Kasihilah Musuhmu

Mat 5:43-48

Shalom jemaat yang dikasihi Tuhan, pada hari ini kita kembali belajar dari pengajaran Tuhan Yesus yang saya ambil dari Mat 5:43-48 mengenai mengasihi musuh kita. Ini adalah sebuah pesan yang menantang bagi kita semua untuk bisa menjangkau atau melampaui kecenderungan kedagingan kita dan berjuang untuk mencapai standar kasih yang lebih tinggi.

Sebelumnya mari kita baca Firman Tuhan lebih dahulu.

Mat 5:43  Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 

Mat 5:44  Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 

Mat 5:45  Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 

Mat 5:46  Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 

Mat 5:47  Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 

Mat 5:48  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” 

 

Isi

Dalam Matius 5:43-48, Yesus memberikan kepada kita sebuah pengajaran yang sangat berbeda dan tampak tidak masuk akal, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Dalam pesan ayat yang sangat kuat ini, kita harus bisa menyelami betapa dalamnya “kasih” itu sebenarnya. Kita juga diajak untuk menyelami dan memahami arti dari “belas kasihan, dan pengampunan”.

Ketika Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, Tuhan Yesus sebenarnya sedang memberikan contoh kepada diri kita sendiri, bahwa sebenarnya kita adalah orang yang berdosa dan menjadi musuh Allah. Namun karena kasih-Nya kepada kita, Allah mengampuni dan menghapuskan dosa-dosa kita. Karena itulah Allah juga ingin agar kita melakukan hal yang sama kepada musuh-musuh kita dan orang-orang yang membenci kita.

Dari pembacaan Firman Tuhan tadi, ada beberapa point yang ingin saya sampaikan;

  1. Standar Dunia vs Standar Allah:

Dalam ayat pembuka tadi, Tuhan Yesus memulai dengan mengkontraskan standar dunia dengan standar Allah. Ia mengutip sebuah sebuah pandangan yang populer pada masa itu yaitu “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Tentu saja pemahaman ini mewakili naluri dasar manusia yang ada secara umum, kita mengasihi orang-orang yang dekat dengan kita, teman-teman dan tetangga kita, dan memendam kebencian atau ketidakpedulian terhadap musuh-musuh kita atau orang-orang yang membenci kita. Ini adalah standar yang ada di masyarakat umum dan berakar pada kenyamanan diri sendiri.

Tuhan Yesus memanggil kita kepada suatu nilai yang lebih tinggi dari masyarakat umum dan bahkan Yesus mendorong kita untuk melampaui batas norma yang ada di masyarakat saat itu dan saat ini. Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, yang mungkin terlihat berlawanan dengan isi hati atau perasaan kita. Namun di sinilah kita memahami bahwa Allah memberikan kita sebuah standar yang berbeda dengan standar dunia. Bila dunia ingin membalas, Allah ingin mengampuni. Bila dunia ingin membenci, Allah justru ingin mengasihi. Bukankah Yoh 3:16 menunjukkan kasih Allah yang begitu besar kepada kita semua? Karena itulah kita harus menuruti perintah Allah dan mengasihi orang-orang yang membenci kita. Ingat kita bukan dari dunia ini dan bukan milik dunia ini. Kita ini bagian dari Allah dan milik Allah sendiri. Karena itulah kita memiliki standar yang berbeda dengan dunia.

  1. Mengasihi Musuh

Mengasihi musuh berarti kita sedang menunjukkan kebaikan, belas kasihan, dan pengampunan kepada mereka yang telah berbuat salah pada kita atau orang yang menganggap diri kita sebagai musuhnya. Mengasihi musuh tentu bukan hanya sekadar menyapa atau berkomunikasi, melainkan malah memberikan kebaikan kepada orang yang membenci kita.

Namun apakah dengan mengasihi musuh justru berarti Tuhan Yesus juga sedang mengajarkan kesulitan bagi diri kita sendiri? Misalnya; ada seseorang yang berhutang kepada kita dan tidak membayar, dengan kondisi seperti ini apakah pengampunan yang kita berikan berarti juga memberikan hutang kembali? Jawabannya tentu saja tidak! Di bagian lain, Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, artinya kita tentu harus tulus, namun ketulusan kita juga harus diimbangi dengan kecerdikan dan jangan sampai ketulusan kita dimanfaatkan atau merugikan diri kita sendiri.

Bisa dibayangkan apabila kita mengasihi musuh itu diartikan kita selalu memberikan hutang kepada orang lain, bila demikian maka kita sendiri yang akhirnya akan jatuh bangkrut dan pada akhirnya tidak ada orang yang menolong kita. Jadi jangan mengartikan kebenaran Firman Tuhan “Mengasihi musuh” juga berarti menghancurkan diri kita dan hidup kita sendiri, sama sekali tidak. Mengasihi musuh berarti mengampuni kesalahan musuh kita, sementara karakter orang itu berubah atau tidak, itu bukanlah bagian kita. Jadi tentu saja kita tetap waspada untuk tidak dimanfaatkan oleh kelicikan orang itu.

III. Serupa Karakter Yesus:

Mengasihi musuh adalah tanda dari karakter yang menyerupai Yesus. Hal ini mencerminkan sifat Tuhan yang mengasihi dan mengampuni. Ketika Tuhan Yesus ada di puncak penderitaannya, yaitu di atas kayu salib, Tuhan Yesus berkata, di Luk 23:34  Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini adalah hal yang benar-benar sulit diterima dengan akal sehat manusia. Bagaimana mungkin Tuhan Yesus yang notabene adalah Tuhan dan pencipta, namun disiksa oleh ciptaan-Nya sendiri dan ketika disiksa hingga sangat menderita secara fisik dan batin, Tuhan Yesus berkata, “Ampunilah mereka”? Di sini Tuhan Yesus memberikan contoh yang jelas dan nyata bahwa pengampunan kepada manusia, Ia berikan dengan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus tidak hanya memperkatakan Firman, namun juga melakukannya.

Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita juga mengampuni orang-orang yang menyalibkan kedagingan kita? Apakah kita mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita? Apakah kita mengasihi musuh-musuh kita? Kalau kita benar anak-anak Tuhan, maka kita juga harus menjadi pribadi yang semakin lama semakin serupa dengan Kristus. Karena pada akhirnya pengampunan kepada orang yang menyakiti kita akan menjadi kesaksian yang kuat bagi dunia.

  1. Merefleksikan Kasih Allah

Dalam perikop yang kita baca tadi, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Hal ini menggambarkan bahwa kasih Allah tidak mengenal batas, tidak hanya kepada orang baik saja namun juga kepada orang jahat, tidak hanya kepada orang benar saja, melainkan juga orang tidak benar. Kasih Allah dapat dinikmati oleh semua orang dan semua bangsa.

Maka kita sebagai anak-anak Tuhan harus bisa memperlakukan semua orang dengan sama, dan tidak membeda-bedakan perlakuan kita kepada mereka. Seringkali perlakuan kita berbeda ketika berhadapan dengan orang yang lebih secara pendidikan, lebih secara materi, lebih secara jabatan, dan sebagainya. Namun kepada orang yang lebih rendah dari kita, kita terkadang meremehkan mereka. Hal seperti ini tidak boleh terjadi di dalam kehidupan kita. Kita harus memperlakukan sama kepada semua orang, kita harus menghormati mereka. Dan kita harus memberikan kasih Allah kepada semua orang, termasuk musuh kita.

  1. Di dalam pengampunan ada penghukuman

Ada hal yang menarik ketika bangsa Israel ada di Mesir, Allah dengan jelas membuat perbedaan antara orang Mesir dan orang Israel, tampaknya berbeda dengan poin sebelumnya di nomor IV, namun sebenarnya tidak benar-benar berbeda.

Konteksnya adalah, Allah pada saat itu sedang menunjukkan kepada orang Israel bahwa Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub menyertai mereka. Di sisi lain, Allah juga sedang menghukum bangsa Mesir yang telah menindas bangsa Israel dan juga yang telah menghalangi bangsa Israel untuk keluar dari Mesir. Tentu tindakan Allah kepada bangsa Mesir adalah tindakan keadilan yang ditujukan kepada orang Mesir di mana Allah telah berulang kali memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat namun mereka tidak bertobat.

