3. Orang Berduka Kok Berbahagia

Firman Tuhan di Matius 5:4 dikatakan sebagai berikut, “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Sulit memahami dan membayangkan bagaimana seseorang yang berduka cita dapat berbahagia. Sulit membayangkan ketika seseorang berada di rumah duka karena kehilangan seseorang yang dikasihi namun ia berkata justru bersukacita karena kehilangan tersebut. Sulit juga memahami bahwa ketika seseorang kehilangan pekerjaan atau mengalami kebangkrutan sehingga mengalami duka yang sangat dalam justru mengatakan kepada semua orang bahwa dirinya mengalami kebahagiaan. 

 

Dalam Alkitab versi King James, Mat 5:4  Blessed are they that mourn: for they shall be comforted. Kata “mourn” dalam bahasa Yunaninya adalah pentheō yang memiliki arti ratapan yang mendalam. Kalau kita memikirkan kalimat dan ucapan Tuhan Yesus ini, maka akan tampak sangat jelas betapa sulitnya kita memahami arti dari perkataan Tuhan Yesus yang mengatakan agar kita berbahagia, dan kata berbahagia ini seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya bahwa ini merupakan perkataan seseorang yang berseru sangat kuat atau berteriak O…Berbahagialah!!!

Bahkan Perlu saudara ketahui bahwa peristiwa berbahagia dan dukacita terjadi pada saat bersamaan, atau sesaat setelah peristiwa berdukacita. Peristiwa berbahagia ini tidak terjadi beberapa waktu setelah kejadian dukacita, namun terjadi bersamaan atau tepat setelah kejadian dukacita.

Ketika kita membaca ucapan ini di masa sekarang tentu kita akan dibuat kebingungan dengan ucapan Tuhan Yesus karena bertentangan dengan akal pikiran manusia dan juga bertentangan dengan kewajaran yang terjadi. Dan ini tentunya diluar kewajaran manusia dan diluar akal sehat manusia. Apakah Tuhan Yesus sedang mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat dan kewajaran? Bila hal ini benar-benar dilakukan, apakah tidak menjadi bahan tertawaan bagi orang-orang di sekitar kita? Dan apakah kejadian seperti ini pernah kita lakukan? Secara jujur, saya sendiri tidak pernah melakukan hal ini. ketika saya mengalami peristiwa keruntuhan ekonomi dan kemudian begitu banyak celaan dan mungkin hinaan yang dialamatkan kepada saya, saya tidak pernah bersukacita dan berbahagia atas peristiwa ini. Karena secara akal sehat dan juga secara hati nurani hal ini tidak mungkin dilakukan oleh siapapun juga, termasuk oleh hamba Tuhan seperti saya.

Kalau hal ini tidak mungkin kita lakukan dan tidak mungkin terjadi, lalu mengapa Tuhan Yesus berkata agar kita benar-benar berbahagia ketika kita mengalami dukacita yang mendalam? Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini dan saya akan menyampaikan beberapa tafsiran ini agar kita mengerti bersama-sama bahwa di luar sana ada banyak ajaran-ajaran yang memang tidak salah secara doktrin namun kurang tepat karena tidak memahami Alkitab secara konteks dan latar belakang situasi serta kondisi pada saat itu.

Tentu tidak mudah untuk mengetahui latar belakang situasi, kondisi serta maksud dari perkataan Tuhan Yesus yang hanya satu dua kalimat atau satu perikop saja. Namun karena tidak mudah inilah maka seorang pengkhotbah harus benar-benar belajar dan menggali kebenaran Firman Tuhan agar apa yang disampaikannya bukan asal-asalan, bukan out of context, serta bukan memakai ilmu cocoklogi; asal dicocok-cocokkan dan dianggap benar sesuai pikirannya sendiri. Berikut ini saya sampaikan dua tafsiran populer yang sering disampaikan mengenai ayat ini;

  1. Tafisran yang pertama kira-kira seperti ini;

Ini adalah pesan pengharapan dan penghiburan bagi mereka yang mengalami masa-masa sulit, dan mengingatkan kita bahwa pencobaan dan kesengsaraan kita tidaklah sia-sia. Ketika kita mengalami kesedihan dan kesulitan, mudah untuk merasa putus asa dan mempertanyakan rencana Tuhan untuk hidup kita. Namun, Alkitab memberi tahu kita bahwa mereka yang berkabung akan dihibur. Ini berarti bahwa di tengah rasa sakit dan kesedihan kita, Tuhan hadir, dan Dia akan memberi kita penghiburan dan kekuatan yang kita butuhkan untuk melewatinya.

Kasih dan penghiburan Tuhan tidak terbatas hanya pada saat kita merasa bahagia dan gembira. Dia bersama kita di setiap saat dalam hidup kita, bahkan di saat-saat tergelap dan tersulit sekalipun. Dan melalui tantangan-tantangan seperti inilah kita bertumbuh dalam iman kita, menjadi semakin seperti Yesus, dan belajar untuk bersandar pada kekuatan dan kasih karunia Allah.

Jadi, bagi mereka yang sedang berduka atau mengalami kesulitan, berbesar hatilah. Tuhan melihat rasa sakitmu dan Dia akan menghiburmu. Percayalah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Dia akan mendatangkan kebaikan bahkan dari situasi yang paling sulit sekalipun.

