4. Apa itu Orang Yang Lemah Lembut

Firman Tuhan di Matius 5:5 dikatakan sebagai berikut, Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Bila kita membaca ayat ini, mungkin kita berpikir bahwa orang seperti apakah yang dikatakan lemah lembut? Apakah seseorang yang berperilaku lemah gemulai dan bertutur kata dengan halus? Kalau seperti ini maka hanya para kaum wanita dan feminis saja yang mampu melakukan kebenaran Firman Tuhan ini.

            Memang tidak mudah memahami kebenaran Firman Tuhan bila hanya membaca sekilas saja. Tidak mudah memahami firman Tuhan bila kita tidak memiliki keinginan yang kuat untuk menggalinya lebih dalam lagi. Seorang pengkhotbah haruslah mengkhotbahkan Firman Tuhan dengan benar dan sesuai dengan keadaan pada saat peritiwa tersebut terjadi, tanpa memahami hal ini maka kita akan kehilangan maksud dan tujuan awal mengapa Firman Tuhan ini ditulis.             Nah pada saat ini, saya akan menyampaikan kebenaran Firman Tuhan sesuai dengan konteks dan maksud dari Firman Tuhan ini.

Isi

Untuk mengerti Firman Tuhan ini, maka kita perlu memahami arti dari kata lemah lembut dalam bahasa Yunani. Kata Yunani untuk “lemah lembut” dalam ayat ini adalah praus“, yang berarti lemah lembut, rendah hati, atau sabar. Karakteristik “lemah lembut” yang diterjemahkan dalam Alkitab ini sering dilihat sebagai kelemahan di dalam masyarakat kita, tetapi Yesus memberikan isyarat bahwa sebenarnya “praus” ini adalah sebuah kekuatan, yang dapat mengendalikan orang. Lalu “praus” seperti apakah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus?

Alkitab Indonesia menerjemahkan “praus” dengan kata lemah lembut, demikian juga dengan versi KJV menerjemahkan “praus” dengan kata meek” yang berarti; lemah lembut, penurut dan tanpa perlawanan. Tidak mudah memahami bahwa orang yang lemah lembut bisa memiliki bumi.

Maka sekarang saya akan sampaikan bagaimana kita harus memaknai perkataan “lemah lembut” yang disampaikan oleh Tuhan Yesus.

  • Pemahaman pertama untuk kata “praus” ini, kita harus tahu arti dari bahasa Yunani “lemah lembut” yaitu “praus”. Kata “praus” dipakai untuk binatang yang telah dapat dikendalikan oleh tuannya dan dapat menerima pengarahan dari tuannya. Ketika binatang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh tuannya, maka tidak ada bahaya apapun yang dapat terpancar dari binatang ini. sekalipun tampak buas seperti singa, namun ketika sudah berhasil dikendalikan maka tidak akan mengancam siapapun. Ini adalah arti pertama dari kata “praus”
  • Pemahaman kedua yang bisa kita pakai untuk memahami kata “lemah lembut” atau “praus” ini, kita harus belajar dari seorang Aristoteles yang merupakan seorang filsuf Yunani pernah secara panjang lebar menjelaskan arti “praus”. Aristoteles mendefinisikan bahwa kebajikan sebagai nilai tengah di antara dua hal yang ekstrem. Di satu sisi satu sisi ada ekstrem kelebihan; di sisi lain ada adalah ekstrem dari kekurangan; dan di antara keduanya adalah kebajikan itu sendiri, dan merupakan sesuatu yang membahagiakan. Sebagai contoh, di satu sisi ekstrim ada yang orang sangat boros, namun di sisi ekstrim yang lain ada kikir; dan di antara keduanya ada orang yang murah hati.

Selain itu, Aristoteles juga memberikan contoh kelemahlembutan atau “praus”  sebagai hal yang berada di tengah antara Orgilotes, yang berarti kemarahan yang berlebihan, dan Aorgesia, yang  berarti tidak bisa marah.

“Praus” atau kelemahlembutan, seperti yang dilihat Aristoteles adalah tepat berada di tengah di antara sesuatu yang terlalu banyak. “Praus” berada di tengah antara begitu mudah marah dan terlalu sedikit atau sama sekali tidak ada kemarahan.

Maka terjemahan yang tepat untuk “praus” atau kelemahlembutan ini adalah: Berbahagialah orang yang selalu marah pada waktu yang tepat, dan tidak pernah marah pada waktu yang salah.

Mungkin kita bertanya seperti apakah waktu yang tepat dan waktu yang salah untuk marah?

Kemarahan yang tidak benar adalah kemarahan untuk membela diri atas penghinaan atau luka hati yang orang lain lakukan kepada diri kita sendiri; itu adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan dan tidak boleh menjadi ajang balas dendam oleh orang Kristen.

Perhatikan ayat di 1 Petrus 2:21  Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ayat ini meminta kita untuk mengikuti jejak-Nya Tuhan Yesus yang telah ditinggalkan untuk kita, maka pertanyaannya adalah; jejak seperti apakah yang ditinggalkan Tuhan Yesus bagi kita untuk kita ikuti? Maka kita harus perhatikan di ayatnya yang ke 23, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak membalas dengan kemarahan dan caci maki ketika kita mengalami hal yang menyakitkan pada diri kita, dan tidak mengancam dengan kekuatan atau kekuasaan yang kita miliki. Ini bukanlah ciri seorang anak Tuhan yang baik.

