Kisah Yusuf Bagian 10

Pada saat ini kita masih membahas kisah Yusuf dan pada saat ini kita telah memasuki bagian ke 10 dari kisah Yusuf yang begitu luar biasa ini.

            Bila sebelumnya kita telah belajar bagaimana Yusuf yang telah selesai dengan dirinya sendiri dan tidak trauma dengan “mimpi”, malahan kini ia menolong kepala juru minuman dan kepala juru roti yang bermimpi yang membuat mereka sangat gundah dan sedih hatinya karena mimpinya mereka itu.

 

Dan pada saat ini kita akan melanjutkan pembelajaran kisah Yusuf yang sangat menarik dan patut kita jadikan pembelajaran di dalam hidup kita masing-masing.

Saya akan membacakan Firman Tuhan terlebih dahulu di Kej 40:9-15, demikian,

Kej. 40:9  Kemudian juru minuman itu menceritakan mimpinya kepada Yusuf, katanya: “Dalam mimpiku itu tampak ada pohon anggur di depanku. 

Kej. 40:10  Pohon anggur itu ada tiga carangnya dan baru saja pohon itu bertunas, bunganya sudah keluar dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum. 

Kej. 40:11  Dan di tanganku ada piala Firaun. Buah anggur itu kuambil, lalu kuperas ke dalam piala Firaun, kemudian kusampaikan piala itu ke tangan Firaun.” 

Kej. 40:12  Kata Yusuf kepadanya: “Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya tiga hari; 

Kej. 40:13  dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampaikan piala ke tangan Firaun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumannya. 

Kej. 40:14  Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. 

Kej. 40:15  Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini.” 

 

            Ibu Bapak sekalian, karena Yusuf meminta kepada kepala juru minuman untuk menceritakan mimpinya tersebut, maka ia menceritakan secara detil mimpi yang ia mimpikan pada malam sebelumnya. Menariknya bahwa Yusuf mendapatkan hikmat bagaimana menafsirkan mimpinya juru minuman ini, yaitu bahwa dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan juru minuman dan mengembalikan pekerjaannya yang dahulu.

            Setelah mengatakan penafsiran yang Yusuf dapatkan dari Allah, Yusuf mengatakan kepada juru minuman tersebut demikian, “Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. 

            Di sini terlihat bahwa Yusuf juga tetap menyadari situasi dirinya yang tidak baik karena ia adalah seorang budak yang berada di dalam penjara sebagai narapidana. Di sini terlihat bahwa Yusuf bukanlah seorang yang cuek dan masa bodoh dengan keadaan dirinya sendiri. Yusuf tetap memiliki harapan bahwa dirinya suatu hari nanti akan keluar dari penjara dan menjadi orang merdeka, sekalipun pada masa itu dari seorang budak menjadi orang merdeka adalah hal yang mustahil terjadi. Namun Yusuf terus menaruh harapannya kepada Allah.

            Yusuf mampu memiliki harapan di tengah kemustahilan, dan ini membutuhkan iman yang kuat dan solid di hadapan Allah. Di sinilah kita harus belajar seperti Yusuf. Kita tidak boleh putus asa dan menyerah dengan kondisi keadaan yang gelap yang tidak tampak ada sinar di sekeliling kita. Kita harus terus berharap bahwa pada suatu hari Allah akan mengeluarkan kita dari situasi yang sulit dan mustahil ini. Ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang mampu membuat segala sesuatu dari yang mustahil menjadi mungkin.

            Perkataan Yusuf kepada juru minuman ini merupakan sebuah perkataan yang menaruh harapan besar agar juru minuman yang telah ditolong Yusuf dalam menafsirkan mimpinya dan memiliki jabatannya kembali dapat berbalik kembali menolong Yusuf.

            Dari kalimat yang disampaikan Yusuf di ayat ke-14 yang tadi saya telah bacakan, ada beberapa hal menarik yang dapat kita jadikan contoh pelajaran dalam kehidupan kita.

