanku ini seorang raja
agung di tengah-tengah kami
.”

            Dari sini kita dapat melihat bahwa
Abraham adalah orang yang luar biasa di dalam hal kekayaan, dalam hal
hubungannya dengan Tuhan dan juga dalam posisinya di tengah bangsa-bangsa hebat
pada masa itu. Jadi ketika Alkitab berkata bahwa di masa tuanya Abraham
diberkati Tuhan dalam segala hal, maka benarlah dalam segala hal Abraham
diberkati dengan luar biasa.

            Siapa yang tidak ingin menikmati
kehidupan seperti Abraham? Tentu kita semua ingin seperti Abraham, namun
pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah; apakah kita
bisa benar-benar seperti Abraham dalam menjalani perjalanan hidupnya dan
pergumulannya? Mari kita lihat pergumulan yang dialaminya, perjuangan yang
dijalaninya sehingga kita tidak hanya melihat berkatnya saja, namun juga semua
kesulitan yang pernah dihadapinya.

1.     Abraham
diminta keluar dari negeri dan keluarganya
seperti
dikatakan di Kej
12:1  Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari
negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu
ini ke negeri yang
akan Kutunjukkan kepadamu; 

Selain
Abraham diminta untuk keluar dari negerinya dan dari keluarganya, ayat tersebut
juga mengatakan bahwa Allah belum memberitahukan negeri yang akan dituju oleh
Abraham. Ia pergi dengan tidak mengetahui ke manakah ia harus melangkah karena
Allah tidak memberitahukannya lebih dahulu kepadanya. Ayat yang lainnya lagi
dapat kita perhatikan di Ibr
11 12:1  Berfirmanlah TUHAN kepada Abram:
“Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini
ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu

Jadi
Abraham dan Sara pergi dengan meninggalkan segala sesuatunya tanpa mengetahui
harus ke manakah mereka melangkahkan kakinya. Bagi kita yang membaca kisah ini,
tampaknya tidak ada persoalan yang berarti, tidak ada pergumulan yang kita
rasakan, karena kita tidak mengalaminya sendiri. Namun bila Bapak Ibu diminta
oleh Tuhan meninggalkan pekerjaan, meninggalkan usahanya, menjual rumahnya, dan
meninggalkan orang tuanya untuk pergi ke tempat yang belum diberi tahu,
kira-kira apa yang terjadi ketika kita benar-benar melakukannya? Semua orang
akan mengatakan kita orang gila. Tidak ada seorangpun yang mendukung keputusan
kita keluar dari pekerjaan yang sudah pasti dan mapan yang memberikan jaminan
kehidupan kita.

Terlebih
lagi bila kita menjadi seperti Sara, khususnya Ibu-ibu yang mendengar khotbah
pada saat ini, dapatkah ibu-ibu mempertaruhkan semuanya dan merelakan suaminya
yang telah mapan dalam pekerjaan atau usahanya untuk keluar dari pekerjaannya,
kemudian menjual rumahnya, mobil, dan harta miliknya?

Bukankah
seorang wanita atau istri butuh kepastian dalam menjalani rumah tangganya?
Tanpa kepastian dalam rumah tangga, maka seorang istri akan selalu merasa tidak
tenang. Dan luar biasanya, Sara mendukung keputusan Abraham suaminya ini.
Padahal Allah hanya berbicara kepada Abraham dan tidak berbicara kepada Sara.
Namun karena Sara mempercayai Abraham, ia mau mengikuti ke manapun Abraham
melangkah. Tanpa dukungan dari Sara, tidak mungkin Abraham pergi seorang diri
dari negerinya, karena janji Allah ini melibatkan Abraham dan Sara.

Ketika
hal ini terjadi pada keluarga kita, apakah kita mampu menjalani seperti yang
Abraham dan Sara alami? Tidak mudah bukan?

Mari
kita lihat point kedua

2.     Abraham
merelakan Ishak untuk dikorbankan

Ketika
kita membaca kisah di Kej 22, tanpa keterlibatan diri kita secara personal,
maka kita tidak mengalami pergumulan apapun seperti yang dialami oleh Abraham.
Namun ketika kita memiliki anak satu-satunya yang telah kita perjuangkan
bertahun-tahun dan kemudian anak kita ini sakit yang cukup kritis hingga masuk
ICU, saya yakin tidak ada orang tua yang tenang menghadapi situasi kristis yang
sedang dihadapi. Semua orang tua yang normal akan berkata, “Lebih baik aku yang
sakit, dan bukan anakku”.

Sementara
apa yang dialami oleh Abraham jauh lebih dilematis dari pada apa yang saya
sampaikan sebelumnya. Abraham diminta oleh Allah untuk mengorbankan anaknya
yang ia kasihi, seperti dikatakan di Kej 22:2,
Firman-Nya:
“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak,
pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai
korban bakaran
pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
 Ada 2 fakta yang dapat kita lihat pada ayat
tersebut, yaitu

a.      Fakta pertama adalah bahwa Ishak adalah anak yang
benar-benar dikasihi, disayang oleh Abraham. Kalau Bapak Ibu memiliki anak
tunggal dan benar-benar mengasihi menyayanginya, tentu dapat merasakan seperti
apakah rasa sayang kita kepada anak tunggal kita. Dan Abraham memiliki anak
tunggal ini di masa usianya yang sangat lanjut, sehingga ini merupakan
penghiburan di masa tuanya.

b.     Fakta kedua mengenai Ishak yang dikorbankan.

