Kisah Yusuf Bagian 5

Pada bagian lalu, saya sudah menjelaskan bagaimana Yusuf yang masih remaja mampu menolak ajakan untuk tidur bersama istri Potifar. Saya ingatkan kembali bahwa bagi seorang budak, ia tidak pernah memiliki konsep bahwa budak akan menjadi orang bebas atau merdeka, sekali budak akan menjadi budak untuk selamanya.

            Bagi Yusuf, ketika ia menjadi budak tentu harapan dan masa depannya lenyap secara tiba-tiba di depan matanya. Luar biasanya ketika istri Potifar ini mencoba membujuk Yusuf berulang kali dengan berbagai macam cara, namun Yusuf tetap bergeming.

Seandainya ini terjadi bukan pada diri Yusuf, saya rasa budak manapun akan langsung menerima kesempatan yang langka dan luar biasa ini karena seorang budak akan langsung naik derajatnya menjadi laki-laki simpanan dari istri pejabat. Segala kebutuhannya akan dipenuhi, ia juga akan menjadi orang yang penting di rumah itu dan sangat mungkin ia akan menjadi orang bebas dan merdeka karena istri Potifar mungkin saja akan memindahkannya ke rumah yang lain agar perselingkuhannya tidak terendus oleh suaminya.

Namun kita melihat sebuah contoh yang langka di sepanjang zaman ini, bahwa seorang muda yang berada dalam kondisi tanpa harapan ternyata tetap memiliki iman di dalam Allahnya. Mari kita perhatikan ayat Firman Tuhan berikut ini Kej 39:9  bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?

Hal terpenting yang bisa kita pelajari dalam situasi yang berat dan seolah tanpa harapan ini adalah; teruslah memiliki rasa takut dan hormat kepada Allah sekalipun kita sedang ada di dalam lembah kekelaman.

Namun ironisnya dalam kisah Yusuf ini, ternyata sikapnya yang takut dan hormat akan Allah ini tidak membawa kebaikan apapun bagi Yusuf pada saat itu. Bukankah kita juga sering mengalami hal ini? Bahwa rasa hormat dan takut akan Allah yang kita jalani seringkali tidak membawa kebaikan apapun di dalam hidup ini bahkan justru membuat kita semakin terpuruk.

Yusuf ketika ia takut dan hormat akan Allah justru membuat istri Potifar marah dan merasa direndahkan. Lalu istri Potifar membuat skenario untuk menjatuhkan Yusuf yang notabene seorang budak yang tidak dapat membela diri karena seorang budak tidak memiliki hak untuk bersuara dan membela diri.

Firman Tuhan berkata demikian;

Gen 39:13  Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar, 

Gen 39:14  dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: “Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras. 

Gen 39:15  Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.” 

Gen 39:16  Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang. 

Gen 39:17  Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: “Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku. 

Gen 39:18  Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.” 

Gen 39:19  Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya. 

Gen 39:20  Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. 

 

            Sampai di sini kita melihat bahwa tindakan Yusuf yang menjaga integritasnya dengan luar biasa ternyata tidak membawa kebaikan apapun bagi dirinya pada saat itu. Kita perlu mengingat bahwa Yusuf sendiri ketika menjalani perjalanan kehidupannya ini, sama sekali tidak tahu akhir dari cerita hidupnya. Kita yang membaca kisah ini mungkin tidak mengalami pergumulan batin yang berat seperti yang Yusuf alami. Namun Yusuf tentu mengalami pergumulan yang sangat berat mengingat ia tidak tahu akhir cerita hidupnya pada saat itu.

            Di satu sisi Yusuf telah menjaga kehormatan dirinya, padahal seorang budak tidak memiliki kehormatan sama sekali. Di sini kita melihat bahwa kehormatan yang sedang dipegangnya adalah kehormatan “Takut akan Allah”. Bisa dibayangkan ketika Yusuf menjaga kehormatan ini ternyata justru membawanya dalam situasi lembah kekelaman yang semakin dalam.

            Skenario yang disampaikan oleh istri Potifar sama sekali tidak dapat dibantah oleh Yusuf yang notabene seorang budak, dan kemarahan Potifar ini membuat Yusuf dimasukkan ke penjara tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Jelas Potifar sangat marah sekali karena ia merasa dikhianati oleh Yusuf yang telah diberinya kepercayaan yang besar di rumahnya, namun dibalas dengan narasi hendak memperkosa istrinya.

            Kemarahan yang besar pada diri Potifar membuatnya tidak dapat melihat kebaikan yang telah Yusuf kerjakan dan membutakan mata rohaninya yang pernah melihat ada Allahnya Yusuf yang menyertai kehidupan Potifar. Di sini kita belajar bahwa kemarahan yang tidak dikendalikan membuat logika kita tidak dapat berjalan dengan baik. Semua logika akan tertutup ketika emosi seseorang menguasainya. Ia bahkan dapat melakukan berbagai tindakan berbahaya bagi dirinya maupun orang lain.

Karena itulah kita sebagai anak-anak Tuhan tidak boleh kehilangan kendali atas emosi kita. Kita tentu saja boleh marah namun tetap kita kendalikan. Marah tanpa kendali itu seperti kita sedang menyiramkan bensin ke api yang sedang kita pegang, entah kita yang terbakar atau orang lain yang terbakar atau juga keduanya yang terbakar.

            Firman Tuhan yang tadi kita baca mengatakan bahwa Yusuf di kurung di “tempat tahanan-tahanan raja di kurung”. Arti dari “tempat tahanan-tahanan raja di kurung” adalah tempat kurungan yang khusus karena penjara ini dibuat khusus bagi mereka yang melakukan pemberontakan kepada raja atau melakukan kesalahan yang sangat serius kepada raja. Sehingga hukuman ini akan sangat berat dijalani oleh siapapun yang menjadi tahanan di sini.

            Kitab Mazmur menceritakan betapa beratnya hukuman yang harus dijalani oleh Yusuf, dikatakan demikian di Maz 105:17  diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Maz 105:18 Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi.

            Bila kita melihat dari kitab Mazmur ini, betapa menyakitkan hidup yang dialami oleh seorang yang bernama Yusuf yang tidak melakukan sebuah kesalahan, ia menjaga integritasnya di hadapan Allah namun justru membuatnya masuk ke dalam penjara dan mendapat siksaan secara fisik dan psikis. Kedua kakinya dibelenggu dengan ketat dan lehernya juga diikat dengan besi. Hal ini tentu membuat Yusuf sulit untuk bergerak dan sangat menderita dengan besi yang berat di tubuhnya.

            Hidup yang dialami oleh Yusuf sangatlah berat, tidak mudah menjadi seorang seperti Yusuf. Ada banyak orang Kristen yang bukan saja marah kepada orang-orang yang menyakitinya, namun juga marah kepada Tuhan karena mengalami kejadian-kejadian yang buruk dalam kehidupannya. Mengapa banyak orang Kristen yang marah kepada Tuhan? Karena mereka berpikir bahwa seharusnya Tuhan menghindarkan mereka dari masalah atau penderitaan yang bukan karena kesalahannya. Bila Tuhan tidak menghindarkan seseorang dari penderitaan yang bukan disebabkan karena kesalahannya, maka orang itu akan marah kepada Tuhan dan menyalahkan Tuhan yang seharusnya bisa menghindarkannya dari penderitaan tersebut.

            Maka melalui khotbah ini saya ingin sampaikan dua pelajaran yang bisa kita dapatkan apabila terjadi penderitaan yang kita alami namun bukan disebabkan oleh kesalahan kita:

1.     Untuk External: Kita bisa yakini bahwa ketika Tuhan “sengaja” atau Tuhan “ijinkan” hal berat yang harus kita jalani dan hal ini terjadi bukan karena dosa atau kesalahan kita, maka percayalah bahwa penderitaan yang kita alami akan memberikan dampak yang besar yang akan dinikmati oleh banyak orang di kemudian hari. Yusuf ini sendiri adalah contohnya. Perhatikan di Maz 105:16  Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, 105:17  diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. 

Dalam cara pandang Tuhan, ternyata Yusuf ini merupakan seorang yang “diutus” oleh Tuhan untuk menyelamatkan Yakub dan keluarganya dari kelaparan yang dapat membahayakan kelangsungan perjanjian Allah kepada Abraham dan keturunannya.

Namun dalam menjalani kehidupannya, Yusuf tidak mengerti dan tidak tahu bahwa ia adalah utusan Allah untuk menolong keluarganya. Ia menjalani kehidupan sama seperti manusia lainnya, namun responnya Yusuf terhadap segala masalah dan persoalan yang dialaminya begitu luar biasa sehingga kisahnya dicatat di Alkitab yang mencapai 14 pasal, lebih banyak dari kisah Abraham ataupun Yakub ayahnya.

Bahkan karena sikap dan respon Yusuf inilah ia mendapatkan hak kesulungan seperti dikatakan di 1Tawarikh 5:1  Anak-anak Ruben, anak sulung Israel. Dialah anak sulung, tetapi karena ia telah melanggar kesucian petiduran ayahnya, maka hak kesulungannya diberikan kepada keturunan dari Yusuf, anak Israel juga, sekalipun tidak tercatat dalam silsilah sebagai anak sulung. 

Di sini kita belajar bahwa penderitaan yang tidak harus kita tanggung justru akan membuat diri kita menjadi berkat bagi banyak orang suatu hari kelak.

2.     Untuk Internal: Melalui penderitaan yang bukan karena kesalahan kita ini, berarti Tuhan ingin memurnikan hidup kita. Kitab Amsal 17:3 mengatakan demikian, “Kui adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”

Dikatakan bahwa Tuhanlah yang menguji hati dan ujian ini harus dilakukan dengan sebuah proses seperti proses seorang yang melebur perak. Orang memproses perak atau melebur emas dengan api di sebuah wadah yang disebut Kui. Perak dan emas murni didapatkan dengan proses perapian yang sangat panas untuk membuang kotoran yang ada. Demikian juga hidup kita diuji dan diproses Tuhan agar kita semakin murni dan berkenan di hadapan Tuhan.

            Di akhir khotbah ini, saya ingin menegaskan bahwa jangan sampai kita marah dan meninggalkan Tuhan apabila kita sedang mengalami persoalan dan penderitaan berat yang bukan disebabkan oleh kesalahan kita, percayalah bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting dan luar biasa melalui hidup kita. Teruslah setia dan percaya kepada Tuhan, Tuhan Yesus memberkati

 

By: Pdt. Jimmy Lizardo