6. Bisakah Kita Menjadi Orang Yang Suci

kita akan melanjutkan kembali dalam seri khotbah ucapan berbahagia yang disampaikan oleh Tuhan Yesus di bukit. Kita akan bersama-sama belajar di ayat Mat 5: 8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”

Bila kita membaca ayat ini, maka tampaknya kita akan buru-buru merasa tidak mungkin dapat mencapai apa yang diinginkan ayat ini. Kita merasa begitu buruk dan penuh dengan dosa. Apakah kita mampu menjalani ayat ini dengan menjadi orang yang suci tanpa dosa dan salah?

            Pagi hari ini kita akan belajar bersama-sama apa arti ayat ini dan apakah kita mampu menjadi orang yang suci hatinya seperti yang Firman Tuhan sampaikan.

            Apakah ayat ini bermaksud mengatakan bahwa kita harus menjadi orang yang suci dan kudus? Ini artinya kita tidak lagi berbuat dosa dan kesalahan di dalam tindakan, perkataan dan juga pikiran. Lalu apakah kita mampu menjadi orang yang demikian?

            Setelah kita dibaptis, setelah kita perjamuan kudus, setelah kita beribadah di hari Minggu, apakah kita menjadi orang yang kudus, suci dan tanpa dosa sampai seterusnya? Secara jujur, kalau kita mau terbuka di hadapan Tuhan, di dalam hati kita yang paling dalam, kita menyadari bahwa diri kita bukanlah orang yang kudus, bukan orang yang suci dan juga bukan orang yang tanpa salah. Setiap hari pasti kita melakukan kesalahan-kesalahan yang tampaknya kecil dan sepele. Namun sekalipun itu kecil dan tampak sepele, sebuah kesalahan tetaplah kesalahan dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

            Bila kita menyadari bahwa tidak mungkin diri kita hidup tanpa dosa dan tanpa salah, lalu bagaimana dengan ayat ini? Apakah tidak ada seorangpun yang dapat menjalani dan mengalami apa yang disampaikan oleh ayat ini? Oleh karena itulah pada saat ini kita akan melihat lebih dalam apa arti yang dimaksudkan oleh Firman Tuhan sehingga kita dapat mengerti ayat ini sesuai dengan maksud dari Tuhan Yesus sendiri.

            Kata bahasa Yunani untuk suci di sini adalah katharos”dan dipakai dalam beberapa hal, seperti misalnya;

  1. Kata ini dipakai untuk baju yang kotor dan dicuci hingga bersih. Dari pemakaian kata “katharos” ini, maka kita bisa melihat bahwa baju yang kotor yang telah dicuci dengan bersih bukanlah bersih seperti baju yang baru. Sekalipun tampak bersih di mata kita, namun tentunya selalu ada debu-debu halus di baju atau sisa noda yang tetap menempel sekalipun baju ini telah dicuci berulang kali dan telah bersih. Jadi pemakaikan kata ini bukanlah kata untuk bersih total dan bersih mutlak seperti baju baru
  2. Kata ini dipakai untuk gandum yang dibersihkan dari sekam-sekamnya dengan bantuan angin, atau kata lainnya adalah ditampi. Untuk pemakaian kata “katharos” pada gandum yang ditampi, gandum ini dipisahkan dengan sekam atau daun atau biji yang kosong dan sebagainya. Setelah gandum ditampi, hasil tampiannya bukanlah gandum yang bersih total tanpa kekotoran sama sekali. Pasti ada sedikit sekam yang masih tertinggal, sedikit gandum kosong yang tertinggal ataupun debu-debu yang menempel di gandum.
  3. Kata ini dipakai untuk tentara pilihan. Tentara yang dipilih ini merupakan tentara yang dipilih karena efesien, pemberani, cekatan, kuat dan penuh dedikasi. Untuk pemakaian kata “katharos” ini, tentu bukanlah tentara yang sempurna yang selalu pasti menang dalam pertempuran, bukanlah juga tentara yang kebal dengan senjata tajam ataupun tentara yang tidak dapat mati. Namun pemakaian kata “katharos” pada tentara ini adalah dipisahkannya tentara yang terbaik dari tentara yang baik lainnya.
  4. Kata ini dipakai untuk susu atau anggur yang murni yang tidak lagi mengandung air. Untuk pemakaian kata “katharos” pada anggur atau susu yang murni ini maksudnya adalah anggur atau susu yang tidak mengandung air sama sekali, namun tentu saja ada kandungan lainnya di dalam susu seperti misalnya bakteri-bakteri baik di dalam susu, ataupun protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan lainnya. Jadi sekalipun dikatakan ini susu murni atau anggur murni, bukanlah berarti murni dari semua hal, namun murni dari air sajalah yang dimaksudkan.
  5. Kata ini dipakai untuk barang-barang logam yang murni yang tidak tercampur dengan logam-logam yang lain. Saya mengambil contoh misalnya emas murni 24 karat. Sekalipun ini adalah emas murni, tidak boleh dikatakan bahwa ini adalah emas yang memiliki kemurnian 100% karena pada dasarnya tidak mungkin untuk memiliki emas yang benar-benar murni 100%. Sekalipun telah melalui teknik pemurnian emas yang sangat canggih, dan mencapai tingkat kemurnian yang sangat tinggi, selalu ada sedikit campuran mineral lain seperti perak, tembaga, atau nikel, karena logam emas mulia tidak pernah ditulis emas murni 100%, namun 99.99% karena ada sedikit kotoran di dalam kandungan emas tersebut.

Maka dari pemakaian kata-kata di atas, arti dari kata suci yang bahasa Yunaninya “katharos” bukanlah benar-benar murni hingga 100%. lalu bagaimana kita memahami dan memaknai kata “katharos” ini dengan benar?

Maksud dari perkataan Tuhan Yesus bahwa kita “Berbahagia sebagai orang yang suci hatinya” bukanlah berarti kita harus hidup tanpa dosa, noda, cela, cacat dan salah sama sekali, karena kita tidak mungkin menjalani hidup yang demikian selama masih ada daging yang sudah jatuh di dalam dosa ini.

Arti dari maksud perkataan Tuhan Yesus ini adalah bahwa “katharos” di dalam hati kita tidak tercampur dengan dunia ini, “katharos” di hati kita tidak boleh tercampur motivasinya dengan kepentingan pribadi atau keuntungan pribadi saat kita melayani Tuhan.

Misalnya demikian; ada banyak orang yang melayani di gereja sebagai usher, pemaik musik, Worship leader, singer, tim multimedia, hingga pengkhotbah seperti saya. Namun pertanyaannya adalah; apakah isi hati kita benar-benar memiliki motivasi yang benar di hadapan Allah ataukah ada kepentingan pribadi di dalam pelayanan kita kepada Allah?

Kepentingan pribadi bisa bermacam-macam bentuknya seperti ingin lebih dikenal banyak orang atau ingin populer, atau melayani karena ada uang yang bisa diperoleh di sana, atau melayani karena ingin dipandang hebat oleh orang lain. Motivasi-motivasi  seperti inilah yang membuat hati kita tidak “katharos” di hadapan Allah.

Seharusnya isi hati kita ini harus benar-benar “katharos” atau suci dan kudus dari motivasi dan kepentingan pribadi kita sendiri. Saya tidak mengatakan bahwa orang yang melayani tidaklah boleh sama sekali menikmati berkat Tuhan seperti misalnya mendapatkan Persembahan Kasih.

Yang saya maksudkan adalah Persembahan Kasih itu bukanlah tujuan kita melayani, Persembahan Kasih itu adalah akibat karena kita telah melayani, atau itu adalah penghargaan karena kita telah melayani Tuhan. Jangan pernah jadikan Persembahan Kasih sebagai tujuan kita melayani.

Demikian juga dengan pengkhotbah, jangan pernah jadikan berkhotbah itu sebuah tujuan untuk mencari uang. Pengkhotbah yang full timer memang kebutuhan hidupnya tercukupi lewat pelayanannya, termasuk juga khotbahnya. Namun jangan pernah jadikan khotbah itu sebagai tempat untuk mencari uang.

Seharusnya tujuan hidup pengkhotbah adalah untuk memberitakan kebenaran Firman Tuhan dan akibat dari pemberitaan yang disampaikan ini, Tuhan memberkati pengkhotbah dengan cara salah satunya adalah melalui Persembahan Kasih yang diberikan kepadanya.

Karena itulah ketika kita melakukan segala sesuatu, terlebih di dalam pelayanan, kita harus melakukannya dengan motivasi hati yang murni, tanpa tercampur dengan motivasi untuk keuntungan pribadi kita.

Kol 3:23  “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ini adalah contoh ayat yang dapat kita terapkan untuk memahami ayat di Matius 5:8 yang kita bahas ini. Ketika kita memahami ayat ini seperti yang telah saya jelaskan, maka sekarang kita mengerti bahwa ayat ini dapat kita lakukan, ayat ini dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mat 5: 8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Maka ayat ini dapat kita maknai bahwa Berbahagialah orang yang memiliki motivasi yang benar di hadapan Allah, karena mereka akan melihat Allah. Dan melihat Allah di sini tentu saja tidak diartikan secara hurufiah, karena orang yang motivasinya benar di dalam pelayanan ataupun dalam kehidupan ini tidak serta merta dapat melihat Allah secara fisik.

Maksud dari orang yang memiliki motivasi yang benar di hadapan Allah dan mereka akan melihat Allah adalah mereka akan memiliki persekutuan yang intim dengan Allah. Misalnya bila seseorang beribadah kepada Tuhan karena memiliki motivasi yang benar yaitu ingin bersekutu dengan Allah, maka orang ini akan menikmati persekutuannya dengan Allah dalam ibadah yang ia lakukan. Ia akan menikmati pujian penyembahan yang dinaikkan, ia juga akan menikmati khotbah yang disampaikan. Inilah yang dimaksudkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi yang benar di hadapan Allah akan menikmati persekutuan dengan Allah itu sendiri.

Setelah saya menyampaikan arti dari Matius 5:8 ini, maka saya rindu kita semua dapat bersama-sama mengecek diri kita masing-masing, kita mengecek isi hati kita masing-masing apakah hati kita telah murni dan memiliki motivasi yang benar di hadapan Tuhan ataukah movitasi kita di hadapan Tuhan tercemar dengan kepentingan dan keuntungan pribadi kita sendiri?

Marilah di saat ini kita bersama-sama memeriksa isi hati kita agar kita memiliki hati yang murni dan terbebas dari kecemaran motivasi pribadi. Jadilah para pelayan yang melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh karena kita mengasihi Tuhan dan bukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi kita sendiri.

            Bila kita bekerja sebagai karyawan atau profesional, bekerjalah dengan baik dan memiliki motivasi untuk memberikan keuntungan kepada perusahaan tempat kita bekerja, bukan malah menjadi benalu atau parasit di perusahan tempat kita bekerja.

Bila kita sebagai pemilik dari perusahaan, maka milikilah motivasi yang benar di hadapan Tuhan, bahwa semua kekayaan yang dimiliki adalah berkat Tuhan dan jangan menyombongkannya, jangan merasa hebat dan merendahkan orang lain. Jadilah pengusaha yang mengayomi karyawannya dan menjadi penyalur berkat bagi orang-orang yang membutuhkan.

            Jadi ayat Matius 5:8 ini sebenarnya dapat kita jalani dan terapkan di segala bidang kehidupan kita, di dalam pekerjaan kita dan di dalam semua hal yang kita kerjakan. Kita harus mengerjakannya segala sesuatu seperti untuk Tuhan, maka ketika kita mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, kita akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh tanggung jawab. Amin


Ps Jimmy Lizardo