1.     Yusuf berkata, “Ingatlah kepadaku”. Pada kenyataannya, kita sendiri sering kali melupakan pertolongan dari orang lain kepada diri kita. Kita begitu mudah melupakan pertolongan orang dan sebaliknya malah terus mengingat kebaikan diri kita sendiri terhadap orang lain.

Kita harus belajar agar kita mengingat pertolongan orang lain terhadap diri kita dan sekiranya mungkin, kita juga membalas kebaikan yang telah mereka berikan kepada kita.

2.     Yusuf melanjutkan perkataannya “apabila keadaanmu telah baik nanti.” Kita bisa melihat bahwa betapa sopannya Yusuf kepada juru minuman yang telah ia tolong. Yusuf tetap menghargai juru minuman walaupun Yusuf telah menolongnya.

Ironisnya banyak di antara kita sendiri yang menganggap rendah orang yang telah kita tolong karena kita merasa lebih hebat, merasa lebih berjasa dan terus mengingatkan balas budi kepada orang yang kita tolong.

Yusuf berkata, “apabila keadaanmu telah baik nanti”, ini menunjukkan bahwa Yusuf juga berharap bila juru minuman ini akan baik keadaannya suatu hari nanti. Sebuah doa dan harapan dari Yusuf kepada juru minuman padahal ia sendiri juga butuh pertolongan.

Maka kita harus belajar seperti Yusuf bahwa ia bahkan mendoakan orang yang ia tolong sementara dirinya sendiri juga sedang membutuhkan pertolongan dari orang yang ia tolong.

3.     Yusuf kemudian berkata, “Tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun”

Yusuf tetap memiliki pengharapan akan keadilan terhadap dirinya. Yusuf sadar bahwa ia berada di dalam ketidakadilan dari tindakan Potifar. Menariknya Yusuf tidak protes kepada Potifar secara langsung, Yusuf juga tidak menjelek-jelekkan Potifar di hadapan juru minuman raja.

Kalau kita yang mengalami seperti yang Yusuf alami, kemungkinan besar kita akan “curhat” dan menjelek-jelekkan Potifar dan istrinya. Siapa yang tahan dan terus menyimpan di dalam hati kejelekan dan keburukan orang lain sementara kita sendiri begitu menderita dan tidak mendapatkan keadilan?

Saudara, perlu saya tegaskan bahwa di dunia ini, tidak ada keadilan yang dapat ditegakkan secara lurus, karena semua manusia pada dasarnya telah bengkok dan tidak lurus. Karena itulah kita harus menaruh harapan kepada Allah dan mengharapkan keadilan dari Allah dan jalan keluar dari Allah saja.

Yusuf berkata kepada juru minuman agar ia mau sekedar “bercerita” kepada Firaun mengenai dirinya dan berharap mendapatkan keadilan dari Firaun. Namun kita melihat dalam kisah selanjutnya bahwa juru minuman yang kelak kembali kepada posisinya semula telah melupakan Yusuf. Lihatlah betapa seseorang begitu mudah melupakan kebaikan dan pertolongan orang lain, padahal di sini terlihat bahwa Yusuf telah memohon dan mengemis agar juru minuman tersebut dapat menunjukkan terimakasihnya hanya dengan menceritakan dirinya kepada Firaun.

Di sini pula kita belajar untuk tidak menjadi seperti juru minuman dan juga belajar untuk tidak kecewa dan tidak marah kepada orang yang tidak tahu berterimakasih kepada kita.

Teruslah berharap kepada Tuhan dan bukan kepada manusia, karena manusia akan mengecewakan kita.

4.     Yusuf juga memohon kepada juru minuman tersebut dengan berkata, “tolonglah keluarkan aku dari rumah ini” Rumah yang dimaksudkan di sini adalah rumah tahanan yang kemungkinan berada dalam kompleks yang sama dengan Potifar karena Potifar adalah kepala keamanan Raja yang bertugas untuk mengamankan Raja dari semua marabahaya dan usaha pemberontakan atau pembunuhan terhadap Raja Firaun.

