7. Bisakah Kita Menjadi Orang Yang Selalu Damai

kita akan melanjutkan kembali dalam seri khotbah ucapan berbahagia yang disampaikan oleh Tuhan Yesus di bukit. Kita akan bersama-sama belajar di ayat Mat 5: 9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Apakah ayat ini berbicara mengenai seseorang yang menjadi penengah konflik? Apakah seseorang dapat dikatakan membawa damai setelah ia mendamaikan dua pihak yang bertikai? Apakah benar bahwa ayat ini memiliki pengertian demikian? Karena itu, marilah pada saat ini kita belajar kebenaran Firman Tuhan ini agar kita semakin diperkaya dengan pengetahuan kebenaran Firman Tuhan dan kebenaran itu akan memerdekakan hidup kita.

Isi

            Dalam bahasa Yunani, kata damai adalah “Eirene” yang berpadanan dengan bahasa Ibrani “Shalom”. Orang-orang Kristen lebih familiar dengan kata Shalom daripada kata Eirene. Setiap kali kita bertemu dengan orang Kristen, atau dalam acara-acara Kristen, kita sering menyebutkan salam dengan kata Shalom dan hampir tidak pernah mendengar orang menyebut kata Eirene padahal memiliki makna yang sama.

            Kata “shalom” berasal dari bahasa Ibrani dan sering diterjemahkan sebagai “damai sejahtera” atau “perdamaian”. Akar kata Ibrani dari kata “shalom” adalah tiga huruf Ibrani: שׁ-ל-ם (shin, lamed, mem), yang memiliki arti “utuh” atau “sempurna” atau “lengkap”.

Dalam kepercayaan Yahudi dan Kristen, shalom mencakup keselamatan kekal di hadapan Allah dan penyelesaian akhir dari semua penderitaan manusia. Kata Shalom mencerminkan gagasan bahwa manusia hanya dapat mencapai kehidupan yang bermakna dan memuaskan dengan hidup dalam hubungan yang damai dan harmonis dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan alam semesta.

Bagi orang Yahudi, “Shalom” dianggap sebagai hadiah dari Allah dan merupakan tujuan akhir dari hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Shalom melibatkan perasaan damai, keselarasan, keamanan, dan kebahagiaan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan alam semesta. Kata “shalom” juga memiliki makna yang lebih dalam dari sekedar salam atau kata sapaan. Kata ini juga merujuk pada keadaan yang bebas dari konflik.

Namun ada hal yang perlu kita pertanyakan terkait arti kata “Shalom atau Eirene” yang memiliki arti di atas dan juga arti bebas dari konflik. Apakah benar bahwa manusia tidak memiliki konflik dengan Allah? Pada kenyataannya, sejak Adam Hawa jatuh ke dalam dosa, manusia telah berkonflik dengan Allah.

Di masa Perjanjian Lama, ada Nabi sebagai penyambung lidah dari Allah untuk manusia dan ada Imam sebagai perantara antara manusia dengan Allah. Manusia pada kala itu tidak dapat datang langsung kepada Allah karena ada dosa yang menghalangi dalam hubungan antara Allah dan manusia.

Kala itu, orang-orang Yahudi tidak dapat langsung bertemu dengan Allah ketika datang di kemah suci ataupun bait suci. Mereka harus membawa korban untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai ganti dosa-dosa mereka, bahkan Imam juga mempersembahkan korban sebelum menghadap kepada Allah.

Singkat kata, tidak ada seorangpun yang dapat hidup berdamai dengan Allah karena ada dosa di dalam diri manusia. Sehingga “Shalom” yang ada ketika itu bukanlah “Shalom” seperti yang Allah inginkan.

Namun setelah pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib, di mana Tuhan Yesus sebagai korban sekali untuk selamanya, seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan di Ibrani 7:27  “yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.” Maka sekarang setiap orang yang telah menerima Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat telah memiliki damai atau “Shalom” atau “Eirene” dengan Allah.

Kedamaian seperti inilah yang menjadi fundamental kita sebagai anak-anak Allah. Bahwa Allah kini bukan lagi musuh kita, melainkan berada di pihak kita dan menjadi pembela kita.

Karena itu, berbahagialah kita sebagai anak-anak Allah yang telah diperdamaikan Allah melalui pengorbanan anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus.

Memahami ayat “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” haruslah dimulai dari orang yang memiliki kedamaian terlebih dahulu. Bila seseorang tidak memiliki “Shalom atau Eirene”, bagaimana ia bisa memberikan kedamaian bagi orang lain?

Karena itulah hal pertama yang harus dimiliki oleh seseorang dalam ayat ini adalah bahwa ia sendiri telah memiliki kedamaian di dalam dirinya, dan kedamaian atau “Shalom atau Eirene” inilah yang paling mendasar sehingga ia bisa menularkannya untuk orang lain.

Setelah seseorang memiliki “Shalom atau Eirene” atau pendamaian dirinya dengan Allah, maka ia juga menjadi seorang pembawa misi dari Allah untuk dunia ini.

Seorang pembawa “Shalom atau Eirene” adalah seorang anak Allah yang telah ditebus dosa-dosanya dan telah memiliki jaminan keselamatan di dalam Allah, dan ia juga sekaligus pengemban misi dari Allah bagi dunia yang berdosa ini.

Seorang yang telah memiliki damai atau “Shalom atau Eirene” haruslah seorang yang mengerti posisi dirinya bahwa ia memiliki tugas untuk memberitakan kabar sukacita yaitu kabar dama ini kepada orang-orang yang belum diselamatkan agar mereka juga memiliki “Shalom atau Eirene” di dalam hidup mereka.

Namun pertanyaan bagi kita semua adalah; “Apakah kita sudah menjadi seseorang yang membawa damai dari Allah untuk orang lain?” “Apakah kita sudah menjadi seseorang yang membawa pesan perdamaian dari Allah untuk orang-orang di sekitar kita agar mereka juga diselamatkan sama seperti kita?”

Jadi sebenarnya ayat “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” ini adalah sebuah ayat yang menjadikan seseorang pembawa misi dan pembawa pesan penginjilan bagi orang lain.

Ketika kita sudah berdamai dengan Allah dan kita sudah memiliki kedamaian di dalam Allah, maka kita memiliki kelayakan dengan disebut sebagai anak-anak Allah. Mengapa ini bisa terjadi? Mari kita perhatikan Yoh 1:12  “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”. Kata “kuasa” pada ayat tersebut berasal dari kata Yunani exousia yang memiliki arti privilege dan authority.

            Artinya adalah; Setelah kita menerima Tuhan Yesus, maka kita diberi hak yang istimewa dan kekuasaan sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah. Kita memiliki hak istimewa untuk tidak lagi memberikan korban penghapus dosa dan penghapus salah setiap kali hendak datang kepada Allah. Kita tidak lagi membutuhkan pengantara yaitu seorang Imam untuk datang kepada Allah. Kita juga tidak perlu lagi mencari seorang nabi untuk mendengarkan kehendak Allah atas hidup kita.

Kini kita memiliki privilege atau hak istimewa karena kita telah menerima Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, sehingga setiap saat kita bisa datang kepada Allah, bertemu dengan Allah di dalam doa-doa kita, kita bisa menyembah Allah di manapun berada, dan inilah privilege yang Allah berikan itu.

            Walaupun kita memiliki privilage yang khusus, namun status kita bukan hanya sebagai anak Allah yang memiliki keistimewaan, tetapi juga sekaligus pembawa mandat untuk membawa damai bagi orang lain.

Di sinilah tugas kita sebagai orang yang mendapatkan hak istimewa, sekalipun memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada orang lain agar mereka memiliki kedamaian sama seperti kita.

Jadi saya menyimpulkan khotbah saya mengenai Mat 5: 9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Dengan 3 point:

  1. Kita harus benar-benar bahagia, sukacita dan penuh kegembiraan karena kita dapat membawa damai. Seseorang yang membawa damai atau “Shalom atau Eirene” ini bukanlah sekedar damai karena tidak ada konflik atau menjadi pendamai dari pihak-pihak yang berkonflik. Namun damai yang dimaksudkan di sini adalah damai antara diri kita yang berdosa dengan Allah yang maha kudus.

Tidak ada 1 manusiapun yang bisa mendamaikan dirinya dengan Allah, hanya melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu saliblah kita bisa didamaikan dengan Allah.

Jadi seseorang bisa dikatakan membawa damai kalau ia telah menerima Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat dan karena itulah ia didamaikan dengan Allah. Sehingga ia memiliki kedamaian, ia memiliki “Shalom atau Eirene” di dalam dirinya.

  1. Setelah ia memiliki “Shalom atau Eirene” di dalam dirinya, maka ia memiliki tugas dan tanggung jawab. Seorang yang telah berdamai dengan Allah, ia memiliki privilege di dalam dirinya. Ia memiliki hak istimewa sebagai seorang yang dapat datang kepada Allah setiap saat dan setiap waktu tanpa membawa korban apapun.
  2. Perlu kita ketahui bahwa seorang yang memiliki privilege ini, ia juga memiliki tanggung jawab sebagai pembawa “Shalom atau Eirene” kepada orang lain agar orang lain juga dapat memiliki kedamaian di dalam dirinya, agar orang lain juga diselamatkan sama seperti dirinya. Dan inilah tanggung jawab dan tugas kita bersama.

Di akhir khotbah saya, saya mengajak agar kita yang telah diselamatkan untuk menjadi pembawa damai, menjadi pembawa pesan atau memberitakan Injil agar orang lain juga diselamatkan sama seperti kita. Amin

 

Ps Jimmy Lizardo