Hal seperti ini juga terjadi pada peristiwa Sodom dan Gomora di Kej 18:20-33, di mana Tuhan telah memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat namun ketika dosa-dosa mereka sudah sampai kepada puncaknya dan begitu banyak orang berkeluh kesah karena dosa Sodom Gomora, maka Tuhan hendak menghukum mereka. Kata “berkeluh kesah” pada Kej 18:20 sebenarnya adalah jeritan atau teriakan atau tangisan. Artinya dosa-dosa yang Sodom Gomora lakukan begitu mengerikan hingga dosa-dosa ini begitu menyengsarakan begitu banyak orang, dan karena itulah maka kesabaran Tuhan sudah sampai puncaknya dan pada akhirnya mereka dibinasakan.

Ingat peristiwa mengenai air bah Nuh? Alkitab mengatakan di Kej 6:7 bahwa Allah menghukum bumi dan manusia karena kejahatan manusia yang begitu besar. Allah menghukum mansuia dengan air bah dan Nuh beserta keluarganya merupakan satu-satunya keluarga yang selamat dari air bah yang telah meliputi bumi.

Bagaimana dengan zaman Perjanjian Baru? Apakah Firman Tuhan yang mengatakan untuk mengasihi musuh juga berarti mengampuni semua dosa-dosa mereka tanpa batas? Tentu saja tidak. Ingat bahwa kesabaran Tuhan ada batasnya, kebaikan Tuhan tidak dapat kita artikan sebagai kesempatan untuk berbuat dosa dan kejahatan semaunya kita sendiri. Firman Tuhan mengatakan di 2 Pet 3:9  “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Di sini jelas dikatakan bahwa Allah di zaman perjanjian baru atau zaman anugerah, memberikan begitu banyak kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Ingat bahwa kesabaran Allah ada batasnya, Allah ingin agar manusia bertobat namun bila tidak bertobat maka pada waktunya Allah akan menghukum mereka.

Wahyu 22:11  Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”  22:12  “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. 

Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa orang-orang pada akhirnya akan terus berbuat jahat, terus berbuat cemat dan mereka tidak akan berubah, hingga pada akhirnya mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka.

Jadi saudara sekalian, sekalipun Allah mengatakan bahwa kita harus mengampuni musuh-musuh kita, hal itu sama sekali tidak menghapuskan dosa-dosa mereka. Kalau mereka tidak bertobat maka pada akhirnya Allah akan menghukum mereka. Tugas kita adalah mengampuni mereka dan bukan meminta mereka untuk bertobat, karena urusan pertobatan adalah bagian orang itu dengan Allah dan bukan bagian kita.

Karena itu, mari kita kerjakan bagian kita untuk mengampuni musuh-musuh kita dan hidup di dalam damai sejahatera karena kita telah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Amin

2 thoughts on “Kasihilah Musuhmu”

  1. XEvil 6.0 secara otomatis memecahkan sebagian besar jenis captcha,
    Termasuk jenis captcha seperti itu: ReCaptcha-2, ReCaptcha-3, Hotmail, Google captcha, SolveMedia, BitcoinFaucet, Steam, Amazon, Twitter, Microsoft, Twitch, Outlook, +12000
    + hCaptcha, ArkoseLabs FunCaptcha, ReCaptcha Enterprize didukung di xevil baru 6.0!

    1.) Cepat, mudah, precisionly
    XEvil adalah pembunuh captcha tercepat di dunia. Its tidak memiliki batas pemecahan, tidak ada batas jumlah benang
    Anda dapat memecahkan bahkan 1.000.000.000 captcha per hari dan akan dikenakan biaya 0 (nol) USD! Hanya membeli lisensi untuk 59 USD dan semua!

    2.) Beberapa dukungan api
    XEvil mendukung lebih dari 6 API yang berbeda dan dikenal di seluruh dunia: 2Captcha, anti-captchas.com (antigate), rucaptcha.com, death-by-captcha, etc.
    cukup kirim captcha Anda melalui permintaan HTTP, karena Anda dapat mengirim ke salah satu layanan itu – dan XEvil akan menyelesaikan captcha anda!
    Jadi, XEvil kompatibel dengan ratusan aplikasi untuk SEO / SMM / pemulihan kata sandi/parsing/posting/mengklik/cryptocurrency / dll.

