Kisah Yusuf Bagian 8

Saat ini saya melanjutkan khotbah saya mengenai kisah Yusuf dan saat ini kita masuk ke dalam kisah Yusuf bagian kedelapan.

 

Sementara Yusuf tetap berada di dalam penjara bertahun-tahun lamanya, maka di kehidupan lainnya, yaitu di dalam istana raja terjadi suatu peristiwa bahwa juru minuman dan juru roti Raja membuat kesalahan yang sangat fatal dan menurut targum Yonatan yang dikutip oleh John Gill’s Exposition of the Bible mengatakan bahwa didapati ada racun di dalam makanan Raja, sehingga karena hal ini sangat membahayan keberlangsungan hidup Raja dan juga Istana Mesir, dan hal ini disetarakan dengan sebuah pemberontakan, maka juru roti dan juru minuman dimasukkan ke dalam penjara tempat tahanan-tahanan raja dikurung.

            Di sini kita bisa melihat dua buah sisi cerita yang terjadi pada saat itu dan seharusnya kita juga mempercayai bahwa pola peristiwa seperti ini juga terjadi di dalam kehidupan kita anak-anak Tuhan. ada cerita di luar sana yang sedang Allah kerjakan agar cerita di luar itu pada akhirnya akan menjadi cerita yang manis bagi kita anak-anak-Nya.

            Kita melihat bahwa sementara Yusuf di dalam penjara, Yusuf merespon dengan baik peristiwa pahit yang menghancurkan hidupnya. Dan ada sebuah cerita lain dalam waktu yang sama bahwa juru roti dan juru minuman dimasukkan ke dalam penjara. Ada sebuah pemberontakan secara sengaja yang dibuat oleh sekolompok orang untuk menjatuhkan Raja ketika itu yang menggunakan racun mematikan di dalam makanannya Raja. Kisah ditangkapnya juru roti dan juru minuman ini, tampak seperti peristiwa yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Yusuf, namun Allah telah merancang semua ini agar ada pertemuan cerita antara Yusuf dengan juru roti dan juru minuman raja.

            Sementara peristiwa hebohnya di dalam istana kini beralih ke dalam penjara tempat Yusuf berada karena di situlah mereka berada. Luar biasanya, Alkitab mengatakan di Kej 40:4 demikian, Dikatakan bahwa kepala pengawal raja menempatkan juru minuman dan juru roti ini di tempat Yusuf berada. Artinya ada sebuah kepercayaan besar dari kepala pengawal raja kepada Yusuf. Ini tentu tidak mudah didapatkan oleh Yusuf karena juru roti dan juru minuman baru saja masuk ke dalam penjara dan sedang dituduhkan sebuah tuduhan yang sangat serius yang di masa sekarang ini yang dapat disamakan dengan teroris yang hendak membunuh kepala negara.

            Yusuf diberi tugas oleh kepala pengawal raja untuk melayani juru minuman dan juru roti ini. Menariknya adalah bahwa kepala pengawal raja ini adalah Potifar itu sendiri yang sebelumnya telah menjebloskan Yusuf ke dalam penjara.

            Nama Potifar sebagai kepala pengawal raja muncul pertama kali di Kej 39:1 dan dikatakan dalam KJV bahwa Potifar adalah the captain of the guard. Seorang “Captain” atau “Kepala” tentu berjumlah 1 saja di dalam istana raja dan seorang “Captain” atau “Kepala” ini juga yang menempatkan juru minuman dan juru roti bersama-sama dengan Yusuf. Hal ini juga dikonfirmasi oleh John Gill’s Expotision of the Bible, bahwa “Captain” atau “Kepala” yang dimaksudkan adalah Potifar yang sama di Kej 39:1, tentu saja ini benar bila tidak ada pergantian ataupun kematian dari Potifar itu sendiri.

            Dengan menganggap bahwa ini adalah Potifar yang sama, maka di sini kita bisa melihat bahwa pertemuan dan perjumpaan antara Potifar dan Yusuf yang terjadi setelah sekian tahun lamanya, mengonfirmasi bahwa Yusuf tidak marah kepada Potifar terbukti tidak ada tindakan apapun yang buruk yang Yusuf lakukan. Bahkan tugas dari Potifar sebagai “Captain” atau “Kepala” pengawal raja kepada Yusuf untuk melayani juru minuman dan juru roti dilakukan dengan baik dan benar oleh Yusuf.

            Sampai di sini tentu kita bisa melihat bahwa bila Yusuf dipercayakan tahanan juru minuman dan juru roti yang baru saja mendapatkan dakwaan sangat berat yaitu percobaan pembunuhan terhadap Firaun, maka pastilah Potifar benar-benar mempercayai Yusuf. Bila Potifar sebagai “Captain” atau “Kepala” pengawal raja mempercayai Yusuf yang pernah ia jebloskan ke dalam penjara bertahun-tahun yang lalu, maka hal ini berarti bahwa Potifar telah tahu bahwa Yusuf ini ternyata difitnah oleh istrinya sendiri.

Namun mengapa Potifar tidak mengeluarkan Yusuf? Ada beberapa alasan yang membuat Potifar tidak mengeluarkan Yusuf; di antaranya adalah berhubungan dengan kredibilitas dan nama baik Potifar di istana yang harus ia jaga. Bila orang istana mengetahui bahwa Potifar telah salah memasukkan orang ke dalam penjara dan karena sebuah fitnah dari istrinya, maka sangat mungkin bahwa hal ini akan merusak karier dari Potifar itu sendiri. Atau juga Potifar tidak memiliki kuasa untuk mengeluarkan tahanan yang berada di tempat tahanan-tahanan raja dikurung, karena hanya raja saja yang berhak untuk mengeluarkannya. Hal ini sama seperti juru minuman dan juru roti yang dipanggil kembali sendiri oleh raja Firaun ke istana. Bahkan Yusuf juga menitipkan pesan kepada juru minuman agar mengingatnya dan memberitahukan kepada raja agar dapat mengeluarkannya dari penjara.

Di sini kita melihat bahwa pengampunan yang Yusuf berikan kepada Potifar benar-benar tulus terbukti. Ketika Yusuf bertemu kembali dengan Potifar dan mendapatkan tugas untuk melayani tahanan yang sangat penting dan berbahaya bagi istana, Yusuf dapat mengerjakannya dengan sangat baik. Tidak ada balas dendam sama sekali dari Yusuf kepada Potifar ataupun menjelek-jelekkan nama Potifar kepada kepala tahanan dan juga juru minuman atau juru roti ataupun para tahanan yang lain.

Di sini kita bisa melihat bahwa kondisi berat dan penderitaan yang amat sangat dari Yusuf tidak membuatnya kepahitan dan dendam. Namun pertanyaannya adalah; apabila kita sendiri yang mengalami hal ini, seperti apakah respon kita? Bila kita mendapatkan kesusahan, penderitaan atau fitnah dari orang lain, pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah, “Apakah kita mengampuninya dan tidak mengungkit-ungkit kesalahannya ataukah kita akan terus kepahitan dan menceritakan kepada banyak orang akan kesalahan orang tersebut?

Ingat bahwa kisah Yusuf yang dicatat di Alkitab ini adalah sebuah kisah yang harus menjadi contoh bagi kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Saya ingin sampaikan kepada saudara semua pada saat ini bahwa di dalam kehidupan ini pastilah kita pernah mendapatkan gesekan bahkan benturan ataupun ada orang yang menenggelamkan hidup kita hingga kita merasakan kehidupan yang begitu berat padahal itu bukanlah kesalahan kita sama sekali.

Ingat saudara, bahwa kita tidak bisa mengendalikan peristiwa di luar diri kita, namun kita bisa mengendalikan respon hati dan pikiran kita sendiri. Apakah semua hal buruk, kepahitan dan trauma itu akan kita biarkan masuk ke dalam hati kita dan menghancurkan hidup kita sendiri, ataukah kita mengampuni kesalahan orang, mengampuni semua peristiwa pahit dan buruk yang terjadi di hidup kita sehingga kita bisa dengan sukacita menjalani hidup dan meraih masa depan bersama Tuhan.

Ingat bahwa kita tidak dapat mengendalikan perbuatan orang lain kepada diri kita, namun kita bisa mengedalikan diri kita terhadap perbuatan orang lain. Dan di sini kita belajar dari pribadi Yusuf yang bahkan setelah bertahun-tahun kemudian Yusuf bertemu dengan tuannya Potifar di dalam penjara dan mendapatkan tugas dari Potifar untuk melayani para tahanan penting ini, dan Yusuf dapat mengerjakan dengan sangat baik.

Seandainya Yusuf menyimpan kemarahan dan dendam walaupun hanya sedikit, pastilah Yusuf tidak akan mau mengerjakan dengan baik perintah Potifar kepada dirinya sebagai bentuk sebuah protes kepada Potifar. Atau Yusuf akan menceritakan kepada juru minuman dan juru roti bahwa dirinya mendapatkan fitnah dari istri Potifar sehingga dengan demikian Yusuf mendapatkan sekutu dari sesama tahanan yang menderita di penjara.

Namun kita melihat dalam peristiwa ini bahwa Yusuf sama sekali tidak menaruh dendam kepada Potifar, Yusuf tulus dan tetap melayani dan mengerjakan tugas yang diberikan Potifar kepada dirinya.

Karena itulah di hari minggu yang indah ini saya mengajak ibu bapak sekalian untuk mencontoh kehidupan Yusuf, ampunilah orang-orang yang menyakiti kita, ampunilah orang-orang yang mungkin memfitnah kita, ampunilah orang-orang yang mungkin bahkan membuat kita sengsara atau menghancurkan hidup kita. Jadilah seperti Yusuf yang tidak hancur ketika ia dihancurkan, tidak pahit ketika ia dipahitkan, tidak dendam ketika ia difitnah.

Firman Tuhan dalam 1Pet 2:21 dan 23 mengatakan demikian, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.”

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengiktui jejak-Nya Tuhan Yesus yaitu ketika Tuhan Yesus dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki, ketika Tuhan Yesus menderita, Ia tidak balas balik mengancam. Di sini kita melihat sebuah pengampunan yang Tuhan ajarkan kepada diri kita.

Bahkan Firman Tuhan di Mat 6:14-15 mengatakan, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Karena itu, ampunilah orang-orang yang bersalah kepada kita, ampunilah dan marilah kita melanjutkan “cerita Tuhan” bagi hidup kita, sekalipun kita mungkin seolah-olah masih berada dalam rumah Potifar karena kesalahan saudara-saudara kita ataupun kita seolah-olah berada di dalam penjara karena kesalahan Potifar.

 

Percayalah bahwa cerita Tuhan untuk kita belumlah selesai, karena Tuhan juga mengutus juru minuman dan juru roti dalam hidup kita yang pada akhirnya akan mengeluarkan kita dari penjara hidup kita hingga membawa kita ke puncak bersama dengan Tuhan. Amin

Ps Jimmy Lizardo