Di rumah tahanan ini, Yusuf memohon kepada juru minuman agar bisa menyampaikan kepada Firaun perihal dirinya. Yusuf ingin bebas dan mendapatkan keadilan namun bukan dengan menjelek-jelekkan Potifar, sekalipun Yusuf memiliki kesempatan dan juga hak untuk melakukannya.

Di sini kita harus belajar seperti Yusuf yang begitu luar biasa telah mengampuni Potifar dan sama sekali tidak menjelek-jelekkan Potifar.

5.     Kemudian Yusuf berkata di Kej 40:15  Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini.”

Lihatlah apa yang dikatakan Yusuf kepada juru minuman ini. Yusuf tahu bahwa juru minuman ini adalah harapannya yang terbesar yang pernah ia miliki untuk bisa keluar dari penjara ini. Sampai di sini terlihat bahwa Yusuf begitu ingin keluar dan mendapatkan keadilan.

Namun sekalipun ia ingin keluar dan mendapatkan keadilan, namun Yusuf sama sekali tidak menyampaikan kesalahan Potifar dan istrinya kepada juru minuman. Kalau kita ada di posisi Yusuf seperti ini, apakah kita sanggup menutup mulut kita dan tidak bercerita kepada orang lain bahkan tidak bercerita kepada juru minuman yang memiliki akses langsung kepada Firaun?

Rasanya kita semua pasti akan curhat sana sini dan berkoar-koar berjuang untuk mendapatkan keadilan dari orang yang memfitnah kita.

Yusuf “hanya” berkata kepada juru minuman bahwa dirinya adalah orang Ibrani, yang diculik dan tidak melakukan apa-apa yang membuatnya layak masuk di dalam penjara itu. Bayangkan hanya itu yang Yusuf ceritakan kepada juru minuman raja ini. Yusuf tidak menyampaikan perihal kejahatan saudara-saudaranya, tidak menyampaikan perihal istri Potifar yang berusaha membujuknya untuk tidur bersama dan ia tolak. Yusuf juga tidak menceritakan perihal Potifar yang memasukkan dirinya ke dalam penjara, padahal itu semua karena fitnah dari istrinya sendiri.

Di sini kita belajar untuk tidak menjelek-jelekkan orang sekalipun orang itu mungkin telah menyakiti kita, bahkan telah membuat kita menderita dan telah membuat kita mengalami kerugian yang begitu besar di dalam hidup kita ini. Serahkanlah kepada Allah dan percayalah kepada Allah yang akan menolong kita dan memberikan keadilan kepada kita.

 

            Bapak Ibu sekalian, itulah 5 hal yang dapat kita pelajari dari kisah Yusuf di bagian ke-10 ini. Janganlah kita membiarkan kepahitan dan kemarahan masuk ke dalam pikiran dan hati kita sekalipun kita memiliki alasan untuk melakukannya. Karena kemarahan, dendam, kepahitan justru akan membuat diri kita yang telah sengsara akan semakin sengsara.

            Penderitaan yang kita alami yang disebabkan oleh orang lain, jangan membuat kita marah, dendam dan kepahitan. Karena marah, dendam dan kepahitan itu bukanlah jalan keluar dan juga bukanlah jalan untuk membalas mereka yang telah membuat kita sengsara, namun malahan justru membuat kita semakin menderita.

            Ingatlah bahwa kepahitan, marah dan dendam yang kita lakukan terhadap orang lain bukanlah sebuah tindakan untuk menghukum mereka, melainkan tindakan menghukum diri kita sendiri dan menyengsarakan diri kita sendiri sementara kita berharap orang itu yang merasakannya.

 

Karena itu, janganlah sampai kita ditipu oleh iblis dan justru menghilangkan harapan dan sukacita kita di masa-masa berat dalam hidup kita ini. Serahkan masalah dan penderitaan kita kepada Tuhan yang hidup yang kita percayai, karena Tuhan yang hidup itu akan membuat jalan di tengah padang gurun bagi kita. Amin

 

Ps. Jimmy Lizardo