    3.) Dukungan dan manual yang berguna
    Setelah pembelian, Anda mendapat akses ke teknologi pribadi.dukungan forum, Wiki, Skype / Telegram dukungan online
    Pengembang akan melatih XEvil untuk jenis captcha gratis dan sangat cepat – hanya mengirim mereka contoh

    4.) Cara mendapatkan penggunaan percobaan gratis dari XEvil versi lengkap?
    – Coba cari di Google “Home of XEvil”
    – Anda akan menemukan IP dengan port terbuka 80 dari pengguna XEvil (klik pada IP apa pun untuk memastikan)
    – coba kirim captcha Anda melalui 2captcha API ino salah satu IP itu
    – jika Anda punya kesalahan kunci buruk, hanya tru IP lain
    – nikmati! 🙂
    – (tidak bekerja untuk hCaptcha!)

    Peringatan: gratis XEVIL DEMO tidak mendukung ReCaptcha, hCaptcha dan sebagian besar jenis captcha!

    http://XEvil.Net/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kasihilah Musuhmu

Mat 5:43-48

Shalom jemaat yang dikasihi Tuhan, pada hari ini kita kembali belajar dari pengajaran Tuhan Yesus yang saya ambil dari Mat 5:43-48 mengenai mengasihi musuh kita. Ini adalah sebuah pesan yang menantang bagi kita semua untuk bisa menjangkau atau melampaui kecenderungan kedagingan kita dan berjuang untuk mencapai standar kasih yang lebih tinggi.

Sebelumnya mari kita baca Firman Tuhan lebih dahulu.

Mat 5:43  Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 

Mat 5:44  Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 

Mat 5:45  Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 

Mat 5:46  Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 

Mat 5:47  Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 

Mat 5:48  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” 

Dalam Matius 5:43-48, Yesus memberikan kepada kita sebuah pengajaran yang sangat berbeda dan tampak tidak masuk akal, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Dalam pesan ayat yang sangat kuat ini, kita harus bisa menyelami betapa dalamnya “kasih” itu sebenarnya. Kita juga diajak untuk menyelami dan memahami arti dari “belas kasihan, dan pengampunan”.

Ketika Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, Tuhan Yesus sebenarnya sedang memberikan contoh kepada diri kita sendiri, bahwa sebenarnya kita adalah orang yang berdosa dan menjadi musuh Allah. Namun karena kasih-Nya kepada kita, Allah mengampuni dan menghapuskan dosa-dosa kita. Karena itulah Allah juga ingin agar kita melakukan hal yang sama kepada musuh-musuh kita dan orang-orang yang membenci kita.

Dari pembacaan Firman Tuhan tadi, ada beberapa point yang ingin saya sampaikan;

  1. Standar Dunia vs Standar Allah:

Dalam ayat pembuka tadi, Tuhan Yesus memulai dengan mengkontraskan standar dunia dengan standar Allah. Ia mengutip sebuah sebuah pandangan yang populer pada masa itu yaitu “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Tentu saja pemahaman ini mewakili naluri dasar manusia yang ada secara umum, kita mengasihi orang-orang yang dekat dengan kita, teman-teman dan tetangga kita, dan memendam kebencian atau ketidakpedulian terhadap musuh-musuh kita atau orang-orang yang membenci kita. Ini adalah standar yang ada di masyarakat umum dan berakar pada kenyamanan diri sendiri.

Tuhan Yesus memanggil kita kepada suatu nilai yang lebih tinggi dari masyarakat umum dan bahkan Yesus mendorong kita untuk melampaui batas norma yang ada di masyarakat saat itu dan saat ini. Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, yang mungkin terlihat berlawanan dengan isi hati atau perasaan kita. Namun di sinilah kita memahami bahwa Allah memberikan kita sebuah standar yang berbeda dengan standar dunia. Bila dunia ingin membalas, Allah ingin mengampuni. Bila dunia ingin membenci, Allah justru ingin mengasihi. Bukankah Yoh 3:16 menunjukkan kasih Allah yang begitu besar kepada kita semua? Karena itulah kita harus menuruti perintah Allah dan mengasihi orang-orang yang membenci kita. Ingat kita bukan dari dunia ini dan bukan milik dunia ini. Kita ini bagian dari Allah dan milik Allah sendiri. Karena itulah kita memiliki standar yang berbeda dengan dunia.