Kemarahan yang benar adalah kemarahan yang terjadi atas luka atau sakit hati atau penderitaan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain. Sementara kemarahan yang mementingkan diri sendiri selalu merupakan dosa.

Dan kemarahan yang tidak mementingkan diri sendiri menjadi salah satu pembelaan terbaik untuk orang yang menderita dunia. Kita lihat betapa banyak pengacara di Indonesia yang tidak mampu melakukan sesuatu untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum karena masyarakat yang demikian tidak memiliki kuasa untuk membela diri. Seorang pengacara harus memiliki kepedulian dan rasa marah yang tepat pada waktu dan saat yang tepat, yaitu ketika keadilan di masyarakat diperjualbelikan.

Maka dari penjelasan kata “praus”  di atas yang telah saya sampaikain, kita dapatkan pengertian yang baik mengenai arti “kelemahlembutan” yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus. Kata “praus”  didefinisikan sebagai kebajikan atau tindakan pada nilai tengah di antara dua hal yang ekstrem. Di satu sisi ada ekstrem yang berlebihan; di sisi lain ada adalah ekstrem yang sangat kurang; dan di antara keduanya ini ada kebajikan dan kebaikan yang harus kita capai.

Amsal 14:29  mengatakan demikian, “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.” Dikatakan bahwa orang yang cepat marah adalah seorang bodoh dan orang bodoh ini sedang menambah kebodohannya sehingga semua orang melihat betapa bodohnya dia. Kebodohannya semakin besar, membesar dan terus membesar hingga akhirnya suatu hari akan meledak dan menghancurkan dirinya sendiri.

Sementara apabila seseorang diharuskan untuk marah karena sesuatu hal dan ia tidak marah, maka sebenarnya ia sedang melakukan kesalahan yang fatal. Misalnya dapat kita lihat di Amsal 23:13  Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Di ayatnya yang ke-14  “Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati”.

Seorang ayah atau ibu yang bijaksana haruslah tahu kapan memukul anaknya. Bila orang tua selalu membiarkan anaknya dan tidak marah ataupun menegur anaknya ketika berbuat salah, maka sang anak akan belajar bahwa kesalahan apapun akan dimaafkan. Dan ketika anak seperti ini kelak hidup di dunia yang keras, maka hidupnya akan hancur oleh kerasnya dunia ini. Karena itulah orang tua harus tepat kapan ia harus marah dan menegur anaknya.

Setelah saya menyampaikan penjelasan mengenai kata “lemah lembut” atau “dalam bahasa Yunani adaalah Praus  maka kini kita bisa mengerti dengan jelas makna dari perkataan Tuhan Yesus di Matius 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”

Seorang yang lemah lembut adalah: seorang yang bijaksana dan penuh hikmat sehingga ia tidak akan mudah marah, bahkan ketika ia mendapat caci maki, fitnah atau apapun yang ditujukan kepada dirinya sendiri, dan ia juga bukanlah seorang yang sangat sabar sehingga tidak akan marah dan tidak akan berbuat sesuatu ketika ia melihat seseorang sedang menderita karena kesalahan orang lain. Ia adalah orang yang peduli pada orang lain yang sedang menderita.

Lalu bagaimana memahami bahwa orang yang lemah lembut seperti ini akan memiliki bumi? Perlu kita ketahui bahwa perkataan Tuhan Yesus mengenai “orang yang lemah lembut akan memiliki bumi” ini, tidak mungkin dan tidak dapat ditafsirkan secara hurufiah. Mengapa? Karena ini menyalahi aturan hukum di negara manapun di dunia ini. Jelas tidak mungkin orang lemah lembut mewarisi atau memiliki bumi seperti mengambil tanah orang lain. Karena ini bertentangan dengan hukum dunia, hukum negara dan juga hukum Tuhan. Jadi kita harus pastikan bahwa perkataan “memiliki bumi” bukanlah perkataan yang dimaknai secara hurufiah.

Alkitab versi terjemahan Good New Bible, dikatakan demikian, “Happy are those who are humble; they will receive what God has promised!” Saya rasa ini adalah pengertian yang lebih tepat daripada memiliki bumi atau banyak Alkitab memakai kata “mewarisi bumi” karena kata memiliki atau mewarisi bumi tidak dapat dimaknai secara hurufiah seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Maka kita haruslah menjadi orang-orang yang lemah lembut, seorang yang tahu kapan ia harus marah dan kapan ia harus diam. Kita harus menjadi orang yang lemah lembut yang akan marah karena melihat ketidakadilan yang terjadi pada orang lain, namun kita hanya diam dan menyerahkan kepada Allah apabila ada orang yang menyakiti hati kita. Maka kita akan menikmati janji-janji dan berkat-berkat yang telah Allah sediakan untuk kita nikmati. Amin

Ps Jimmy Lizardo