Nah sekarang saya akan menanggapi tafsiran ini. Tafsiran ini memang tampaknya tidak ada yang salah, karena toh kita mengharapkan penghiburan dari Tuhan Yesus saja. Benar dan saya setuju sekali. Namun masalahnya ketika pengharapan akan penghiburan ini dikaitkan dengan ayat di Mat 5:4 agar kita benar-benar berbahagia ketika berdukacita, maka tafsiran tersebut menjadi tidak pas dan tidak cocok. Memang ini bukanlah kesalahan yang fatal karena memang toh tetap mengharapkan Tuhan sebagai penghibur kita. Namun pokok permasalahannya belum terjawab, “Bagaimana kita bisa berbahagia dengan sangat luar biasa kalau kita mengharapkan penghiburan dari Tuhan yang mana penghiburan ini akan dialami di kemudian hari? Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya bahwa bahagia ini terjadi bersamaan atau sesaat setelah dukacita. Maka penafsiran yang demikian tidak tepat dengan makna dari Matius 5:4 yang sedang kita bahas.

  1. Tafsiran yang kedua;

Tafsiran ini menekankan agar kita mendapatkan hikmah dari penderitaan yang sedang kita alami. Banyak pengkhotbah berkata, “Berbahagialah ketika kamu berduka cita karena kamu adalah orang yang memiliki hati dan perasaan. Dalam hidup ini, kita semua akan mengalami kebahagiaan dan kesedihan, namun bagaimana kita mengatasi dan memahami perasaan tersebutlah yang membedakan kita. Bagaimana kita mendapatkan pelajaran dan hikmah dari penderitaan yang dialami membuat kita akan berbahagia dalam menjalani penderitaan.”

Berduka cita adalah bagian dari proses pemulihan dan pemahaman diri. Saat kita berduka, kita memiliki kesempatan untuk memproses perasaan dan mengatasi kesedihan. Tanpa rasa sakit dan kehilangan, kita tidak akan bisa menikmati dan menghargai kebahagiaan yang ada. Oleh karena itu, meskipun kita sedang berduka, kita harus tetap berbahagia dan memberikan syukur atas berkat-berkat pelajaran dan hikmah yang Tuhan berikan kepada kita. Kita juga harus berbahagia karena kita memiliki keluarga dan teman-teman yang memahami dan mencintai kita, dan dalam dukacita inilah justru kita bisa melihat siapa sebenarnya orang-orang yang mencintai kita.

Untuk tafsiran ini saya menanggapinya demikian; bahwa untuk mendapatkan hikmah atau pelajaran dari penderitaan memang hal yang baik, namun ini sama sekali tidak menghibur kita ketika kita sedang dalam keadaan dukacita dan menderita. Tidak ada seorangpun yang mau menderita dan berdukacita hanya untuk mendapatkan pelajaran dalam hidup. Toh kita bisa mendapatkan pelajaran hidup dari kehidupan orang lain dan juga dari Alkitab itu sendiri.

Kalau bukan seperti kedua tafsiran seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, lalu seperti apakah tafsiran yang sesuai dengan maksud dari Tuhan Yesus ini?

  1. Tafsiran yang tepat

Perlu kita pahami seperti apakah yang dimaksudkan dukacita yang mendalam yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus ini. Bahwa dukacita yang mendalam ini bukanlah tentang kehidupan yang sedang kita alami seperti kebangkrutan ekonomi, permasalahan keluarga, kehilangan orang-orang yang kita kasihi, dan sebagainya. Karena dukacita yang demikian tidak membawa kebahagiaan apapun dalam hidup kita ini.

Sementara ada 1 hal dukacita yang membuat kita dan Tuhan berbahagia yaitu dukacita akan dosa-dosa kita, kita harus memiliki kesadaran bahwa kita ini orang-orang yang berdosa dan tidak layak di hadapan Allah, kita berdukacita karena kehidupan kita sudah begitu banyak mendukakan Allah. Dan semua ini ketika dibarengi dengan pertobatan yang sungguh-sungguh akan kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita perbuat, maka seketika ada sukacita yang meluap dengan luar biasa karena Allah telah menebus dosa-dosa kita. Kita tidak lagi merasa hancur dan tidak layak di hadapan Allah, sebaliknya kita mendapatkan pengampunan dan pengakuan bahwa kita ini adalah anak-anak Allah.

Kebahagiaan seorang yang diampuni dosanya merupakan kebahagiaan yang tidak terbeli dengan kekayaan apapun, karena kebahagiaan seorang yang diampuni dosanya membuat orang tersebut menyadari betapa hina dan tidak layak dirinya namun tiba-tiba mendapatkan berkat pengampunan serta kelayakan sebagai anak Allah. Nah dukacita seperti inilah yang harus kita alami.

Pertanyaan untuk kita semua adalah; apakah kita pernah mengalami dukacita yang mendalam akan dosa-dosa kita? Kalau kita belum pernah mengalaminya, hal ini berarti kita sendiri belum pernah bertobat. Kalau saudara belum pernah bertobat, saya menantang saudara pada saat ini untuk bertobat dari dosa-dosa saudara dan mengalami sukacita yang luar biasa yang akan diberikan oleh Roh Kudus.

Kalau saudara menjawab tantangan ini, saya akan berdoa bagi saudara semua. Mari kita berdoa.

Ps Jimmy Lizardo