Kisah Yusuf Bagian 9

Saya telah menyampaikan bagaimana Yusuf menjadi orang yang mampu mengampuni Potifar yang menjebloskannya ke dalam penjara yang khusus yaitu tempat tahanan raja-raja dikurung. Di situ bahkan Yusuf harus dibelenggu tangan, kaki dan lehernya. Sekalipun seperti itu, Yusuf juga mampu mengampuni istri Potifar yang memfitnah dirinya. Hal ini terbukti dari kisah Yusuf yang sama sekali tidak pernah menyampaikan protes kepada Potifar, tidak juga mengadukan persoalannya kepada Potifar ketika Yusuf mendapatkan kepercayaan dari Potifar mengenai tahanan kepala juru minuman dan kepala juru roti kepadanya. Dan di minggu ini kita akan kembali belajar mengenai kisah Yusuf  dan bagaimana perjalanan kehidupannya di dalam penjara bersama kepala juru minuman dan kepala juru roti.

 

Sebelumnya mari kita membaca Firman Tuhan di Kej 40:3-7 demikian, “Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung. 40:4  Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka. Demikianlah mereka ditahan beberapa waktu lamanya. 40:5  Pada suatu kali bermimpilah mereka keduanya–baik juru minuman maupun juru roti raja Mesir, yang ditahan dalam penjara itu–masing-masing ada mimpinya, pada satu malam juga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri.  40:6  Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. 40:7  Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?”

            Saudara, perlu saya sampaikan kembali bahwa ketika kita melihat dan membaca kisah Yusuf ini maka kita tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan Yusuf ini telah direncanakan dan dirancang oleh Allah sendiri, sekalipun tentu saja Yusuf yang menjalaninya sama sekali tidak mengetahui sebelumnya perihal rencana dan rancangan Allah ini.

            Demikian pula ketika kepala juru minuman dan kepala juru roti harus masuk ke dalam penjara tempat tahanan tempat Yusuf berada, ini merupakan sebuah rencana Tuhan yang bersentuhan, atau bersinggungan atau ada simpul bersama antara peristiwa Yusuf dengan masuknya kepala juru minuman dan kepala juru roti ke dalam penjara. Bahkan bila ditarik mundur sedikit, maka bagaimana terjadinya konspirasi jahat yang dilakukan salah seorang dari mereka sehingga membahayakan nyawa Firaun, dan bagaimana investigasi yang dilakukan kemudian mengarah kepada kepala juru minuman dan kepala juru roti, merupakan rencana Allah juga.

            Kalau kita melihat dari ayat yang telah kita baca tadi, ternyata kepala juru minuman dan kepala juru roti berada di dalam tahanan dan Potifar telah mempercayakan pengawasan mereka kepada Yusuf. Dan pada suatu hari, kepala juru minuman dan kepala juru roti bermimpi. Uniknya, mereka bermimpi pada malam yang sama dan ternyata mimpi mereka ini membuat mereka merasa sangat bersusah hati. Karena hati mereka sangat susah dan sangat sedih inilah maka sehingga keesokan harinya ketika Yusuf datang kepada kepala juru minuman dan kepala juru roti, Yusuf menanyakan kepada mereka.

            Di sini kita bisa melihat bahwa Yusuf yang juga seorang tahanan ternyata memiliki sikap yang penuh empati kepada orang lain. Kepedihan hati kepala juru minuman dan kepala juru roti menjadi perhatian bagi Yusuf. Maka dari hal ini kita bisa belajar bahwa sekalipun Yusuf juga seorang tahanan, namun ia memiliki kepedulian kepada orang lain, ia tidak tenggelam di dalam kepedihan dan kesedihan dan mengasihani diri sendiri sekalipun ia menjadi seorang tahanan yang disebabkan oleh fitnah dari istri Potifar.

            Di sini terlihat betapa dewasa karakter dari Yusuf yang harus kita contoh. Ia tidak menyesali keadaan, ia tidak marah dan kepahitan kepada Potifar dan juga tetap memiliki iman kepada Allah Israel. Seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri, barulah ia dapat menjadi berkat bagi orang lain sekalipun dirinya adalah seorang tahanan yang difitnahkan segala yang jahat kepada dirinya. Tidak ada pembalasan dan tidak ada penyesalan.

Karena itulah saya mengajak ibu bapak semua untuk bisa mencontoh kehidupan Yusuf ini. Pasti di antara kita ada banyak penderitaan yang disebabkan oleh orang lain. Mungkin penderitaan itu sendiri telah kita lewati, namun penderitaan batin dan trauma itu tidak hilang di pikiran dan hati kita, ada rasa penyesalan yang begitu besar kepada peristiwa masa lalu dan juga pertanyaan yang besar kita tujukan kepada Allah, mengapa Ia membiarkan hal buruk terjadi dan menimpa diri kita padahal kita tidak melakukan kesalahan terhadap hal tersebut. Di sini kita belajar untuk mencontoh Yusuf yang mampu mengampuni Potifar dan istrinya yang memfitnah dirinya.

Setelah Yusuf “selesai dengan dirinya sendiri”, maka ia bisa menjadi orang kepercayaan dari kepala penjara, bahkan juga Potifar memberikan kepercayaan kepada Yusuf di dalam rumah tahanan tersebut. Bukan hanya itu, Yusuf juga memiliki empati dengan memperhatikan tahanan lain. Pertanyaan Yusuf kepada kepala juru minuman dan kepala juru roti membuat mereka bercerita kepada Yusuf yang notabene juga seorang tahanan bahkan seorang yang masih muda.

Kemudian kepala juru minuman dan kepala juru roti bercerita bahwa mereka bermimpi dan tidak ada orang yang dapat mengartikan mimpi mereka ini. Di sini kita bisa melihat bahwa mimpi yang dimimpikan oleh kepala juru minuman dan kepala juru roti bukanlah mimpi biasa, melainkan mimpi yang berasal dari Tuhan dan mimpi ini membuat hati mereka sangat gundah. Mimpi kepala juru minuman dan kepala juru roti ini memang unik karena mereka mimpi secara bersama-sama pada malam yang sama dan sama-sama tidak tahu arti mimpinya, sama-sama membuat hati mereka sangat gundah dan sedih.

Kemudian Firman Tuhan mengatakan di Kej 40:8  demikian, “Jawab mereka kepadanya: “Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya.” Lalu kata Yusuf kepada mereka: “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku.” 

Lihatlah betapa Yusuf tetap mengandalkan Allah sekalipun ia berada di tahanan dan dalam situasi yang tidak mudah dalam kehidupannya. Yusuf berkata, “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Di sini terlihat dengan jelas bahwa dalam benak Yusuf, hanya Allah yang bisa menerangkan mimpi karena mimpi yang sedang dimimpikan oleh kepala juru minuman dan kepala juru roti berasal dari Allah sendiri.

Menariknya, dalam hal mimpi kepala juru minuman dan kepala juru roti, Yusuf berharap dan berdoa kepada Allah untuk dapat menafsirkan mimpi mereka. Sementara itu, mimpi Yusuf sendiri ketika ia berusia 17 tahun dan gara-gara mimpi yang ia impikan dan kemudian ia ceritakan kepada saudara-saudaranya, akhirnya membuatnya dijual sebagai budak dan berakhir di penjara saat ini.

Apakah kini Yusuf yang seorang narapidana tiba-tiba tahu arti mimpi yang pernah ia impikan pada saat berusia 17 tahun lalu? Tentu saja jawabannya adalah Yusuf tidak tahu arti mimpinya tersebut. Mengapa Yusuf tidak tahu arti mimpinya sendiri?

Mari coba kita pikirkan saudara, seandainya Yusuf tahu arti mimpinya pada saat berusia 17 tahun tersebut, maka tentu saja Yusuf akan begitu mudah menjalani kehidupannya sebagai budak dan sebagai seorang narapidana di dalam tahanan. Ia tidak perlu bergumul dengan nasibnya kelak, ia hanya menunggu waktunya Tuhan saja. Namun semua ini tidak diketahui sama sekali oleh Yusuf. Karena itulah Yusuf dalam menjalani kehidupannya sebagai budak dan di dalam penjara ini harus terus beriman kepada Allah dan bukan kepada mimpi yang ia impikan.

Calvin menafsirkan ayat ke 8 ini sebagai berikut, “Akan tetapi, perlu diperhatikan, bahwa oleh ilham Roh Allah yang baru, karunia nubuat, yang belum pernah dimiliki oleh Yusuf sebelumnya, telah diberikan Allah kepadanya di dalam penjara.”

Hal ini seperti yang dialami oleh Ayub, bahwa ketika Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat karena kehilangan 10 anaknya secara serentak, kehilangan semua harta yang dimilikinya, Ayub sama sekali tidak mengetahui bahwa semua ini terjadi karena Allah sedang “mempromosikan” Ayub di depan iblis. Iblis kemudian meminta semua yang Ayub miliki dan mencobainya, apakah Ayub benar-benar mengasihi Allah karena apa yang telah ia miliki atau mengasihi Allah karena Pribadi Allah sendiri.

Di sini kita bisa melihat bahwa Ayub menjalani semuanya dengan tidak mengetahui apa yang terjadi di alam rohani antara Allah dengan iblis, namun Ayub menjalani semuanya itu dengan tetap takut akan Allah. Ayub tidak ragu sedikitpun kepada Allah, ia tetap mempercayai bahwa ketika Allah berkehendak, tidak ada sesuatu yang tidak jadi. Maka Ayub percaya bahwa apa yang terjadi pada dirinya tentu atas sepengetahuan dan atas kehendak Allah sendiri.

Seandainya saja Ayub tahu apa yang terjadi di alam rohani, yaitu percakapan antara Allah dengan iblis, maka Ayub akan mudah menjalani kehidupannya karena ia sedang ada di dalam sebuah ujian dan pembuktian. Namun justru karena Ayub tidak mengetahui apa yang terjadi di alam rohani inilah yang membuat imannya kepada Allah benar-benar patut kita acungi jempol.

Karena itulah kita benar-benar belajar dari kisah hidup Ayub dan Yusuf yang sama sekali tidak mengetahui masa depan, tidak mengetahui apa yang akan terjadi kelak, namun tetap mempercayai Allah dengan sepenuhnya, menaruh seluruh hidupnya tanpa keraguan kepada Allah.

Maka pada hari ini saya mengajak ibu bapak dan saudara yang mendengar kebenaran Firman pada saat ini boleh belajar dari kehidupan Yusuf. Ada beberapa hal pelajaran yang dapat kita ambil dari kisahnya Yusuf ini;

  1. Yusuf yang telah selesai dengan dirinya sendiri, ia tidak mengasihani dirinya sendiri, tidak ada kemarahan, tidak ada kepahitan, dendam atau penyesalan atas semua yang terjadi, maka kita juga harus memiliki sifat seperti ini. Selesaikan diri kita lebih dahulu dari kemarahan, kebencian, dendam, penyesalan dan sebagainya agar kita bisa berjalan maju dan tidak terikat pada kepahitan masa lalu.
  2. Yusuf telah selesai dengan dirinya sendiri, dan Yusuf dapat menjadi orang yang dipercaya oleh kepala penjara bahkan menjadi berkat bagi kepala juru minuman dan kepala juru roti. Bahkan Yusuf memiliki empati kepada mereka berdua.

Maka kita pun harus menjadi berkat di manapun kita berada sekalipun kita berada di dalam lingkungan yang sulit dan di dalam penderitaan sekalipun.

  1. Sekalipun Yusuf tidak dapat menafsirkan mimpinya sendiri, Yusuf malahan memohon kepada Allah bahwa Allah akan memberinya hikmat untuk menafsirkan mimpi kelapa juru minuman dan kepala juru roti. Di sini terlihat bahwa Yusuf tidak trauma dengan yang namanya “mimpi”. Karena mimpi yang ia impikan itulah yang membuat dirinya sampai menjadi budak dan narapidana. Di sini kita bisa belajar agar masa lalu yang buruk tidak membuat kita trauma, justru kepedihan dan penderitaan yang kita alami di masa lalu harus membuat kita kuat dan dapat memberkati orang lain.

Demikianlah 3 point pelajaran yang bisa kita dapatkan pada pelajaran ke 9 dari kisah Yusuf pada saat ini dan kita akan kembali di minggu depan masih dengan pelajaran mengenai ksiah Yusuf. Terimakasih Tuhan Yesus memberkati

 

Ps. Jimmy Lizardo