  1. Mengasihi Musuh

Mengasihi musuh berarti kita sedang menunjukkan kebaikan, belas kasihan, dan pengampunan kepada mereka yang telah berbuat salah pada kita atau orang yang menganggap diri kita sebagai musuhnya. Mengasihi musuh tentu bukan hanya sekadar menyapa atau berkomunikasi, melainkan malah memberikan kebaikan kepada orang yang membenci kita.

Namun apakah dengan mengasihi musuh justru berarti Tuhan Yesus juga sedang mengajarkan kesulitan bagi diri kita sendiri? Misalnya; ada seseorang yang berhutang kepada kita dan tidak membayar, dengan kondisi seperti ini apakah pengampunan yang kita berikan berarti juga memberikan hutang kembali? Jawabannya tentu saja tidak! Di bagian lain, Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, artinya kita tentu harus tulus, namun ketulusan kita juga harus diimbangi dengan kecerdikan dan jangan sampai ketulusan kita dimanfaatkan atau merugikan diri kita sendiri.

Bisa dibayangkan apabila kita mengasihi musuh itu diartikan kita selalu memberikan hutang kepada orang lain, bila demikian maka kita sendiri yang akhirnya akan jatuh bangkrut dan pada akhirnya tidak ada orang yang menolong kita. Jadi jangan mengartikan kebenaran Firman Tuhan “Mengasihi musuh” juga berarti menghancurkan diri kita dan hidup kita sendiri, sama sekali tidak. Mengasihi musuh berarti mengampuni kesalahan musuh kita, sementara karakter orang itu berubah atau tidak, itu bukanlah bagian kita. Jadi tentu saja kita tetap waspada untuk tidak dimanfaatkan oleh kelicikan orang itu.

III. Serupa Karakter Yesus:

Mengasihi musuh adalah tanda dari karakter yang menyerupai Yesus. Hal ini mencerminkan sifat Tuhan yang mengasihi dan mengampuni. Ketika Tuhan Yesus ada di puncak penderitaannya, yaitu di atas kayu salib, Tuhan Yesus berkata, di Luk 23:34  Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini adalah hal yang benar-benar sulit diterima dengan akal sehat manusia. Bagaimana mungkin Tuhan Yesus yang notabene adalah Tuhan dan pencipta, namun disiksa oleh ciptaan-Nya sendiri dan ketika disiksa hingga sangat menderita secara fisik dan batin, Tuhan Yesus berkata, “Ampunilah mereka”? Di sini Tuhan Yesus memberikan contoh yang jelas dan nyata bahwa pengampunan kepada manusia, Ia berikan dengan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus tidak hanya memperkatakan Firman, namun juga melakukannya.

Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita juga mengampuni orang-orang yang menyalibkan kedagingan kita? Apakah kita mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita? Apakah kita mengasihi musuh-musuh kita? Kalau kita benar anak-anak Tuhan, maka kita juga harus menjadi pribadi yang semakin lama semakin serupa dengan Kristus. Karena pada akhirnya pengampunan kepada orang yang menyakiti kita akan menjadi kesaksian yang kuat bagi dunia.

  1. Merefleksikan Kasih Allah

Dalam perikop yang kita baca tadi, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Hal ini menggambarkan bahwa kasih Allah tidak mengenal batas, tidak hanya kepada orang baik saja namun juga kepada orang jahat, tidak hanya kepada orang benar saja, melainkan juga orang tidak benar. Kasih Allah dapat dinikmati oleh semua orang dan semua bangsa.

Maka kita sebagai anak-anak Tuhan harus bisa memperlakukan semua orang dengan sama, dan tidak membeda-bedakan perlakuan kita kepada mereka. Seringkali perlakuan kita berbeda ketika berhadapan dengan orang yang lebih secara pendidikan, lebih secara materi, lebih secara jabatan, dan sebagainya. Namun kepada orang yang lebih rendah dari kita, kita terkadang meremehkan mereka. Hal seperti ini tidak boleh terjadi di dalam kehidupan kita. Kita harus memperlakukan sama kepada semua orang, kita harus menghormati mereka. Dan kita harus memberikan kasih Allah kepada semua orang, termasuk musuh kita.

  1. Di dalam pengampunan ada penghukuman

Ada hal yang menarik ketika bangsa Israel ada di Mesir, Allah dengan jelas membuat perbedaan antara orang Mesir dan orang Israel, tampaknya berbeda dengan poin sebelumnya di nomor IV, namun sebenarnya tidak benar-benar berbeda.

Konteksnya adalah, Allah pada saat itu sedang menunjukkan kepada orang Israel bahwa Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub menyertai mereka. Di sisi lain, Allah juga sedang menghukum bangsa Mesir yang telah menindas bangsa Israel dan juga yang telah menghalangi bangsa Israel untuk keluar dari Mesir. Tentu tindakan Allah kepada bangsa Mesir adalah tindakan keadilan yang ditujukan kepada orang Mesir di mana Allah telah berulang kali memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat namun mereka tidak bertobat.

Hal seperti ini juga terjadi pada peristiwa Sodom dan Gomora di Kej 18:20-33, di mana Tuhan telah memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat namun ketika dosa-dosa mereka sudah sampai kepada puncaknya dan begitu banyak orang berkeluh kesah karena dosa Sodom Gomora, maka Tuhan hendak menghukum mereka. Kata “berkeluh kesah” pada Kej 18:20 sebenarnya adalah jeritan atau teriakan atau tangisan. Artinya dosa-dosa yang Sodom Gomora lakukan begitu mengerikan hingga dosa-dosa ini begitu menyengsarakan begitu banyak orang, dan karena itulah maka kesabaran Tuhan sudah sampai puncaknya dan pada akhirnya mereka dibinasakan.

Ingat peristiwa mengenai air bah Nuh? Alkitab mengatakan di Kej 6:7 bahwa Allah menghukum bumi dan manusia karena kejahatan manusia yang begitu besar. Allah menghukum mansuia dengan air bah dan Nuh beserta keluarganya merupakan satu-satunya keluarga yang selamat dari air bah yang telah meliputi bumi.

Bagaimana dengan zaman Perjanjian Baru? Apakah Firman Tuhan yang mengatakan untuk mengasihi musuh juga berarti mengampuni semua dosa-dosa mereka tanpa batas? Tentu saja tidak. Ingat bahwa kesabaran Tuhan ada batasnya, kebaikan Tuhan tidak dapat kita artikan sebagai kesempatan untuk berbuat dosa dan kejahatan semaunya kita sendiri. Firman Tuhan mengatakan di 2 Pet 3:9  “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Di sini jelas dikatakan bahwa Allah di zaman perjanjian baru atau zaman anugerah, memberikan begitu banyak kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Ingat bahwa kesabaran Allah ada batasnya, Allah ingin agar manusia bertobat namun bila tidak bertobat maka pada waktunya Allah akan menghukum mereka.

Wahyu 22:11  Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”  22:12  “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. 

Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa orang-orang pada akhirnya akan terus berbuat jahat, terus berbuat cemat dan mereka tidak akan berubah, hingga pada akhirnya mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka.

Jadi saudara sekalian, sekalipun Allah mengatakan bahwa kita harus mengampuni musuh-musuh kita, hal itu sama sekali tidak menghapuskan dosa-dosa mereka. Kalau mereka tidak bertobat maka pada akhirnya Allah akan menghukum mereka. Tugas kita adalah mengampuni mereka dan bukan meminta mereka untuk bertobat, karena urusan pertobatan adalah bagian orang itu dengan Allah dan bukan bagian kita.

Karena itu, mari kita kerjakan bagian kita untuk mengampuni musuh-musuh kita dan hidup di dalam damai sejahatera karena kita telah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Amin