Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang pembenci mencium secara berlimpah-limpah.” — Amsal 27:6 (TB)

Kita hidup di tengah masyarakat yang sedang kebingungan membedakan antara kritik dan penghinaan. Di satu sisi, ada orang yang berkata bahwa zaman ini terlalu sensitif, sedikit saja ditegur langsung tersinggung. Di sisi lain, ada pula yang berkata bahwa sekarang tidak boleh lagi mengkritik apa pun, karena semua dianggap melukai. Dua sikap ini sama-sama muncul dari kegelisahan, dan sering kali sama-sama jauh dari hikmat firman Tuhan.

Di tengah kebingungan itu, gereja dipanggil bukan untuk ikut berteriak lebih keras, melainkan untuk kembali bertanya: bagaimana Firman Tuhan memandang kritik? Bukan menurut selera zaman, bukan menurut opini pribadi, melainkan menurut hikmat Allah yang kekal.

Firman Tuhan dalam Amsal 27 ayat 6, ayat yang singkat, tetapi sangat dalam maknanya. Firman Tuhan ini berkata: “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang pembenci mencium secara berlimpah-limpah.”

Ayat ini tidak sedang mengajarkan kita untuk menjadi kasar, dan juga tidak sedang mengajarkan kita untuk selalu bersikap lembut. Firman Tuhan sedang mengajar kita untuk melihat lebih dalam daripada bentuk kata-kata, yaitu kepada motif hati di baliknya.

Firman Tuhan memulai dengan kalimat, “Seorang kawan memukul.” Kata “kawan” di sini sangat penting. Alkitab tidak berbicara tentang orang asing, bukan tentang mereka yang hanya menonton dari kejauhan, melainkan tentang seseorang yang memiliki relasi. Kritik yang Alkitab bicarakan selalu diasumsikan terjadi dalam konteks hubungan, keterlibatan, dan tanggung jawab. Tanpa relasi, kritik hampir selalu kehilangan kasih dan berubah menjadi penghinaan.

Kemudian firman Tuhan memakai kata yang cukup keras: “memukul”. Ini adalah gambaran luka. Teguran yang sejati memang sering kali melukai perasaan dan mengguncang kenyamanan. Firman Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa kebenaran akan selalu terasa menyenangkan. Bahkan Ibrani mengatakan bahwa Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk dan memulihkan.

Namun, firman Tuhan tidak berhenti di kata “memukul”. Firman Tuhan menambahkan frasa yang menjadi pusat dari seluruh ayat ini, yaitu “dengan maksud baik”. Inilah kunci yang membedakan kritik yang menyelamatkan dari kritik yang mematikan. Bukan keras atau lembutnya perkataan kita yang menentukan nilainya, tetapi tujuan dan motivasi yang menggerakkannya. Kritik yang lahir dari kasih selalu mengarah pada pemulihan, bukan sekadar pelampiasan emosi atau keinginan untuk merasa benar.

Firman Tuhan kemudian memberikan kontras yang mengejutkan: “tetapi seorang pembenci mencium secara berlimpah-limpah.” Alkitab tidak mengatakan bahwa pembenci memukul, melainkan mencium. Ini adalah gambaran kasih palsu. Ada kelembutan yang sebenarnya tidak menyelamatkan, ada keramahan yang justru membiarkan dosa tetap tinggal. Diam demi damai palsu, atau menyenangkan orang demi kenyamanan diri sendiri, dalam terang firman Tuhan, bukanlah kasih yang sejati.

Jadi, kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang kritik di tengah masyarakat kita hari ini. Tidak semua yang disebut kritik adalah kritik menurut Alkitab. Terutama ketika kritik berubah menjadi penghinaan, ejekan, atau body shaming. Body shaming bukanlah kritik moral. Ia tidak menyasar dosa, tidak membuka jalan pertobatan, dan tidak membawa pemulihan. Ia merendahkan martabat manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dengan lidah yang sama kita memuji Tuhan dan mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa-Nya. Ini adalah peringatan yang serius. Yesus sendiri tidak pernah mempermalukan tubuh manusia. Ia datang untuk menyembuhkan, memulihkan, dan mengangkat kembali martabat yang jatuh. Oleh karena itu, setiap bentuk perkataan yang merusak martabat manusia tidak dapat dibenarkan atas nama kejujuran atau kritik.

Firman ini juga mengajak kita bercermin ke dalam gereja. Ada kalanya kita memilih diam bukan karena bijaksana, melainkan karena takut konflik. Kita tahu ada yang salah, tetapi kita menahan diri demi kenyamanan. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kasih sejati berani menegur demi kebenaran. Di sisi lain, ada pula kalanya kita berbicara dengan keras bukan karena kasih, melainkan karena ego dan emosi. Itu pun bukan jalan yang benar di hadapan Tuhan.

Amsal 27 ayat 6 menolak kedua sikap ini. Firman Tuhan memanggil kita untuk menjadi sahabat yang sejati: berani berkata benar dengan hati yang hancur, dan mengasihi tanpa berbohong demi damai palsu.

Marilah kita berhenti sejenak. Bukan untuk menilai orang lain, melainkan untuk membiarkan firman ini menguji hati dan lidah kita masing-masing. Mungkin ada perkataan yang perlu kita sesali, atau keberanian yang perlu kita bangun kembali. Biarlah Roh Kudus yang menuntun kita dalam keheningan ini.

“Tuhan, kami datang kepada-Mu sebagai umat yang rindu dibentuk. Ajari kami berkata benar tanpa melukai, dan mengasihi tanpa berbohong. Kuduskan lidah kami, supaya setiap perkataan yang keluar dari mulut kami memuliakan nama-Mu dan membangun sesama kami.”

Ketika kita kembali ke kehidupan sehari-hari, kiranya firman ini menuntun setiap percakapan kita. Biarlah kata-kata kita lebih sering menyelamatkan daripada melukai, lebih sering membangun daripada merobohkan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup dalam hikmat-Nya. Amin.

(JIL120126)

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *