Kisah Yusuf Bagian 7

Sebelumnya saya telah menceritakan kisah perjalanan hidup Yusuf mulai dari Yusuf yang dibully oleh saudara-saudaranya lalu dijual dan sampai di rumah Potifar, hingga Yusuf masuk ke dalam penjara dan dalam semuanya itu, Allah tetap menyertai Yusuf, bahkan di kitab Maz 105:16-17 disampaikan bahwa Yusuf menjalani semuanya ini karena ia adalah utusan Allah. Namun uniknya Yusuf yang merupakan utusan Allah tidak mengetahui rencana dan rancangan Allah bila Yusuf dipakai Allah sebagai utusan-Nya. Demikian juga dengan kita anak-anak Tuhan, entah kita sadari atau tidak, sebenarnya kita adalah utusan-utusan Allah di dunia ini. 

 

 Pada saat ini kita akan belajar bersama-sama bagaimana sikap Yusuf di dalam penjara. Beberapa waktu yang lalu telah saya sampaikan bahwa ketika Yusuf difitnah, sebagai budak ia tidak memiliki hak apapun untuk membela sehingga dengan sangat mudah Potifar memasukkannya ke dalam penjara. Dan penjara yang dimaksudkan di sini bukanlah penjara biasa namun penjara tempat tahanan-tahanan raja dikurung, dan ini merupakan penjara khusus yang diperuntukkan kepada para narapidana yang dijatuhi hukuman karena pemberontakannya kepada raja dan membahayakan kerajaan Mesir.

            Menariknya, sekalipun Yusuf di dalam penjara dan dibelenggu kaki dan lehernya dengan besi yang berat dan mungkin sudah berkarat, Yusuf sama sekali tidak menyesali peristiwa itu, ia tidak kepahitan dan tidak menyimpan kemarahan dan dendam sama sekali. Apa buktinya bahwa Yusuf tidak kepahitan dengan Potifar dan tidak mengasihani diri sendiri?

Saudara, perlu kita ketahui bahwa peristiwa berat yang kita alami biasanya akan mempengaruhi kejiwaan kita sebagai manusia, dan tidak sedikit yang kemudian mengalami depresi dan trauma yang sangat mendalam. Sampai di sini, maka akan muncul kepahitan yang sangat mendalam dan membuat orang tersebut tidak bisa bekerja dengan baik. Orang seperti ini akan mudah marah dengan kondisi dan keadaan, mengasihani diri sendiri, menyalahkan orang lain bahkan juga menyalahkan Tuhan.

            Namun bila kita melihat Yusuf, ternyata Yusuf bisa menjadi kesayangan bagi kepala penjara di situ. Ini membuktikan bahwa Yusuf bisa berkomunikasi sangat baik dengan kepala penjara, tidak menjelek-jelekkan Potifar dan istrinya yang telah memfitnahnya hingga membuatnya sangat menderita.

            Bisa dibayangkan betapa sulitnya kondisi Yusuf sebagai seorang yang dibelenggu dengan rantai di kaki, tangan dan lehernya, namun kemudian bisa dilepaskan oleh kepala penjara di sana. Ini artinya bahwa Yusuf benar-benar menjadi orang yang sangat baik dan bisa dipercaya. Seandainya Yusuf seorang yang kepahitan dan menyimpan dendam, maka sudah pasti Yusuf tidak memiliki attitude dan karakter yang baik kepada kepala penjara dan juga para tahanan yang lainnya.

            Jadi di sini saya menyimpulkan bahwa Yusuf sama sekali tidak menyimpan dendam dan kepahitan kepada mereka yang telah sengaja berbuat jahat kepadanya. Maka dari itu, kita perlu belajar dari Yusuf bahwa sekalipun mungkin hidup kita penuh dengan penderitaan yang disebabkan oleh orang lain, kita tidak boleh menyimpan kepahitan dan kemarahan serta dendam. Semua kepahitan, kemarahan dan dendam ini hanya akan membuat hidup kita malah semakin hancur, mengapa? Karena kita tidak dapat bekerja dengan baik, kita akan senantiasa menyebarkan kepahitan dan perkataan negatif kepada orang-orang di sekitar kita. Sehingga hal ini justru menghancurkan diri kita sendiri pada akhirnya.

            Bila kita melihat di Kejadian 39:21-22 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Hal ini menandakan bahwa Tuhan bekerja di dalam kehidupan Yusuf dan memberikan kasih setia-Nya. Di dalam bahasa Ibrani kasih setia yang dimaksudkan adalah chêsêd yang berarti belas kasihan dari Allah kepada Yusuf.

            Di sini kita bisa melihat bahwa ketika Allah mengutus Yusuf, Yusuf disertai oleh Allah sekalipun berada di dalam penjara tempat tahanan raja-raja di kurung. Bahkan Yusuf juga mendapatkan kasih sayang, belas kasihan dan kasih karunia dari Allah.

            Perlu kita ingat bahwa kasih sayang Allah ketika ada dalam kehidupan seseorang membuat orang tersebut bisa bersyukur bahkan di tengah penderitaan ataupun kesengsaraan. Sebaliknya bila Allah telah memberikan kasih sayang-Nya atau chêsêd -Nya kepada seseorang namun orang tersebut kemudian menjalani hidup dengan kepahitan, iri, dendam dan kemarahan maka chêsêd-Nya akan pergi dari hidup orang tersebut.

            Ingat kisah Saul pada saat ia belum menjadi raja, Saul adalah seorang yang baik, rendah hati, terbukti ketika orang-orang merendahkan Saul di hadapan Samuel dan banyak orang, Saul tetap diam dan tidak marah, hal ini bisa dilihat di 1 Sam 10:27. Namun ketika Saul mulai iri dan benci kepada Daud, takut merasa tersaingi oleh menantunya sendiri, maka kebencian dan ketakutan di dalam dirinya membuat semua chêsêd dari Allah akhirnya hilang dan pergi dari hidupnya.

            Jadi dari bukti-bukti yang telah saya berikan di atas, membuktikan bahwa Yusuf yang telah mendapatkan chêsêd dari Allah, merespon dengan benar semua peristiwa pahit dalam hidupnya sehingga chêsêd Allah itu pada akhirnya menolong dirinya untuk bisa menjadi kesayangan bagi kepala penjara di tempat Yusuf ditahan.

            Tentu tidak mudah bagi kepala penjara untuk mempercayakan semua tahanan kepada Yusuf yang masih muda itu. Kita bisa melihat bahwa Yusuf merupakan seorang yang bisa dipercaya, orang yang memiliki karakter yang baik. Tentu saja kepala penjara harus lebih dahulu menilai karakter Yusuf sebelum benar-benar memberikan kepercayaan kepada Yusuf. Ada semacam “fit and proper” tes yang dilakukan kepada Yusuf. Pastilah kepala penjara menanyakan apa sebabnya Yusuf masuk ke dalam penjara dan di sini kepala penjara bisa menilai apakah Yusuf seorang yang jujur, seorang yang memiliki dendam dan sakit hati kepada Potifar dan istrinya ataukah Yusuf mengampuni mereka.

            Kepala penjara jelas melihat bahwa Yusuf tidak marah dan sakit hati kepada Potifar dan istrinya, karena bila kepala penjara melihat bahwa Yusuf adalah seorang yang sakit hati dan dendam kepada Potifar dan istrinya, maka akan sangat berbahaya memberikan kepercayaan kepada Yusuf, karena sudah pasti Yusuf akan berusaha keluar dari penjara dan membunuh Potifar dan istrinya. Karena itulah kepala penjara sangat berhati-hati dalam menggali isi hati Yusuf.

Dan luar biasanya memang Yusuf sama sekali tidak kepahitan dan dendam dengan Potifar dan istrinya, terbukti ketika Yusuf telah menjadi mangkubumi di Mesir atau orang nomor 2 di Mesir, maka secara otomatis membuat Potifar menjadi bawahan Yusuf dan tidak ada sebuah catatan di Firman Tuhan yang menunjukkan bahwa Yusuf kemudian menjebloskan Potifar dan istrinya ke dalam penjara atau membunuh mereka. Bahkan Yusuf juga mengampuni saudara-saudaranya dan berkata di Kej 50:19-20 demikian, “Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

            Ketika kita melihat kehidupan Yusuf yang begitu luar biasa ini, dan Alkitab mencatatnya, bahkan ketika saudara saat ini juga mendengar apa yang saya sampaikan, maka pada saat ini saya ingin mengatakan kepada saudara agar menyikapi segala hal yang buruk dengan cara pandang yang benar sesuai dengan Firman Tuhan dan mencontoh Yusuf yang merespon kehidupannya yang sangat buruk ini dengan baik dan benar.

Kej 39:22 mengatakan,“Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.” Di sini kita melihat bahwa Yusuf dipercayakan dua hal; pertama yaitu semua tahanan dalam penjara dan kedua adalah segala pekerjaan yang harus dilakukan di dalam penjara itu.

Menariknya, para tahanan di situ adalah para tahanan yang didakwa melakukan pemberontakan kepada raja atau membahayakan nyawa raja ataupun membahayakan keberlangsungan kerajaan Mesir. Bila kita membayangkan di zaman sekarang, maka artinya para tahanan ini adalah para teroris yang sangat berbahaya. Bila Yusuf adalah orang yang kepahitan dan dendam dengan Potifar, maka tentu saja Yusuf yang memiliki akses kepada banyak tahanan akan menggunakannya untuk menyatukan para tahanan dan melakukan pemberontakan. Di sini Yusuf bahkan tidak melakukan itu sama sekali, melainkan memberikan suasana yang baik di dalam tahanan, memberikan atmosphere yang kondusif sekalipun Yusuf adalah seorang yang masih sangat muda, di bawah 30 tahun pada saat itu.

Bahkan luar biasanya lagi adalah di ayat ke 23, dikatakan bahwa “Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.”

Lihat bahwa kepala penjara tidak mencampuri semua tindakan Yusuf sama sekali. Ini menandakan bahwa kepala penjara memberikan kepercayaan penuh, bulat dan tanpa ragu sedikitpun kepada Yusuf, sementara tahanan lain tetap berada di dalam penjara dan hanya Yusuf yang kemudian dilepas belenggu di kaki, tangan dan lehernya. Untuk bisa mencapai titik ini, semata-mata karena chêsêd dari Allah direspon dengan benar oleh Yusuf.

Di ayat terakhir dari pasal 39 ini ditutup dengan sebuah kalimat “Karena Tuhan menyertai Yusuf. Di sini terlihat bahwa ketika Yusuf masuk di dalam penjara, Alkitab memberikan keterangan bahwa Tuhan menyertai Yusuf dan ketika Yusuf mendapatkan kepercayaan dari kepala penjara, Alkitab juga memberikan keterangan bahwa Tuhan menyertai Yusuf sehingga apa yang dikerjakan di dalam penjara dibuat Tuhan berhasil.

Maka sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa semua orang pasti memiliki peristiwa yang membuat kita mungkin trauma atau marah atau menderita, namun respon yang benar merupakan bagian kita agar chêsêd dari Allah efektif dan tidak sia-sia dalam hidup kita. Sehingga kita bisa terus maju dan tidak terpenjara dengan masa lalu kita.

Kita bisa melihat bahwa sekalipun fisik Yusuf di penjara, namun hati dan pikirannya sama sekali tidak terpenjara karena hati dan pikirannya senantiasa bersama dengan Allah yang tak terbatas untuk memberkati anak-anak-Nya sekalipun berada di dalam penjara. Amin