Kisah Yusuf Bagian 4

Kita terlebih dahulu membacara Firman Tuhan di Kej 39:7-10 demikian, “Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: “Marilah tidur dengan aku.” 9:8  Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, 39:9  bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” 39:10  Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia. 

Di sini kita bisa melihat bahwa ada jeda waktu antara ayat 6 dan 7 yang tidak diketahui berapa lama waktunya. Bisa dalam hitungan beberapa bulan hingga hitungan tahun. Namun yang jelas adalah ada jeda waktu yang cukup di mana istri Potifar memperhatikan setiap gerak gerik Yusuf hingga akhirnya membuat istri Potifar ini tertarik dengan Yusuf yang berusia sekitar 17 tahun pada saat itu. Jadi Yusuf dapat dikatakan masih remaja atau beranjak ke pemuda.

Sekalipun tidak diceritakan mengenai fisik atau paras istri Potifar ini, namun bila kita membayangkan bahwa perempuan ini adalah seorang istri dari pejabat di istana Firaun yang mana ketika itu Mesir adalah pusat kebudayaan dunia, maka pembaca masa kini bisa membayangkan bahwa karena Potifar bukanlah orang sembarangan, maka istrinya juga bukanlah seorang yang biasa saja. Pastilah Potifar akan memilih istri yang secara fisik cantik dan memiliki tubuh yang ideal.

Menariknya adalah mengapa istri Potifar ini bisa tertarik kepada seorang “Remaja / Pemuda” yang juga seorang budak? Apakah serendah itu moral dan harga diri dari istri pejabat di Istana Firaun ini?

Kalau kita membayangkan bahwa Potifar ini salah satu petinggi di istana Firaun, maka pastilah Potifar memiliki banyak kesibukan yang merupakan tuntutan dan tanggung jawabnya sebagai salah satu petinggi di istana. Maka tentu saja waktu yang ia miliki tidaklah banyak dihabiskan dengan istrinya. Di sini terlihat bahwa ada rasa kesepian bagi istri Potifar yang cukup banyak waktu berada di rumah, sementara Potifar banyak menghabiskan waktu di istana Firaun.

Kalau saya boleh membayangkan, bahwa istri Potifar yang memiliki kekayaan dan juga akses yang luas di kalangan petinggi dan pembesar di istana Mesir, maka pastilah istri Potifar dapat melakukan banyak hal termasuk melakukan hal asusila dengan para pria lain untuk mengusir rasa kesepian yang dihadapinya. Kalau pemikiran saya mengenai hal ini benar, maka usahanya untuk mendekati Yusuf bukanlah hal yang pertama kalinya ia lakukan, melainkan ia telah lakukan kepada banyak pria karena memang kehidupan di masa itu, perzinahan merupakan hal yang cukup umum terjadi. Kita ingat kisah Sodom dan Gomora yang dibinasakan Tuhan karena salah satunya tindakan mereka adalah perzinahan yang diluar nalar manusia (Yudas 1:7). Jadi karena Mesir juga bukanlah bangsa yang beradab seperti kaum Israel, maka tindakan asusila adalah hal yang wajar bagi mereka di masa itu.

Maka di sini kita bisa melihat bahwa istri Potifar yang telah memiliki pengalaman yang banyak dalam hal asusila, tidaklah mengherankan kalau ia juga tertarik dengan seorang remaja berusia sekitar 17 tahun, baginya mungkin ini sebuah hal baru dan tantangan yang harus ditaklukkan.

Sampai di sini kita bisa belajar beberapa point yang ada antara istri Potifar dan Yusuf;

1.     Istri Potifar memiliki kehidupan yang begitu hitam pekat karena hal asusila, dan baginya adalah hal yang wajar dan biasa. Ia tidak mengenal Allah yang hidup, sehingga ia tidak memiliki rasa takut apapun terhadap dosa dan semua hal asusila pastilah ia sudah pernah ia lakukan.

2.     Yusuf adalah seorang remaja yang dididik untuk takut akan Allah Yahweh, sehingga sekalipun ia adalah seorang budak di rumah Potifar, ia tetap mempercayai bahwa Allah Yahweh yang dipercayai oleh ayahnya Yakub, kakeknya Ishak dan kakek buyutnya Abraham, bahwa Allah tetap menyertainya ke manapun ia pergi.

3.     Istri Potifar merasakan kesendirian karena sering ditinggal oleh suaminya Potifar untuk bekerja di istana Firaun. Di sini kita melihat bahwa sekalipun istri Potifar adalah seorang kaya dan punya kedudukan, ternyata tidak menjamin kehidupan yang dimiliki adalah kehidupan yang baik dan bahagia.

4.     Sekalipun Yusuf sendirian sebagai budak di rumah Potifar, sekalipun ia tidak lagi bersama ayahnya Yakub, namun Yusuf tidak merasakan kesepian di hati dan hidupnya, terbukti ia menolak ajakan istri Potifar karena ia takut akan Allah.

Kalau seandainya saja Yusuf mengiyakan ajakan istri Potifar, maka sebenarnya ia bisa mendapatkan alasan pembenaran bahwa ia seorang yang ditolak oleh keluarganya, ia tidak lagi memiliki harapan dan masa depan. Jadi hal yang masuk akal kalau misalnya ia menjadi “simpanan” dari istri Potifar, karena pastilah semua kebutuhannya akan terpenuhi bahkan juga mungkin ia bisa lepas dari budak dan menjadi “seseorang yang berhasil” di Mesir berkat kekuasaan dan pengaruh dari istri Potifar.

Namun menariknya Yusuf yang merupakan seorang remaja ini masih mempertahankan kehidupannya sekalipun ia seorang diri dan seorang budak di rumah Potifar.

Secara fisik Yusuf memang benar-benar sendirian, karena ia tidak bersama dengan keluarganya sama sekali. Namun secara rohani, ia tidak merasakan kesendirian, karena ada Allah Yahweh yang senantiasa bersamanya.

Maka di sinilah kita melihat perbedaan yang sangat signifikan antara Yusuf dan istri Potifar. Jadi di sini kita bisa belajar suatu pelajaran yang sangat berharga bahwa kita perlu menjadikan Allah sebagai pribadi yang hidup sehingga anak-anak Tuhan tidak pernah merasakan kesepian atau loneliness. Rasa kesepian itu dapat membunuh pikiran dan logika seseorang sehingga seseorang dapat melakukan berbagai macam kejahatan karena logikanya sudah tidak lagi bekerja dengan baik karena ia merasakan kesepian yang amat sangat.

Rasa kesepian itu tidak sama dengan seseorang yang berada di tempat yang sepi atau ditinggalkan sendirian, ataupun berada pada kondisi seperti Yusuf yang dijual oleh saudaranya sendiri sebagai budak. Rasa kesepian adalah kondisi ketika seseorang tidak memiliki Allah di dalam hatinya, karena hanya Allah saja yang bisa mengisi kekosongan hati seseorang. Rasa kesepian ini bisa dialami oleh siapapun juga yang belum mengenal Allah dengan benar.

Sekalipun ia adalah seorang yang sibuk dengan pekerjaan, memiliki kekayaan yang sangat besar, ataupun seorang yang memiliki kemiskinan dan penderitaan, semuanya dapat merasakan kesepian atau loneliness bila tidak memiliki pengenalan akan Allah yang hidup.

Rasa kesepian tanpa Allah inilah yang membuat seseorang dapat melakukan tindakan-tindakan di luar nalar manusia seperti orang-orang Sodom dan Gomora yang tidak mengenal Allah yang benar sehingga mereka tidak memiliki rasa takut sama sekali kepada siapapun juga, bahkan mereka juga bertindak dengan kejam kepada sesama manusia.

Maka di sini kita harus belajar bersama-sama bahwa anak-anak Tuhan haruslah memiliki pengertian dan pengenalan akan Tuhan serta takut akan Tuhan seperti Yusuf. Di Kej 39:9 Yusuf mengatakan, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”  hal inilah yang membuat Yusuf tidak berani melakukan sesuatu yang melanggar ketentuan dan norma-norma yang dianutnya, karena ia takut akan Allah yang hidup.

Ada hal yang luar biasa ketika Yusuf menghadapi cobaan selama beberapa waktu lamanya, yaitu saat istri Potifar secara konstan terus membujuk Yusuf namun Yusuf juga secara konstan menolak ajakan istri Potifar untuk tidur dengannya. Kej 39:10  Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.  Tentu saja dalam hal ini istri Potifar berusaha melakukan pendekatan dengan berbagai macam cara, apalagi ia sangat mungkin juga telah melakukan hal ini dengan banyak laki-laki lainnya. Namun walaupun usaha dari hari ke hari dengan bujukan rayuan yang luar biasa dari istri Potifar, ternyata tidak menggoyahkan sama sekali hati Yusuf.

Yusuf memang seorang remaja / pemuda yang luar biasa. Tidak banyak seorang remaja / pemuda yang dapat menghadapi cobaan dan godaan seperti Yusuf. Yusuf ketika itu tidak pernah berpikir untuk dapat keluar dari statusnya sebagai budak, karena sekali ia menjadi budak maka selamanya ia akan menjadi budak. Bila keadaannya sebagai budak, dalam kesendirian dan memiliki pengalaman pahit dan menyakitkan dari saudara-saudaranya sendiri, lalu apa lagi yang perlu dipertahankan oleh Yusuf? Bukankah ia bisa saja putus asa dan menyalahkan saudara-saudaranya? Bahkan ia juga bisa menyalahkan Allah yang tidak melindunginya dari kejahatan saudara-saudaranya.

Bukanlah kesalahan Yusuf kalau ia mendapatkan mimpi, karena bukan Yusuf yang membuat mimpi tersebut, melainkan ia diberi mimpi dan kemudian diceritakan kepada saudara-saudaranya. Lalu mengapa ia harus mengalami kejadian buruk padahal bukan kesalahannya sama sekali?

 

Sampai di sini Yusuf tahu bahwa hidupnya seakan sudah selesai, hidupnya seakan telah habis dan tanpa harapan. Namun sekalipun demikian, Yusuf tidak pernah mengabaikan Allah yang menyertainya sekalipun ia tidak melihat Allah secara fisik ataupun mendapatkan mimpi dari Allah bahwa Allah hadir menyertainya. Yusuf sama sekali tidak menyadari ada Allah yang senantiasa menyertainya.

Ps Jimmy Lizardo