Hal yang sangat sulit bagi Abraham yang adalah; yang
harus mengorbankan atau menyembelih Ishak
anaknya yang dikasihi adalah
Abraham sendiri, ayahnya sendiri!

Sampai di sini, kalau kita menjadi Abraham, apakah
kita mampu menjawab ujian dari Allah? Mungkin kita akan segera menengking “suara
Allah” dengan mengatakan bahwa itu suara setan.

Apa yang diminta oleh Allah tampak seperti
bertentangan dengan semua hal yang kita percayai tentang Allah bahwa Allah
adalah Allah yang maha kasih dan penyayang.

Kalau kita memiliki anak tunggal, tentu sebagai
orang tua yang normal akan kuatir terjadi sesuatu pada anaknya bila anak itu
sakit parah. Namun hal sakit ini tidak dapat dihindari dan bukanlah suatu
pilihan untuk menjalaninya.

Berbeda dengan Abraham yang menghadapi pergumulan
untuk mengorbankan Ishak anaknya yang dikasihinya, ia memiliki pilihan untuk
mengorbankan atau tidak mengorbankan. Dan pilihan ini jauh lebih sulit daripada
orang tua yang tidak mempunyai pilihan terhadap anaknya yang sakit keras.

Sekalipun
kita tahu bersama bahwa Abraham pada akhirnya tidak mempersembahkan Ishak
karena Allah menggantinya dengan domba jantan, namun Abraham tidak sedang
berpura-pura
akan menyembelih, melainkan ia dengan sungguh-sungguh
berniat menyembelih anaknya Ishak. Hal ini terbukti di Ibr
11:19  Karena ia (Abraham)
berpikir,
bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang
mati.
Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali
.

Jadi Abraham memang berniat untuk benar-benar
mengorbankan Ishak karena ia memiliki iman bahwa pasti Allah akan membangkitkan
Ishak sekalipun Ishak mati tersembelih. Dan memiliki ketetapan hati seperti ini
bukan perkara mudah bagi orang tua yang mengasihi anaknya.

 

            Setelah kita mendengarkan apa yang terjadi pada
Abraham, saya yakin bahwa tidak ada di antara kita yang mau dengan sukarela
menjalani hidup seperti yang Abraham jalani. Tidak mudah menjalani kehidupannya
yang sangat sulit dan penuh pergumulan itu.

            Karena
itulah kalau hidup Abraham diberkati dengan luar biasa, janganlah kita iri
dengan berkatnya, karena masing-masing orang memiliki berkatnya sendiri-sendiri
dan pergumulannya masing-masing.

            Beberapa
hal yang perlu kita perhatikan pada saat ini adalah;

a.      Setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing,
karena itu janganlah kita menghakimi mereka yang sedang menghadapi pergumulan
yang berat itu.

b.     Setiap orang memiliki peperangannya masing-masing
untuk dimenangkan dan setelah kemenangan dicapai, ada berkat yang Tuhan
sediakan. Karena itu bersabarlah dan tetap percaya kepada Allah sementara kita
menghadapi peperangan dalam hidup ini.

c.      Jangan iri dengan berkat yang Tuhan berikan kepada
orang lain, karena berkat yang Tuhan berikan kepada kita juga tidak Tuhan
berikan kepada orang lain. Tuhan memiliki porsi masing-masing dalam memberkati
anak-anak-Nya.

d.     Tidak perlu memaksakan orang memakai “sepatu” kita
atau memaksa orang memahami penderitaan kita, karena semua orang;

       
Mempunyai
pergumulannya masing-masing,

       
mempunyai
perjuangannya masing-masing

       
mempunya penderitaannya
masing-masing

       
mempunyai
salibnya masing-masing

 

       
dan
mempunya mahkotanya kemenangannya masing-masing.

47 thoughts on “Abraham menjadi tua dan diberkati”

  1. The Beatles – легендарная британская рок-группа, сформированная в 1960 году в Ливерпуле. Их музыка стала символом эпохи и оказала огромное влияние на мировую культуру. Среди их лучших песен: “Hey Jude”, “Let It Be”, “Yesterday”, “Come Together”, “Here Comes the Sun”, “A Day in the Life”, “Something”, “Eleanor Rigby” и многие другие. Их творчество отличается мелодичностью, глубиной текстов и экспериментами в звуке, что сделало их одной из самых влиятельных групп в истории музыки. Музыка 2024 года слушать онлайн и скачать бесплатно mp3.

  2. лазерная сварка ручная [url=https://www.apparat-ruchnoy-lazernoy-svarki.ru/]https://www.apparat-ruchnoy-lazernoy-svarki.ru/[/url] .

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *