{"id":284,"date":"2026-07-24T02:48:43","date_gmt":"2026-07-24T02:48:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jimmylizardo.com\/?p=284"},"modified":"2026-07-24T02:48:43","modified_gmt":"2026-07-24T02:48:43","slug":"musim-kehidupan-belajar-mengenal-tuhan-di-setiap-fase","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jimmylizardo.com\/?p=284","title":{"rendered":"Musim Kehidupan: Belajar Mengenal Tuhan di Setiap Fase"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Seri 3: Iman yang Bertahan di Setiap Musim<br>Roma 5:3-5 dan Daniel 2:21<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Kita akan membahas tema ini menjadi 3 bagian, \u00a0Dua Minggu lalu kita belajar dari Pengkhotbah 3:1 bahwa\u00a0<strong>Tuhan yang menentukan musim<\/strong>. Bukan kita. Bukan keadaan. Bukan iblis. Bukan nasib, tapi <strong>\u00a0Tuhan<\/strong>. Kita belajar untuk melepaskan ilusi kontrol dan menerima bahwa ada jadwal ilahi di balik hidup kita. Minggu lalu kita belajar \u00a0<strong>Seri 2: Keindahan di Balik Waktu Tuhan<\/strong>\u00a0dari Pengkhotbah 3:11, kita belajar bahwa\u00a0<strong>Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya<\/strong>. Kita belajar bahwa meskipun prosesnya sakit, hasil akhirnya pasti indah. Kita belajar bahwa ada kekekalan dalam hati kita yang membuat kita tidak pernah puas dengan dunia, dan bahwa kita tidak perlu mengerti semuanya sekarang. Dan minggu ini kita akan mengakhiri seri ini dengan\u00a0<strong>Seri 3: Iman yang Bertahan di Setiap Musim<\/strong>\u00a0dari Roma 5:3-5 dan Daniel 2:21, disini kita akan belajar\u00a0<strong>bagaimana tidak hancur ketika badai datang<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bapak\/ibu, saudara, sebelum kita masuk di sesi 3 ini, mungkin ada satu pertanyaan yang masih mengganggu pikiran kita.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Kita berkata, &#8220;Baiklah, saya terima bahwa Tuhan menentukan musim. Baiklah, saya percaya bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Tapi&nbsp;<strong>bagaimana cara saya bertahan<\/strong>&nbsp;di tengah musim yang paling berat? Bagaimana cara saya tidak hancur ketika badai sedang mengguncang hidup saya? Bagaimana cara saya tetap beriman ketika Tuhan sepertinya diam?&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang bagus. Pertanyaan itu adalah pertanyaan dari seorang pejuang, bukan dari seorang pengecut. Pengecut lari dari badai. Pejuang bertanya, &#8220;Bagaimana cara saya bertahan di badai ini?&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan firman Tuhan hari ini akan menjawab pertanyaan itu dengan sangat jelas, sangat praktis, dan sangat kuat.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Kita akan belajar dari&nbsp;<strong>Rasul Paulus<\/strong>&nbsp;dalam Roma 5:3-5 tentang&nbsp;<strong>logika surgawi di balik penderitaan<\/strong>. Kita akan melihat bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi&nbsp;<strong>awal dari sebuah proses produksi ilahi<\/strong>&nbsp;yang menghasilkan sesuatu yang luar biasa.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan kita akan belajar dari&nbsp;<strong>Nabi Daniel<\/strong>&nbsp;dalam Daniel 2:21 tentang&nbsp;<strong>kedaulatan mutlak Tuhan<\/strong>\u2014bahwa Tuhan yang sama yang mengangkat raja dan merendahkan raja, Tuhan yang sama itu juga yang mengatur musim kehidupan Anda. Dan karena itu, Anda bisa&nbsp;<strong>tetap tenang<\/strong>&nbsp;bahkan ketika dunia di sekitar Anda hancur.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara, mari kita buka firman Tuhan. Pertama, Roma 5:3-5. Kedua, Daniel 2:21.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saya akan membacakan Roma 5:3-5 terlebih dahulu.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>5:3<\/strong>&nbsp;Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan&nbsp;kita, &nbsp;karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,&nbsp;<strong>5:4<\/strong>&nbsp;dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.&nbsp;<strong>5:5<\/strong>&nbsp;Dan pengharapan&nbsp;tidak mengecewakan, karena kasih&nbsp;Allah telah dicurahkan di dalam hati kitaoleh Roh Kudus&nbsp;yang telah dikaruniakan kepada kita.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan<strong> Daniel 2:21:<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2:21<\/strong>&nbsp;Dia mengubah saat dan waktu,&nbsp;Dia memecat&nbsp;raja&nbsp;dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat&nbsp;kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian;&nbsp;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita bahas 3 point yang cukup penting untuk kita pahami berkaitan dengan <strong>Seri 3: Iman yang Bertahan di Setiap Musim<\/strong>&nbsp;dari Roma 5:3-5 dan Daniel 2:21 ini, yaitu:<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>I. &nbsp;LOGIKA SURGAWI DI BALIK PENDERITAAN (Roma 5:3-5)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara, untuk memahami Roma 5:3-5, kita harus mengerti&nbsp;<strong>konteks<\/strong>&nbsp;di mana Paulus menulis surat ini.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><u>Roma 5:3-5<\/u><\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>5:3<\/strong>&nbsp;Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan&nbsp;kita, &nbsp;karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,&nbsp;<strong>5:4<\/strong>&nbsp;dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.&nbsp;<strong>5:5<\/strong>&nbsp;Dan pengharapan&nbsp;tidak mengecewakan, karena kasih&nbsp;Allah telah dicurahkan di dalam hati kitaoleh Roh Kudus&nbsp;yang telah dikaruniakan kepada kita.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Paulus menulis surat Roma sekitar tahun 57 Masehi. Pada saat itu, menjadi seorang Kristen berarti Anda berisiko kehilangan segalanya. Kaisar Nero belum sepenuhnya gila\u2014kegilaannya yang ekstrem akan terjadi beberapa tahun kemudian, di mana ia akan membakar Roma dan menyalahkan orang Kristen. Tapi tekanan terhadap orang Kristen sudah mulai terasa.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Di Imperium Romawi, Kaisar dianggap sebagai dewa. Setiap warga negara diharuskan untuk menyembah Kaisar dengan berkata, &#8220;Kaisar adalah Tuhan.&#8221; Dan ketika seorang Kristen berkata, &#8220;Tidak, hanya Yesus yang adalah Tuhan,&#8221; itu adalah tindakan&nbsp;<strong>penghasutan tingkat tinggi<\/strong>. Itu bisa dihukum mati. Banyak orang Kristen pada masa itu yang dibakar hidup-hidup, dilemparkan ke binatang buas di Colosseum, disalib, atau dipenggal.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Inilah &#8220;penderitaan&#8221; yang Paulus maksud.<\/strong>&nbsp;Bukan sekadar flu, bukan sekadar masalah keuangan, bukan sekadar konflik rumah tangga. Tapi&nbsp;<strong>penderitaan yang mengancam nyawa<\/strong>. Penderitaan yang bisa membuat kita kehilangan segalanya: keluarga, pekerjaan, status sosial, kebebasan, bahkan nyawa kita sendiri.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan di tengah ancaman seperti itu, Paulus berkata dengan berani:&nbsp;<strong>&#8220;Kita bermegah dalam penderitaan.&#8221; &#8211;&gt; Roma 5:3<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>5:3<\/strong>&nbsp;Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan&nbsp;kita, &nbsp;karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,&nbsp;<strong><\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>a. &#8220;Bermegah&#8221; (Kauchometha)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bahasa Yunani, kata yang diterjemahkan &#8220;bermegah&#8221; adalah&nbsp;<em>kauchometha<\/em>&nbsp;(\u03ba\u03b1\u03c5\u03c7\u03ce\u03bc\u03b5\u03b8\u03b1). Kata ini biasanya digunakan untuk&nbsp;<strong>kebanggaan akan sebuah kemenangan<\/strong>&nbsp;atau&nbsp;<strong>kebanggaan akan sebuah prestasi besar<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti seorang atlet yang berdiri di atas podium, medali emas di lehernya, dan ia&nbsp;<strong>bermegah<\/strong>&nbsp;karena ia telah berlatih keras dan menang. Seperti seorang tentara yang kembali dari medan perang dengan membawa bendera musuh, dan ia&nbsp;<strong>bermegah<\/strong>&nbsp;karena ia telah memenangkan pertempuran. Seperti seorang ilmuwan yang menerima hadiah Nobel, dan ia&nbsp;<strong>bermegah<\/strong>&nbsp;karena penemuannya telah mengubah dunia.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi Paulus menggunakan kata yang sama ini untuk&nbsp;<strong>penderitaan<\/strong>. Ia berkata:&nbsp;<strong>Banggalah ketika Anda menderita untuk Kristus.<\/strong>&nbsp;Angkat kepala Anda tinggi-tinggi. Jangan berkecil hati. Jangan merasa dikutuk. Jangan berpikir bahwa Tuhan meninggalkan Anda.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengapa? Karena kita tahu hasil akhirnya.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">b. Paulus menggunakan kata&nbsp;<strong>&#8220;karena kita tahu&#8221;<\/strong>&nbsp;. Dalam bahasa Yunani:&nbsp;<em>eidotes<\/em>&nbsp;(\u03b5\u1f30\u03b4\u03cc\u03c4\u03b5\u03c2). Ini bukan sekadar keyakinan emosional, bukan sekadar &#8220;perasaan&#8221; bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ini adalah&nbsp;<strong>pengetahuan yang pasti<\/strong>, berdasarkan fakta, berdasarkan pengalaman, berdasarkan firman Tuhan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Paulus tahu, karena ia sudah mengalami berkali-kali, bahwa&nbsp;<strong>penderitaan yang dikelola dengan iman tidak akan pernah sia-sia<\/strong>. Penderitaan yang diserahkan kepada Tuhan akan menghasilkan sesuatu yang indah. Bukan mungkin. Bukan kadang-kadang. Tapi pasti. Karena itu adalah janji Tuhan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Rantai Emas Keselamatan (The Golden Chain)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan rantai emas yang Paulus gambarkan. Ini adalah\u00a0<strong>proses produksi ilahi<\/strong>. Ini adalah pabrik rohani di mana karakter Kristus dibentuk dalam diri Anda. Ini adalah jalur perakitan surgawi yang mengambil bahan baku &#8220;penderitaan&#8221; dan menghasilkan produk jadi &#8220;pengharapan&#8221;.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita ikuti rantai emas keselamatan (the golden chain) ini satu per satu.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Tautan\/ikatan 1: Penderitaan (Thlipsis &#8211; \u03b8\u03bb\u03af\u03c8\u03b9\u03c2)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Kata Yunani pertama adalah&nbsp;<em>thlipsis<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Secara harfiah, kata ini berarti&nbsp;<strong>tekanan<\/strong>,&nbsp;<strong>remukan<\/strong>,&nbsp;<strong>kesempitan<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan sebuah buah zaitun. Untuk menghasilkan minyak zaitun, buah zaitun harus ditekan di dalam alat pemeras yang sangat berat. Tekanannya luar biasa. Minyaknya keluar setetes demi setetes. Itulah&nbsp;<em>thlipsis<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan sebuah anggur. Untuk menghasilkan anggur, buah anggur harus diinjak-injak di tempat pemerasan anggur. Kaki-kaki berat menginjak berulang kali. Air anggurnya mengalir. Itulah&nbsp;<em>thlipsis<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan sepotong logam. Untuk menjadi sebuah pedang yang tajam, logam itu harus dipalu berulang kali di atas landasan. Palu demi palu menghantam. Bentuknya berubah. Kotorannya terkelupas. Itulah&nbsp;<em>thlipsis<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Inilah yang sedang kita alami, saudara.<\/strong>&nbsp;Tekanan. Remukan. Kesempitan. kita merasa seperti sedang ditekan dari segala sisi. kita merasa seperti sedang diinjak-injak. kita merasa seperti sedang dipalu.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan itu sakit. Sangat sakit. Tidak ada yang bisa menyangkal itu.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi ingatlah:&nbsp;<strong>buah zaitun tidak akan menghasilkan minyak tanpa tekanan. Anggur tidak akan dihasilkan tanpa injakan. Pedang tidak akan tajam tanpa palu.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Demikian juga, kita tidak akan menghasilkan&nbsp;<strong>minyak Roh Kudus<\/strong>&nbsp;tanpa tekanan. kita tidak akan menghasilkan&nbsp;<strong>anggur sukacita<\/strong>&nbsp;tanpa injakan penderitaan. kita tidak akan menjadi&nbsp;<strong>pedang Roh yang tajam<\/strong>&nbsp;tanpa palu kesulitan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Tautan\/ikatan 2: Ketekunan (Hupomone &#8211; \u1f51\u03c0\u03bf\u03bc\u03bf\u03bd\u03ae)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dari tekanan (<em>thlipsis<\/em>), lahirlah&nbsp;<em>hupomone<\/em>. Kata ini sering diterjemahkan &#8220;ketekunan&#8221; atau &#8220;kesabaran&#8221;. Tapi dalam bahasa Yunani,&nbsp;<em>hupomone<\/em>&nbsp;bukan berarti diam pasif sambil menunggu masalah selesai. Bukan berarti &#8220;yah, sabar sajalah, nanti juga berlalu.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak, saudara.&nbsp;<em>Hupomone<\/em>&nbsp;berasal dari dua kata:&nbsp;<em>hupo<\/em>&nbsp;(di bawah) dan&nbsp;<em>meno<\/em>&nbsp;(tinggal, bertahan).<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi&nbsp;<em>hupomone<\/em>&nbsp;berarti&nbsp;<strong>kemampuan untuk tinggal di bawah beban tanpa runtuh<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah&nbsp;<strong>ketahanan aktif<\/strong>. Ini adalah&nbsp;<strong>kekuatan untuk bertahan<\/strong>&nbsp;ketika segala sesuatu di dalam diri Anda berteriak untuk lari. Ini adalah&nbsp;<strong>keberanian untuk tetap berdiri<\/strong>&nbsp;ketika angin badai menerpa. Ini adalah&nbsp;<strong>integritas untuk tetap setia<\/strong>&nbsp;ketika semua orang di sekitar Anda meninggalkan Tuhan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan seorang prajurit yang tetap berdiri di medan perang meskipun terluka. Lengannya putus, ia tetap berdiri. Kakinya tertembak, ia tetap berdiri. Ia tidak lari. Ia tidak menyerah. Ia tetap di posisinya sampai tugasnya selesai. Itulah&nbsp;<em>hupomone<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan seorang pelari marathon. Di kilometer ke-30, paru-parunya terasa terbakar. Otot-ototnya berteriak minta berhenti. Pikirannya berkata, &#8220;Sudahlah, berhenti saja. Tidak ada yang salah dengan berhenti.&#8221; Tapi ia terus berlari. Ia menolak berhenti. Ia bertahan. Ia mencapai garis finish. Itulah&nbsp;<em>hupomone<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan seorang ibu yang merawat anaknya yang sakit parah. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Ia tidak tidur nyenyak. Ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Ia lelah, sangat lelah. Tapi ia tidak menyerah. Ia terus merawat. Ia terus berdoa. Ia terus percaya. Itulah&nbsp;<em>hupomone<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan saudara,&nbsp;<em>hupomone<\/em>&nbsp;tidak bisa diajarkan dari buku.&nbsp;<em>Hupomone<\/em>&nbsp;tidak bisa diperoleh dengan membaca artikel motivasi.&nbsp;<em>Hupomone<\/em>&nbsp;tidak bisa diturunkan dalam khotbah yang indah.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Hupomone<\/em>&nbsp;<strong>hanya bisa dibentuk melalui&nbsp;<em>thlipsis<\/em>.<\/strong>&nbsp;Hanya tekanan yang menghasilkan ketahanan. Hanya beban yang menghasilkan otot. Hanya badai yang menghasilkan pelaut yang tangguh.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi jika Anda sedang dalam tekanan hari ini, jangan sia-siakan. Biarkan tekanan itu membangun&nbsp;<em>hupomone<\/em>&nbsp;dalam diri Anda.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Tautan\/ikatan 3: Tahan Uji (Dokime &#8211; \u03b4\u03bf\u03ba\u03b9\u03bc\u03ae)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dari&nbsp;<em>hupomone<\/em>, lahirlah&nbsp;<em>dokime<\/em>. Kata ini berarti&nbsp;<strong>karakter yang sudah teruji<\/strong>&nbsp;atau&nbsp;<strong>nilai yang terbukti<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah kata yang digunakan untuk logam mulia yang sudah diuji di dalam api dan terbukti&nbsp;<strong>asli<\/strong>. Bukan palsu. Bukan imitasi. Bukan campuran. Tapi yang asli. 24 karat. Murni. Tidak ada noda. Tidak ada kotoran.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara,&nbsp;<strong>di sinilah dunia melihat perbedaan antara orang Kristen yang sungguh-sungguh dan orang Kristen yang hanya main-main.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Siapa pun bisa bersukacita ketika Tuhan memberkati. Siapa pun bisa mengucap syukur ketika semuanya berjalan lancar. Siapa pun bisa memuji Tuhan ketika rekening bank penuh, ketika keluarga sehat, ketika pekerjaan aman, ketika mimpi tercapai.&nbsp;<strong>Itu tidak memerlukan iman.<\/strong>&nbsp;Itu hanya logika. Siapa pun bisa bersyukur untuk hal-hal yang baik.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi&nbsp;<strong>siapa yang bisa bersukacita ketika rumah sakit adalah rumah keduanya?<\/strong>&nbsp;Siapa yang bisa mengucap syukur ketika rekening banknya kosong? Siapa yang bisa memuji Tuhan ketika orang yang paling ia kasihi meninggalkannya? Siapa yang bisa tetap percaya ketika Tuhan berkata &#8220;tidak&#8221; berulang kali?<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Hanya orang yang memiliki&nbsp;<em>dokime<\/em>. Hanya orang yang karakter imannya sudah teruji di dalam api. Hanya orang yang tidak lagi bergantung pada keadaan, tetapi bergantung pada&nbsp;<strong>karakter Tuhan yang tidak berubah<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara,&nbsp;<em>dokime<\/em>&nbsp;adalah&nbsp;<strong>sertifikat keaslian<\/strong>&nbsp;dari Tuhan. Ketika Anda melalui penderitaan dengan&nbsp;<em>hupomone<\/em>, Tuhan menguji iman Anda, dan ketika Anda lulus ujian, Tuhan memberi Anda stempel: &#8220;ASLI. TIDAK PALSU.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan stempel itu tidak bisa dipalsukan. Dunia bisa melihatnya. Iblis bisa melihatnya. Malaikat bisa melihatnya. Dan yang terpenting,&nbsp;<strong>Kita sendiri tahu<\/strong>&nbsp;bahwa iman kita &nbsp;nyata. Bukan mainan. Bukan karena kita sedang beruntung. Tapi karena kita sudah melewati api dan tidak terbakar.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4. Tautan\/ikatan 4: Pengharapan (Elpis &#8211; \u1f10\u03bb\u03c0\u03af\u03c2)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan dari&nbsp;<em>dokime<\/em>, lahirlah&nbsp;<em>elpis<\/em>. Dalam bahasa Yunani,&nbsp;<em>elpis<\/em>&nbsp;bukan berarti &#8220;mudah-mudahan&#8221; seperti kita sering menggunakannya.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika kita berkata, &#8220;Mudah-mudahan besok hujan,&#8221; itu adalah harapan yang tidak pasti. Bisa jadi, bisa jadi tidak.<br>Ketika kita berkata, &#8220;Mudah-mudahan saya lulus ujian,&#8221; itu adalah harapan yang bergantung pada hasil ujian.<br>Ketika kita berkata, &#8220;Mudah-mudahan saya sembuh,&#8221; itu adalah harapan yang bergantung pada kondisi medis.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi&nbsp;<em>elpis<\/em>&nbsp;dalam Perjanjian Baru adalah&nbsp;<strong>keyakinan yang pasti<\/strong>&nbsp;akan masa depan. Ini adalah&nbsp;<strong>kepastian<\/strong>&nbsp;bahwa apa yang Tuhan janjikan, akan Tuhan genapi. Ini adalah&nbsp;<strong>jaminan<\/strong>&nbsp;bahwa masa depan ada di tangan Tuhan dan Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baik.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Ibrani 6:19 mengatakan bahwa pengharapan ini adalah&nbsp;<strong>&#8220;jangkar jiwa yang kuat dan teguh&#8221;<\/strong>&nbsp;.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara, bayangkan sebuah kapal di tengah badai. Ombak besar menghantam. Angin kencang menerpa. Kapal itu terombang-ambing. Tapi di dasar laut, jangkar telah menancap kuat di tanah yang kokoh. Kapal itu mungkin bergoyang, tetapi ia tidak akan hanyut. Ia aman. Jangkar menahannya.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Demikianlah pengharapan dalam Tuhan.<\/strong>&nbsp;Dunia di sekitar kita mungkin berguncang. Ekonomi mungkin krisis. Kesehatan mungkin memburuk. Keluarga mungkin berantakan. Tapi jika kita memiliki&nbsp;<em>elpis<\/em>\u2014pengharapan yang pasti dalam Tuhan\u2014jiwa kita akan tetap aman. Kita mungkin bergoyang, kita mungkin menangis, kita mungkin lelah. Tapi kita tidak akan hanyut. kita tidak akan tenggelam. kita tidak akan hancur. Karena jangkar kita tertancap di surga.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dan yang luar biasa, saudara, pengharapan yang lahir dari&nbsp;<em>dokime<\/em>&nbsp;tidak mudah goyah.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Pengharapan yang lahir dari membaca buku motivasi akan luntur ketika masalah datang.<br>Pengharapan yang lahir dari mendengar khotbah yang bagus akan pudar ketika penderitaan berkepanjangan.<br>Pengharapan yang lahir dari emosi yang tinggi akan runtuh ketika badai datang.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi&nbsp;<strong>pengharapan yang lahir dari penderitaan yang dikelola dengan iman\u2014pengharapan yang sudah melewati api\u2014pengharapan yang sudah teruji\u2014pengharapan itu kokoh.<\/strong>&nbsp;Tidak mudah goyah. Karena ia sudah membuktikan bahwa Tuhan setia di masa lalu, sehingga kita percaya Tuhan akan setia di masa depan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Aplikasi: Jangan Putus Rantai Emas Ini<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Rantai emas ini memiliki empat ikatan, yaitu:\u00a0<em>thlipsis<\/em>\u00a0\u2192\u00a0<em>hupomone<\/em>\u00a0\u2192\u00a0<em>dokime<\/em>\u00a0\u2192\u00a0<em>elpis<\/em>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi rantai ini bisa&nbsp;<strong>putus<\/strong>&nbsp;jika kita tidak mengelola penderitaan dengan benar.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ketika tekanan datang, kita memilih untuk&nbsp;<strong>mengerutu<\/strong>, kita memutus rantai.&nbsp;<em>Thlipsis<\/em>&nbsp;tidak menghasilkan&nbsp;<em>hupomone<\/em>, tetapi menghasilkan kepahitan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ketika kita mulai bertahan, kitamemilih untuk&nbsp;<strong>menyerah di tengah jalan<\/strong>, kita memutus rantai.&nbsp;<em>Hupomone<\/em>&nbsp;tidak mencapai&nbsp;<em>dokime<\/em>, dan kita kehilangan kesempatan untuk diuji.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ketika kita diuji, kita memilih untuk&nbsp;<strong>berpura-pura atau mengambil jalan pintas<\/strong>, kita memutus rantai.&nbsp;<em>Dokime<\/em>&nbsp;tidak tercapai, dan kita tidak pernah mengalami pengharapan yang sejati.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jangan putus rantai emas ini, saudara.<\/strong>&nbsp;Biarkan penderitaan menyelesaikan pekerjaannya. Jangan kabur dari proses. Jangan lari dari api. Jangan tolak tekanan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bertahanlah. Bertahanlah. Bertahanlah. Karena di ujung sana, ada pengharapan yang mulia.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>II. KEDAULATAN MUTLAK SANG PEMILIK WAKTU (Daniel 2:21)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Kita beralih ke Daniel 2:21. Kita akan belajar dari\u00a0<strong>Daniel<\/strong>, seorang nabi yang hidup di pengasingan, yang mengalami sendiri bagaimana rasanya berada di musim yang paling sulit, dan bagaimana ia tetap bertahan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita baca Daniel 2:21:<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2:21<\/strong>&nbsp;Dia mengubah saat dan waktu,&nbsp;Dia memecat&nbsp;raja&nbsp;dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat&nbsp;kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian;&nbsp;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Latar Belakang Daniel 2<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan situasinya. Daniel dan teman-temannya (Hananya, Misael, dan Azarya\u2014lebih dikenal dengan nama Babel mereka: Sadrakh, Mesakh, Abednego) dibawa sebagai tawanan dari Yerusalem ke Babel. Mereka kehilangan\u00a0<strong>segalanya<\/strong>: tanah air, Bait Suci, keluarga, kebebasan, identitas.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka sekarang menjadi&nbsp;<strong>budak di negeri asing<\/strong>. Nama-nama Ibrani mereka yang mengandung nama Tuhan (Daniel: &#8220;Tuhanku adalah Hakim&#8221;; Hananya: &#8220;Tuhan itu pengasih&#8221;; Misael: &#8220;Siapa yang seperti Tuhan?&#8221;; Azarya: &#8220;Tuhan adalah penolongku&#8221;) diganti dengan nama-nama dewa Babel (Beltsazar: &#8220;Semoga Bel melindungi hidupnya&#8221;; Sadrakh: &#8220;Perintah dewa bulan&#8221;; Mesakh: &#8220;Siapa yang seperti dewa Syakh?&#8221;; Abednego: &#8220;Hamba dewa Nego&#8221;).<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka dipaksa belajar bahasa dan sastra Babel\u2014budaya yang penuh dengan sihir, ramalan, dan penyembahan berhala.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Secara manusia, ini adalah&nbsp;<strong>musim pencabutan<\/strong>. Musim kehilangan. Musim kematian\u2014kematian mimpi, kematian harapan, kematian masa depan. Jika Anda melihat dari luar, Anda akan berkata, &#8220;Daniel sudah habis. Tuhan meninggalkannya. Nasibnya sial.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tapi saudara, Daniel tidak hancur.<\/strong>&nbsp;Daniel tetap beriman. Daniel tetap berdoa. Daniel tetap setia kepada Tuhan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan di tengah musim yang paling gelap itu, terjadilah krisis besar.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Raja Nebukadnezar\u2014raja yang absolut, raja yang dianggap dewa oleh rakyatnya, raja yang kekuasaannya tidak terbatas\u2014mendapat mimpi yang mengerikan. Ia memanggil semua orang bijak di Babel untuk menafsirkan mimpinya.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi ada masalah besar:&nbsp;<strong>Nebukadnezar lupa dengan mimpinya.<\/strong>&nbsp;Ia hanya ingat bahwa ia merasa takut. Dan ia memerintahkan: &#8220;Katakan kepadaku mimpiku dan artinya. Jika tidak, kalian akan dipenggal!&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah situasi mustahil. Bagaimana mungkin seseorang menafsirkan mimpi yang tidak diceritakan? Para orang bijak Babel protes: &#8220;Tidak ada seorang pun di bumi yang bisa melakukan apa yang raja minta! Tidak ada raja yang pernah meminta hal seperti ini!&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Nebukadnezar murka. Ia mengeluarkan perintah untuk membunuh&nbsp;<strong>semua<\/strong>&nbsp;orang bijak di Babel\u2014termasuk Daniel dan teman-temannya.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Daniel sekarang berada di ambang kematian.<\/strong>\u00a0Besok pagi, ia bisa saja dipenggal. Secara manusia, tidak ada jalan keluar. Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Tidak ada pengacara yang bisa membelanya. Hukuman mati sudah ditetapkan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Di sinilah Daniel menunjukkan imannya yang luar biasa.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Daniel tidak panik. Daniel tidak marah kepada Tuhan. Daniel tidak bertanya, &#8220;Tuhan, mengapa Engkau membiarkan ini terjadi? Aku sudah setia, mengapa aku harus mati seperti ini?&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak, saudara. Daniel justru&nbsp;<strong>berdoa<\/strong>. Ia mengajak teman-temannya berdoa. Mereka memohon belas kasihan Tuhan. Mereka memohon Tuhan untuk menyatakan mimpi itu.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan Tuhan menjawab. Tuhan menyatakan mimpi itu kepada Daniel dalam sebuah penglihatan di malam hari.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan inilah yang luar biasa.&nbsp;<strong>Respons Daniel.<\/strong>&nbsp;Sebelum Daniel pergi menghadap raja, sebelum Daniel menyelamatkan nyawanya sendiri, sebelum Daniel menikmati kemenangan, sebelum ia menerima hadiah dari raja&#8230;<strong>Daniel memuji Tuhan.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Daniel 2:20-23 adalah doa pujian Daniel. Dan di dalam pujian itu, Daniel menyatakan kebenaran teologis yang sangat dalam. Salah satunya adalah ayat 21:&nbsp;<em>&#8220;Dia mengubah waktu dan musim; Dia memecat raja dan mengangkat raja&#8230;&#8221;<\/em><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>a. &#8220;Dia mengubah&#8221; (Hu hedal)<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bahasa Aram (bahasa yang digunakan dalam kitab Daniel bagian ini), frasa &#8220;Dia mengubah&#8221; adalah&nbsp;<em>Hu hedal<\/em>&nbsp;(\u05d4\u05d5\u05bc\u05d0 \u05d4\u05b2\u05d3\u05b8\u05dc). Kata ini menunjukkan&nbsp;<strong>intervensi langsung<\/strong>&nbsp;dari Tuhan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Ini bukan sekadar &#8220;Tuhan membiarkan alam bekerja&#8221;. Ini bukan sekadar &#8220;Tuhan meramalkan apa yang akan terjadi&#8221;. Ini adalah&nbsp;<strong>Tuhan secara aktif mengubah, secara aktif mengganti, secara aktif menetapkan<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara, ini adalah&nbsp;<strong>kedaulatan mutlak Tuhan<\/strong>. Tuhan tidak hanya mengetahui masa depan; Tuhan&nbsp;<strong>menetapkan<\/strong>&nbsp;masa depan. Tuhan tidak hanya meramalkan siapa yang akan menjadi raja; Tuhan&nbsp;<strong>mengangkat dan memecat<\/strong>&nbsp;raja.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Daniel 2:21 mengajarkan bahwa&nbsp;<strong>tidak ada satu detik pun dalam sejarah manusia yang berada di luar kendali Tuhan<\/strong>. Bangkit dan jatuhnya kerajaan, pergantian rezim, krisis ekonomi, pandemi, perang, bencana alam\u2014semuanya ada dalam kendali Tuhan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan ini berlaku juga untuk&nbsp;<strong>musim dalam kehidupan kita<\/strong>, saudara.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tuhan yang sama yang mengangkat Nebukadnezar sebagai raja Babel\u2014seorang raja kafir yang kejam, yang menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci, yang membawa umat Tuhan ke dalam pembuangan\u2014Tuhan yang sama itu juga yang&nbsp;<strong>mengatur musim dalam hidup Anda<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Itu berarti:&nbsp;<strong>Musim yang menyenangkan dan musim yang menyakitkan, keduanya tidak berada di luar kendali Tuhan.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ini Tidak Nyaman<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tahu ini tidak nyaman untuk didengar. Jujur saja. Karena kita lebih suka Tuhan hanya bertanggung jawab atas hal-hal baik.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Kita ingin Tuhan menjadi penanggung jawab atas berkat, kesembuhan, keberhasilan, kebahagiaan. Tapi kita&nbsp;<strong>tidak<\/strong>&nbsp;ingin Tuhan menjadi penanggung jawab atas kegagalan, penyakit, kehilangan, dan penderitaan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Kita ingin Tuhan menjadi &#8220;penjamin kebahagiaan&#8221; kita, bukan &#8220;pengizinkan penderitaan&#8221; kita.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tapi saudara, kalau Tuhan hanya Tuhan di musim baik, maka sebenarnya kita tidak sedang percaya kepada Tuhan.<\/strong>&nbsp;Kita hanya percaya pada&nbsp;<strong>keadaan yang nyaman<\/strong>. Kita hanya percaya pada&nbsp;<strong>berkat<\/strong>, bukan pada Pemberi Berkat. Kita hanya percaya pada&nbsp;<strong>mukjizat<\/strong>, bukan pada Pembuat Mukjizat. Kita hanya percaya pada&nbsp;<strong>jawaban doa<\/strong>, bukan pada Tuhan yang mendengar doa.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Coba bayangkan, saudara. Seorang anak kecil berkata kepada ayahnya: &#8220;Ayah, aku hanya mau dipeluk ketika Ayah membelikanku mainan. Ketika Ayah mendisiplinkanku, aku tidak mau disebut anak Ayah. Ketika Ayah menyuruhku mengerjakan PR, aku tidak mau dianggap sebagai anak Ayah. Aku hanya mau menjadi anak Ayah ketika Ayah membuatku senang.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Itu konyol, bukan? Tapi itulah kita, saudara. Seringkali. Kita hanya mau Tuhan ketika Tuhan memberikan apa yang kita minta. Tapi ketika Tuhan mengizinkan musim sulit untuk&nbsp;<strong>membentuk kita<\/strong>, kita justru meragukan kasih-Nya, meragukan kebaikan-Nya, bahkan meragukan keberadaan-Nya.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kekuatan dari Daniel 2:21<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi perhatikan, saudara. Daniel tidak memiliki teologi yang dangkal seperti itu.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Daniel, di tengah ancaman kematian, di tengah musim yang paling gelap,&nbsp;<strong>memuji Tuhan<\/strong>&nbsp;karena Tuhan berdaulat atas waktu dan musim.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Daniel tidak berkata: &#8220;Tuhan, terima kasih karena Engkau akan menyelamatkan saya dari musim ini.&#8221;<br>Daniel berkata:&nbsp;<strong>&#8220;Tuhan, terima kasih karena Engkau berdaulat&nbsp;di dalam&nbsp;musim ini.&#8221;<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaannya sangat besar, saudara.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Iman yang dangkal berkata: &#8220;Tuhan, tolong bawa saya keluar dari masalah.&#8221;<br>Iman yang dewasa berkata: &#8220;Tuhan, tolong nyatakan diri-Mu di dalam masalah saya.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Iman yang dangkal berkata: &#8220;Tuhan, ubah keadaan saya.&#8221;<br>Iman yang dewasa berkata: &#8220;Tuhan, ubah saya melalui keadaan ini.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Iman yang dangkal hanya mau Tuhan ketika Tuhan memberkati.<br>Iman yang dewasa memuji Tuhan&nbsp;<strong>bahkan ketika Tuhan tidak mengubah keadaan<\/strong>, karena ia tahu bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Daniel tidak tahu apakah ia akan selamat. Secara manusia, besok pagi ia bisa saja dipenggal. Tapi ia tetap memuji Tuhan. Bukan karena Tuhan akan membebaskannya, tetapi karena&nbsp;<strong>Tuhan layak dipuji<\/strong>&nbsp;terlepas dari apapun yang terjadi.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah level iman yang Tuhan cari dari kita. Iman yang tidak bergantung pada keadaan. Iman yang bertahan ketika Tuhan berkata &#8220;tidak&#8221;. Iman yang tetap menyembah ketika badai belum reda. Iman yang tetap percaya bahwa Tuhan baik, bahkan ketika hidup terasa tidak adil.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apakah kita &nbsp;memiliki iman seperti itu?<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>III. &nbsp;PERGESERAN PARADIGMA \u2013 DARI &#8220;KAPAN&#8221; KE &#8220;APA&#8221;<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Saya ingin mengajak kita semua untuk melakukan sebuah\u00a0<strong>pergeseran paradigma<\/strong>\u00a0yang akan menentukan segalanya. Jika pergeseran ini tidak terjadi, maka semua yang kita pelajari selama 3 minggu ini hanya akan menjadi informasi yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi jika pergeseran ini terjadi,&nbsp;<strong>hidup kita tidak akan pernah sama lagi.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pergeserannya adalah: dari bertanya &#8220;KAPAN&#8221; menjadi bertanya &#8220;APA&#8221;.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Selama ini, mungkin doa kita didominasi oleh satu kata:&nbsp;<strong>&#8220;KAPAN&#8221;<\/strong><\/p><ul class=\"wp-block-list\"><li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0musim sulit ini berakhir?&#8221;<\/li>\n\n<li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0Engkau menjawab doaku?&#8221;<\/li>\n\n<li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0saya sembuh?&#8221;<\/li>\n\n<li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0saya mendapatkan pekerjaan?&#8221;<\/li>\n\n<li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0saya menikah?&#8221;<\/li>\n\n<li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0suami\/istri saya berubah?&#8221;<\/li>\n\n<li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0anak saya kembali?&#8221;<\/li>\n\n<li>&#8220;Tuhan,\u00a0<strong>kapan<\/strong>\u00a0saya bahagia lagi?&#8221;<\/li><\/ul><p class=\"wp-block-paragraph\">Saudara, tidak ada yang salah dengan bertanya &#8220;kapan&#8221;. Bahkan para pemazmur bertanya &#8220;sampai kapan, ya Tuhan?&#8221; (Mazmur 13:1). Itu adalah seruan yang jujur dari hati yang terluka. Tuhan tidak marah ketika Anda bertanya &#8220;kapan&#8221;.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tapi saudara, jika kita hanya bertanya &#8220;kapan&#8221;, kita akan terus frustrasi.<\/strong>&nbsp;Karena kita tidak bisa mempercepat waktu Tuhan. Kita tidak bisa memaksakan musim Tuhan. Kita tidak bisa membuat Tuhan bergerak sesuai jadwal kita. Semakin Anda terfokus pada &#8220;kapan&#8221;, semakin kita menderita. Karena &#8220;kapan&#8221; adalah pertanyaan yang jarang dijawab Tuhan di dunia ini.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan yang lebih tepat, pertanyaan yang akan mengubah hidup Anda, adalah: &#8220;APA&#8221;<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Tuhan,&nbsp;<strong>APA<\/strong>&nbsp;yang Engkau sedang kerjakan dalam hidup saya di musim ini?&#8221;<\/em><\/p><ul class=\"wp-block-list\"><li>Bukan &#8220;Kapan saya sembuh?&#8221;, tapi &#8220;Apa yang Engkau ajarkan tentang kelemahan saya di musim sakit ini?&#8221;<\/li>\n\n<li>Bukan &#8220;Kapan masalah keuangan ini selesai?&#8221;, tapi &#8220;Apa yang Engkau ubah dalam hati saya tentang ketergantungan pada uang?&#8221;<\/li>\n\n<li>Bukan &#8220;Kapan orang yang menyakiti saya mendapat ganjarannya?&#8221;, tapi &#8220;Apa yang Engkau pulihkan dalam diri saya melalui pengampunan?&#8221;<\/li>\n\n<li>Bukan &#8220;Kapan saya keluar dari kesepian ini?&#8221;, tapi &#8220;Apa yang Engkau nyatakan tentang diri-Mu sebagai Mempelai yang setia?&#8221;<\/li>\n\n<li>Bukan &#8220;Kapan saya mendapatkan pasangan?&#8221;, tapi &#8220;Apa yang Engkau bentuk dalam diri saya agar saya siap untuk pernikahan?&#8221;<\/li><\/ul><p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika kita berhenti bertanya &#8220;kapan&#8221; dan mulai bertanya &#8220;apa&#8221;, maka kita akan mulai\u00a0<strong>melihat tangan Tuhan<\/strong>\u00a0di setiap musim. kita tidak lagi menjadi korban dari keadaan. kita menjadi\u00a0<strong>murid yang sedang diajar oleh Guru Agung<\/strong>.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">kita tidak lagi berkata, &#8220;Tuhan, kapan ini berakhir?&#8221; kita mulai berkata, &#8220;Tuhan, ajar aku sesuatu hari ini.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">kita tidak lagi berkata, &#8220;Tuhan, keluarkan aku dari sini!&#8221; kita mulai berkata, &#8220;Tuhan, nyatakan diri-Mu kepada aku di sini.&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Dan ketika itu terjadi, kita &nbsp;akan mengalami&nbsp;<strong>damai sejahtera yang melampaui akal budi<\/strong>. Damai yang tidak tergantung pada situasi. Damai yang tetap ada bahkan ketika badai belum reda. Damai yang membuat Anda bisa tersenyum bahkan ketika menangis.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>PENUTUP:<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang, saya mau meninggalkan kita dengan sebuah tantangan. Bukan dari saya, tetapi dari firman Tuhan.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tantangannya adalah: Apakah Kita bersedia untuk percaya kepada Tuhan, bukan hanya di musim yang nyaman, tetapi di&nbsp;setiap&nbsp;musim?<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah kita bersedia untuk tidak lagi melarikan diri dari musim sulit, tetapi bertanya, &#8220;Tuhan, apa yang Engkau mau ajarkan?&#8221;<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah kita &nbsp;bersedia untuk tidak lagi mengerutu ketika doa tidak dijawab, tetapi berkata, &#8220;Tuhan, aku percaya waktu-Mu sempurna&#8221;?<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah kita bersedia untuk tidak lagi meragukan kebaikan Tuhan ketika penderitaan datang, tetapi berkata, &#8220;Tuhan, Engkau membuat segala sesuatu indah pada waktunya&#8221;?<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Saya tidak tahu musim apa yang sedang saudara alami saat ini.<\/strong><\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin kita sedang di puncak gunung. Bersyukurlah. Tapi jangan sombong. Bersiaplah untuk lembah. Karena lembah pasti datang.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin kita sedang di lembah kekelaman. Jangan putus asa. Angkat kepalamu. Tuhan sedang berjalan bersama kitadi lembah itu. Dan di ujung lembah, ada cahaya.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin kita sedang di padang gurun yang kering dan tandus. Jangan menyerah. Air hidup tersedia. Tuhan sedang memurnikan iman kita. Dan ketika kita keluar dari padang gurun, kita akan seperti emas murni.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Apapun musim yang kita hadapi, ingatlah firman Tuhan:<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>&#8220;Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.&#8221;<\/strong>&nbsp;(Pengkhotbah 3:1)<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>&#8220;Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.&#8221;<\/strong>&nbsp;(Pengkhotbah 3:11)<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>&#8220;Penderitaan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan.&#8221;<\/strong>&nbsp;(Roma 5:3-5)<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>&#8220;Dia mengubah waktu dan musim.&#8221;<\/strong>&nbsp;(Daniel 2:21)<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\">Percayalah kepada Tuhan. Bertahanlah di musim kita ini. Dan biarkan Tuhan menyelesaikan pekerjaan-Nya yang indah dalam hidup kita.<\/p><p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seri 3: Iman yang Bertahan di Setiap MusimRoma 5:3-5 dan Daniel 2:21 Kita akan membahas tema ini menjadi 3 bagian, \u00a0Dua Minggu lalu kita belajar dari Pengkhotbah 3:1 bahwa\u00a0Tuhan yang menentukan musim. Bukan kita. Bukan keadaan. Bukan iblis. Bukan nasib, tapi \u00a0Tuhan. Kita belajar untuk melepaskan ilusi kontrol dan menerima bahwa ada jadwal ilahi di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":549,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_regular_price":[],"currency_symbol":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-284","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"post_slider_layout_featured_media_urls":{"thumbnail":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253-150x150.png",150,150,true],"post_slider_layout_landscape_large":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253.png",677,781,false],"post_slider_layout_portrait_large":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253.png",677,781,false],"post_slider_layout_square_large":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253.png",677,781,false],"post_slider_layout_landscape":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253-600x400.png",600,400,true],"post_slider_layout_portrait":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253-600x781.png",600,781,true],"post_slider_layout_square":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253-600x600.png",600,600,true],"full":["https:\/\/jimmylizardo.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/Screenshot-2026-07-24-094253.png",677,781,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=284"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":550,"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/284\/revisions\/550"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/549"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jimmylizardo.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}