Kisah Yusuf Bagian 3

Kali ini kita akan belajar bersama-sama bagaimana Yusuf berjalan di dalam lembah kekelaman atau padang gurun yang tidak mudah dilaluinya seorang diri.

Pada akhirnya Yusuf tidak jadi dibunuh oleh saudara-saudaranya dan ia dijual kepada orang Midian (Kej 37:28) lalu dibawa ke Mesir. Tanpa diketahui oleh Yakub, saudara-saudara Yusuf telah membuat sebuah drama atau skenario bahwa Yusuf ini telah diterkam binatang buas dan menyuruh mengantarkan jubah Yusuf kepada Yakub. Seketika itu juga Yakub berkabung selama berhari-hari lamanya karena ia begitu mengasihi Yusuf.

            Di sini kita melihat betapa kejamnya perlakuan anak-anak Yakub kepada ayahnya sendiri. Di masa sekarangpun kita sering mendengar ada anak-anak yang berlaku kejam kepada orang tuanya sendiri. Misalnya menaruh orang tua di panti tanpa ditengok sama sekali, sehingga memberikan kesan “dibuang” oleh anak-anaknya sendiri. Ada juga anak yang menuntut orang tuanya perihal harta ataupun warisan dengan berlaku secara tidak hormat. Di sini kita melihat bahwa ada tindakan keliru yang dilakukan anak-anak kepada orang tua mereka, dan di sini juga kita belajar agar kita tidak pernah melakukan ini kepada orang tua kita. Firman Tuhan mengajarkan agar kita menghormati orang tua kita.

            Setelah Yusuf dijual, sampailah Yusuf sebagai budak di rumah seorang pegawai istana Firaun atau lebih tepatnya adalah seorang kepala istana Firaun. Di sini kita melihat bahwa Yusuf yang tadinya seorang anak dari Yakub yang kaya raya, kini menjadi seorang budak di rumah Potifar di Mesir.

            Di zaman itu, seorang budak tidak lagi memiliki kebebasan sama sekali, ia tidak memiliki harapan akan bisa menjadi orang bebas kembali. Sekali seorang menjadi budak, selamanya ia akan menjadi budak. Seolah-olah namanya hilang lenyap dan tanpa ada seorangpun yang peduli kepada seorang budak.

            Namun ternyata Allah tidak meninggalkan Yusuf di dalam kesendiriannya itu. Firman Tuhan berkata di Kej 39:1-2 demikian; ayat 1: Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Ayat ke 2  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. 

            Kalau kita perhatikan antara ayat 1 dan ayat 2, ada penghubung di antaranya, yaitu kata “Tetapi”. Kata “Tetapi” ini menunjukkan adanya 2 buah hal yang berbeda, atau kontra atau sebuah perbandingan yang bertentangan antara kalimat sebelumnya dan kalimat sesudahnya.

            Di sini terlihat bahwa kalimat pertama adalah: Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Di sini, situasinya adalah Yusuf menjadi seorang budak dengan kondisi tanpa harapan, tanpa dipedulikan orang lain dan dalam kesendirian. Namun ternyata ada hal yang berbeda dengan situasi ini, yaitu bahwa TUHAN menyertai Yusuf.

            Maka di sini kita bisa belajar bahwa sekalipun kondisi seseorang mungkin berada di dalam kondisi yang buruk, di dalam kondisi yang sedang dalam kesendirian, di dalam kondisi di mana tidak ada seorangpun yang mempedulikannya, namun di sisi lain yang tidak tampak oleh kita ternyata ada Tuhan yang menyertai kita.

            Memang kita tidak dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani kita. Demikian juga Yusuf yang tidak dapat melihat Allah yang menyertainya. Namun sekalipun Yusuf di dalam kesendirian, ternyata Allah tetap menyertai Yusuf. Di sini berarti Allah juga ada bersama Yusuf di rumah Potifar. Dan karena kehadiran Allah inilah, maka apa yang dikerjakan oleh Yusuf dibuat Allah selalu berhasil.

            Ada hal yang mungkin luput dari pandangan kita secara manusia, bahwa pekerjaan seorang budak tentulah sangat mudah dan tidak butuh Tuhan untuk menjalankan tugas-tugas sebagai budak. Namun Firman Tuhan mengatakan, di ayat ke 2 tadi, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.”

            Maka di sini kita harus tahu dan menyadari bahwa keberhasilan segala usaha dan pekerjaan kita, sekalipun itu tampaknya hal yang remeh dan kecil, ternyata ada kepedulian Tuhan di sana, ada penyertaan Tuhan di sana, dan ada berkat yang Tuhan berikan di sana. Karena itulah sebagai anak-anak Tuhan kita harus selalu mengandalkan Tuhan, sekalipun pekerjaan yang kita kerjakan tampak kecil dan remeh.

            Penyertaan Tuhan ternyata tidak berhenti sampai di situ, hal yang luar biasa adalah bahwa Potifar sekalipun seorang yang tidak memiliki keyakinan yang sama seperti Yusuf dalam hal percaya kepada Allah Yahweh, ternyata Potifar ini bisa melihat bahwa Yusuf disertai oleh Tuhan dan Tuhan membuat segala pekerjaan Tuhan menjadi berhasil. Mari kita perhatikan Kej 39:3 Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,”

            Kita tahu bahwa posisi Yusuf adalah seorang budak, apa yang dapat dibanggakan dari posisi seorang budak? Sama sekali tidak ada! Namun di sini ternyata Allah membuat perbedaan di dalam diri Yusuf. Sekalipun Yusuf seorang budak, namun budak yang satu ini berbeda dengan budak-budak lainnya yang dimiliki oleh Potifar. Karena itulah Potifar bisa melihat bahwa Yusuf disertai Tuhan dan apa yang dikerjakannya menjadi berhasil.

            Karena penyertaan Tuhan dan keberhasilan Yusuf dalam pekerjaannnya sebagai budak, di ayat 3 dikatakan, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.”

            Di sini kita melihat bahwa penyertaan Tuhan ternyata dapat membuat segala sesuatu menjadi berbeda. Seorang budak yang tampak tidak berharga sekalipun, ternyata menjadi begitu berharga bagi tuannya Potifar seorang kepala Istana Firaun. Hal yang sangat luar biasa bila Yusuf bisa mendapatkan perhatian dari Potifar seorang kepala Istana Firaun, padahal tentu saja Potifar memiliki banyak budak dan juga kesibukan yang luar biasa di istana Firaun. Kalau kita membayangkan, seorang seperti Potifar yang pasti jarang berada di rumah dan memiliki banyak budak, namun bagaimana Potifar bisa samapi menaruh perhatian khusus kepada Yusuf, tentulah hal ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa dan di luar kewajaran.

            Maka di sini kita belajar bahwa sekalipun seorang budak, Yusuf bisa mendapatkan perhatian dari tuannya karena ada penyertaan Tuhan yang bersamanya. Firman Tuhan lalu melanjutkan demikian di ayat ke 5-6, “Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. 39:6  Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. 

            Hal yang luar biasa dari seorang budak yang tampak tidak berharga di mata manusia dan tidak memiliki harapan ini, ternyata membalikkan fakta tersebut. Firman Tuhan yang tadi kita baca mengatakan bahwa Yusuf diberikan kuasa di dalam rumahnya bahkan bukan hanya sekedar rumahnya Potifar namun sampai kepada segala kepunyaan dari Potifar. Ini benar-benar luar biasa bagi kehidupan Yusuf, sekalipun ia seorang budak namun ia menjadi kesayangan dari Potifar dan mendapatkan kepercayaan yang besar dari Potifar.

            Ada yang menarik kalau kita memakai Alkitab versi KJV diayat ke 5, dikatakan demikian, and the blessing of the LORD was upon all that he had in the house, and in the field.” Di sini dikatakan bahwa berkat Tuhan itu bahkan bukan hanya menyertai Potifar dan semua yang ada di rumahnya, namun juga di ladang Potifar. Kita melihat bahwa kehidupan Yusuf sekalipun sebagai budak, namun memiliki berkat yang melimpah hingga berkat itu juga sampai kepada tuannya dan ladang yang dimiliki oleh Potifar.

            Bahkan di ayat ke 6 yang kita baca tadi mengatakan bahwa Potifar tidak perlu lagi mengatur apapun selain dari makanannya sendiri. Dari hal ini, ada beberapa point yang bisa kita dapatkan dari kehidupan Yusuf di bagian ini:

1.     Kita belajar bahwa sekalipun Yusuf dijual sebagai budak, namun Alkitab mengatakan bahwa ada penyertaan Tuhan bersamanya sekalipun Yusuf tidak melihat Allahnya secara fisik.

Demikian juga dengan diri kita, sekalipun kita mungkin dalam kesendirian, atau sedang mengalami lembah kekelaman, namun ada Tuhan yang pasti menyertai anak-anak-Nya.

2.     Kita belajar bahwa sekalipun Yusuf bekerja sebagai budak, namun Yusuf bekerja dengan sungguh-sungguh, sekalipun sebelumnya ia adalah seorang anak yang mendapatkan perlakuan khusus dari Yakub ayahnya. Yusuf tidak menjadi cengeng dan mengasihani diri sendiri, ia juga tidak marah kepada keadaan dan menyalahkan saudaranya atau bahkan menyalahkan Tuhan.

Demikian juga dengan diri kita, sekalipun kita menderita akibat kesalahan orang lain, janganlah kita mengasihani diri sendiri, atau menaruh dendam dan marah kepada orang tersebut ataupun marah kepada Tuhan. Yusuf bisa terus move on. Karena itulah ia bisa bekerja dengan sebaik-baiknya sekalipun sebagai budak.

3.     Kita belajar bahwa sekalipun sebagai budak, Yusuf bisa mendapatkan kepercayaan dari Potifar. Hal ini berarti bahwa sekalipun pekerjaan yang dilakukan tampak remeh dan tidak berarti di mata manusia, namun ketika ada Tuhan yang menyertai, pekerjaan yang kecil dan remeh ini memiliki dampak yang sangat besar.

Demikian juga dengan diri kita, mungkin kita sedang melakukan pekerjaan yang tampak kecil dan tidak berarti, namun bila ada Tuhan di dalamnya maka apa yang kecil dan tidak berarti ini bisa Tuhan ubah menjadi sesuatu yang besar dan berdampak luar biasa.

 

Karena itu saudara-saudara, pada kesempatan ini saya mengajak kita semua terus bersemangat dalam bekerja, jangan remehkan pekerjaan kita, terus tekun dan terus berdoa meminta penyertaan Tuhan. Karena penyertaan Tuhan itulah yang membuat pekerjaan kita berhasil dan berdampak bagi banyak orang. Amin